Kapal tersebut dilaporkan hilang kontak saat rombongan melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Kabupaten Pandeglang, Banten, kata Hengki saat berkomunikasi dengan Direktur Utama LKBN ANTARA Benny Siga Butarbutar melalui sambungan telpon di Jakarta, Selasa malam. Namun, kondisi jarak pandang yang terbatas, gelombang tinggi, dan aktivitas erupsi membuat kapal kembali bersandar. Tim juga sudah terpadu dari Basarnas maupun dari Polair, tadi sudah mencari, tapi belum dapat karena dihentikan oleh cuaca gelap, sudah malam hari, menjelang malam hari maupun ombaknya agak besar, angin, dan ada angin kencang," katanya.
Keterangan yang tercatat menyebut Jakarta (ANTARA) – Kepala Kepolisian Daerah Banten Inspektur Jenderal Polisi Hengki mengatakan tim gabungan terus mencari kapal cepat yang membawa rombongan jurnalis, termasuk pewarta foto LKBN ANTARA, yang hilang kontak di Selat Sunda. Hengki mengatakan operasi pencarian dihentikan sementara karena cuaca dan gelombang membahayakan. Sudah mulai melakukan pencarian dari Polair kita bersama Basarnas, sama tim terpadu dari penanggulangan bencana, semua sudah membantu mencari itu," kata Hengki. Kapolda mengatakan keberadaan rombongan belum dapat dipastikan setelah kehilangan kontak. Hengki mengatakan tim sempat melakukan pencarian, tetapi operasi dihentikan menjelang malam karena kondisi cuaca semakin buruk, termasuk gelombang tinggi dan angin kencang.
Data lain dalam laporan menunjukkan Ia juga meminta setiap informasi baru mengenai keberadaan orang yang hilang segera dikoordinasikan agar proses pencarian dapat dilakukan berdasarkan informasi yang akurat. Sementara itu, Direktur Polairud Polda Banten Komisaris Besar Polisi Eko Hartanto mengatakan pencarian akan dilanjutkan pada Rabu (9/9) pagi dengan melibatkan kapal Basarnas dan unsur lainnya. Ia mengatakan kapal Basarnas berukuran panjang sekitar 40 meter digunakan karena lebih memadai untuk mendukung pencarian di tengah kondisi perairan yang masih berisiko. Berdasarkan laporan Kantor SAR Banten, speedboat yang membawa rombongan jurnalis tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Komunikasi terakhir mencatat korban sempat mengirimkan lokasi terkini kepada rekan jurnalis di Lampung pada pukul 14.42 WIB, namun akhirnya hilang kontak pada pukul 15.04 WIB di titik koordinat diduga 6°14'40.52"S dan 105°40'49.48"T.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Pencarian itu melibatkan Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Banten, Korpolairud Baharkam Polri, Basarnas, TNI, serta tim terpadu penanggulangan bencana. Tim masih mengumpulkan informasi untuk memastikan kondisi mereka. Basarnas cari pewarta ANTARA hilang kontak di Selat Sunda Ia menegaskan aparat bersama tim gabungan akan melanjutkan pencarian dengan mempertimbangkan kondisi keselamatan di lapangan. Terpadu dengan tim Basarnas, Polair, Polda, semua bahu-membahu untuk mencari keberadaan mereka," katanya. Kantor SAR Banten mengerahkan KN SAR Tatuka, Rigid Inflatable Boat (RIB) Banten, dilengkapi peralatan SAR air, medis, dan komunikasi bekerja sama dengan Polairud Polda Banten.
Kalau itu, mumpuni untuk melakukan pencarian dan radius," kata Eko. Menurut ia, tim gabungan sebelumnya melakukan pencarian di sekitar delapan mil dari Pantai Carita. Ada erupsi, gelombang juga tinggi," ujarnya. Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan bahwa dalam operasi pencarian sampai Selasa petang pukul 18.15 WIB, tim yang bertugas menjangkau sampai Pulau Krakatau dan Pulau Panjang dengan hasil nihil. Operasi pencarian diagendakan berlanjut pada Rabu (9/9) pagi. Untuk rencana besok tetap nanti kita memperluas area pencarian karena hari ini kita mempelajari rute dari Carita sampai dengan Anak Gunung Krakatau. Data sementara Basarnas mencatat terdapat sedikitnya tujuh orang yang dalam pencarian, di antaranya pewarta foto LKBN ANTARA M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), Donal (pewarta lepas/freelance), serta dua orang lainnya yang masih dalam proses pendataan. Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.













