Pontianak | Pantauan satelit NASA memperlihatkan sebaran titik panas yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Data tersebut membantu menggambarkan lokasi aktivitas termal dalam cakupan wilayah yang luas, termasuk kawasan yang sulit dijangkau melalui pengamatan langsung. Kebakaran di sejumlah wilayah dapat menghasilkan asap yang bergerak mengikuti arah angin dan melintasi batas negara. Karena itu, dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat di Indonesia, tetapi juga dapat memengaruhi negara-negara tetangga, terutama melalui penurunan kualitas udara.
Citra yang menjadi dasar pemantauan ini diperoleh menggunakan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit NOAA-21. VIIRS mengamati permukaan bumi melalui beberapa kanal spektral, termasuk kanal yang dapat membantu mendeteksi anomali panas. Informasi dari instrumen tersebut kemudian ditampilkan sebagai penanda pada peta, sehingga pengguna dapat melihat lokasi yang menunjukkan sinyal termal mencolok. Pengamatan satelit memberi gambaran luas dan konsisten, meskipun tetap perlu dibaca bersama informasi lapangan untuk memahami kondisi kebakaran secara lebih terperinci.
Dalam gambar tersebut, titik-titik merah menandai lokasi yang terdeteksi memiliki jejak panas. Penanda ini dapat menunjukkan kebakaran yang sedang aktif, tetapi juga bisa mengindikasikan bentang lahan yang masih membara setelah api utama berlalu. Dengan demikian, titik merah bukan peta batas kebakaran yang pasti dan tidak selalu menggambarkan ukuran atau tingkat keparahan api. Awan, tutupan vegetasi, waktu lintasan satelit, serta karakteristik permukaan dapat memengaruhi apa yang tertangkap oleh sensor. Data ini berguna sebagai petunjuk awal untuk memantau perubahan dan menentukan wilayah yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Gambar yang dirujuk merekam kondisi pada 16 Oktober 2027. Pada saat informasi tersebut disampaikan, pantauan untuk 17 Oktober belum tersedia di situs Earthdata NASA. Ketiadaan data untuk tanggal berikutnya tidak berarti kebakaran telah berhenti; hal itu hanya menunjukkan bahwa citra atau produk terkait belum dipublikasikan di laman tersebut. Pembaruan berikutnya dapat membantu melihat apakah titik panas bertambah, berkurang, atau berpindah lokasi. Sementara itu, pembacaan yang cermat atas citra 16 Oktober dapat mendukung pemahaman mengenai persebaran aktivitas panas dan potensi jalur asap yang berdampak lintas negara.
Peta pantauan NASA menampilkan indeks aerosol pada panjang gelombang 380 nanometer, dengan data yang juga berasal dari instrumen VIIRS di satelit NOAA-21. Lapisan ini membantu memperlihatkan persebaran partikel di atmosfer, termasuk ketika asap kebakaran hutan dan lahan menyebar melintasi wilayah. Indeks tersebut mendeteksi partikel yang menyerap radiasi ultraviolet, bukan mengukur asap secara langsung dari permukaan. Karena itu, tampilannya memberi petunjuk mengenai keberadaan aerosol di udara, tetapi perlu dibaca bersama informasi lain, seperti citra kebakaran dan kondisi cuaca, untuk memahami situasi secara lebih utuh.
Partikel penyerap ultraviolet yang dapat ditunjukkan oleh indeks ini mencakup debu gurun, abu vulkanik, serta partikel asap. Nilai indeks berkaitan dengan ketebalan lapisan aerosol dan ketinggiannya di atmosfer. Dengan demikian, suatu area yang memiliki nilai tinggi menunjukkan sinyal partikel yang lebih kuat, tetapi tidak serta-merta menjelaskan jenis partikel atau jumlah asap yang tepat di dekat permukaan. Ketinggian lapisan penting karena aerosol yang berada jauh di atas permukaan dapat memengaruhi pembacaan dan dampak yang dirasakan masyarakat secara berbeda dibandingkan polutan yang berada dekat dengan permukaan tanah.
Dalam visualisasi NASA, merah paling pekat menandai asap paling tebal yang terpantau di Kalimantan. Sementara itu, warna kuning dan oranye menunjukkan wilayah di negara lain yang terdeteksi berudara berasap dan mengandung partikel. Indeks aerosol tidak memiliki satuan dan biasanya berada pada rentang 0 hingga 5. Nilai yang lebih tinggi menandakan konsentrasi partikel lebih berat atau sinyal aerosol lebih kuat. Kondisi tersebut dapat mengurangi jarak pandang, terutama ketika partikel terkumpul dalam lapisan yang luas. Paparan partikel juga berpotensi berdampak pada kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan. Peta ini berguna untuk mengenali sebaran, namun bukan pengganti pemantauan kualitas udara di permukaan maupun anjuran kesehatan setempat.
Menurut pemantauan NASA, kondisi yang lebih kering menjadi salah satu faktor yang memperburuk kebakaran hutan dan lahan di wilayah-wilayah terdampak karhutla. Penjelasan ini menempatkan cuaca kering sebagai keadaan yang berkaitan dengan meningkatnya kondisi kebakaran, bukan sebagai keterangan bahwa seluruh wilayah Indonesia mengalami keadaan yang sama. NASA juga menyoroti kekeringan dalam kaitannya dengan kebakaran yang dipantau. Dengan demikian, kondisi lebih kering dan kekeringan disebut sebagai faktor yang membuat situasi kebakaran di wilayah terdampak menjadi lebih buruk. Uraian ini berfokus pada hubungan tersebut sebagaimana disampaikan dalam pemantauan, tanpa menambahkan faktor lain.
Selain kondisi yang lebih kering dan kekeringan, NASA mengaitkan memburuknya kebakaran dengan keterlambatan curah hujan. Hujan yang datang terlambat menjadi bagian dari keadaan yang memperburuk kebakaran di wilayah-wilayah terdampak. Dalam penjelasan itu, keterlambatan curah hujan dikaitkan dengan El Niño. Artinya, El Niño disebut dalam konteks waktu datangnya hujan yang tertunda, sementara keterlambatan hujan tersebut disebut sebagai salah satu keadaan yang berhubungan dengan kebakaran yang memburuk. Hubungan ini perlu dipahami sesuai cakupan keterangan NASA: cuaca lebih kering, kekeringan, serta hujan yang terlambat akibat El Niño disebut bersama sebagai kondisi yang memperburuk kebakaran.
Rangkaian faktor tersebut menggambarkan kondisi cuaca yang diperhatikan NASA saat memantau karhutla. Kondisi lebih kering dan kekeringan menjadi bagian dari gambaran yang disampaikan, sedangkan curah hujan yang terlambat akibat El Niño memberikan konteks tambahan mengenai keadaan yang berkaitan dengan kebakaran. Keterangan ini tidak menyatakan faktor lain di luar tiga hal tersebut. Karena itu, uraian mengenai cuaca kering sebaiknya tetap dibatasi pada hubungan yang dinyatakan: wilayah terdampak mengalami kondisi yang lebih kering, menghadapi kekeringan, dan menerima curah hujan yang terlambat akibat El Niño; keadaan-keadaan itu disebut memperburuk kebakaran. Tidak diperlukan penjelasan tambahan untuk menyampaikan kaitan yang dilaporkan NASA mengenai faktor cuaca tersebut.
Selain pengamatan dari satelit, kondisi atmosfer juga dipantau menggunakan instrumen berbasis darat yang tergabung dalam Aerosol Robotic Network (AERONET). Pengukuran ini memberikan gambaran mengenai jumlah partikel aerosol di udara pada lokasi tertentu. Data AERONET menunjukkan nilai aerosol optical depth (AOD) yang tinggi, terutama di Pontianak, Jambi, dan Singapura. Temuan tersebut membantu memperlihatkan bahwa kabut asap tidak hanya dapat diamati dari atas, tetapi juga tercermin dalam pengukuran atmosfer di permukaan. Pengamatan darat melengkapi pemetaan kebakaran dan asap dengan menyediakan informasi setempat yang dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.
AOD menggambarkan sejauh mana partikel di udara menghambat cahaya saat menembus atmosfer. Dengan kata lain, nilai ini menunjukkan tingkat pengurangan cahaya akibat aerosol di sepanjang lintasannya. Partikel aerosol dapat menghamburkan maupun menyerap sinar matahari. Ketika jumlahnya meningkat, lebih sedikit cahaya yang mencapai permukaan secara langsung, sementara cahaya yang tersebar membuat tampilan langit tampak kusam. Kondisi tersebut juga mengurangi jarak pandang, terutama ketika asap dan partikel terkumpul dalam lapisan udara. Karena itu, AOD menjadi salah satu ukuran yang berguna untuk memahami perubahan kejernihan atmosfer, meskipun bukan pengukuran langsung terhadap jarak pandang di jalan atau tingkat paparan seseorang.
Rentang nilai AOD memberikan konteks tentang kondisi udara. Nilai di bawah 0,1 umumnya menandakan udara bersih: langit terlihat biru cerah, sinar matahari terasa terang, dan jarak pandang mencapai kondisi maksimum.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Perkuat Sinergitas Lintas Sektor dalam Pencegahan Karhutla di Sambas






