Jakarta | Harga BBM nonsubsidi Pertamina pada Minggu, 18 Oktober 2026, masih mengacu pada tarif yang berlaku sejak 2 September 2026. Dengan demikian, tidak ada penyesuaian harga baru untuk Oktober 2026 dalam acuan tersebut. Pengendara yang mengisi BBM pada tanggal ini dapat merujuk pada daftar tarif yang telah ditetapkan pada awal September, sambil memperhatikan jenis produk dan wilayah penjualan. Harga tidak dapat dianggap seragam di seluruh Indonesia, sebab rincian acuan yang digunakan memperhitungkan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen.
Perbedaan harga ant produk berkaitan dengan spesifikasi dan segmentasi masing-masing BBM. Pertamina menyediakan beberapa pilihan nonsubsidi, lain bensin dengan tingkat oktan berbeda serta bahan bakar diesel untuk kendaraan yang sesuai. Karena karakteristik produk dan sasaran penggunaannya tidak sama, tarif setiap jenis BBM juga berbeda. Oleh karena itu, konsumen sebaiknya memastikan nama produk sebelum membandingkan harga, bukan hanya melihat kategori umum seperti bensin atau solar. Rincian yang berlaku dapat membantu memperkirakan biaya pengisian, terutama bagi pengguna kendaraan yang secara rutin memilih produk tertentu.
Perlu pula dicermati bahwa informasi harga biasanya disajikan berdasarkan wilayah atau kelompok wilayah tertentu. PBBKB merupakan salah satu unsur yang dapat memengaruhi harga yang tercantum, sehingga angka pada suatu acuan belum tentu sama dengan tarif di setiap provinsi atau stasiun pengisian. Untuk mengetahui jumlah yang berlaku di lokasi masing-masing, konsumen dapat memeriksa informasi resmi Pertamina atau menanyakan harga kepada SPBU setempat. Pemeriksaan tersebut penting sebelum melakukan perjalanan maupun menyusun anggaran bahan bakar. Selama belum ada pengumuman perubahan, patokan 2 September tetap menjadi dasar informasi harga nonsubsidi pada 18 Oktober 2026.
Harga Pertamax Turbo untuk wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen ditetapkan Rp19.600 per liter. Wilayah yang termasuk dalam kelompok tarif ini lain DKI Jakarta dan daerah sekitarnya. Angka tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan harga sebelumnya, yakni Rp18.300 per liter. Dengan demikian, selisih tarif Pertamax Turbo dalam perbandingan yang tercantum pada sumber adalah Rp1.300 per liter.
Untuk Pertamax Green 95, harga yang tercantum adalah Rp19.150 per liter. Tarif tersebut sebelumnya berada di angka Rp16.600 per liter. Berdasarkan perbandingan dengan tarif lama yang disebutkan dalam sumber, kenaikannya mencapai Rp2.550 per liter. Kedua perubahan ini memperlihatkan penyesuaian harga pada dua produk bensin Pertamina dengan nilai kenaikan yang berbeda.
Angka harga dan selisih tersebut perlu dibaca sesuai cakupan wilayah serta periode pembanding yang dicantumkan. Tarif Pertamax Turbo sebesar Rp19.600 per liter secara khusus merujuk pada wilayah dengan PBBKB 5 persen, termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya. Karena itu, angka tersebut tidak serta-merta mewakili harga di seluruh daerah. Pajak bahan bakar dan pengaturan harga berdasarkan wilayah dapat membuat tarif yang berlaku di lokasi lain berbeda.
Perbandingan dengan harga sebelumnya juga penting untuk menjelaskan besaran perubahan secara tepat. Harga lama Pertamax Turbo yang digunakan sebagai pembanding adalah Rp18.300 per liter, sedangkan harga lama Pertamax Green 95 adalah Rp16.600 per liter. Keduanya merupakan tarif sebelumnya sebagaimana tercantum dalam sumber, bukan perkiraan atau proyeksi. Pembaca yang hendak mengisi bahan bakar sebaiknya tetap memeriksa informasi harga terbaru dari kanal resmi Pertamina atau stasiun pengisian setempat, terutama jika berada di luar wilayah yang disebutkan. Dengan memperhatikan jenis produk dan lokasi, konsumen dapat membandingkan biaya pengisian secara lebih akurat sebelum menentukan pilihan bahan bakar untuk kendaraannya.
Dexlite tercatat mengalami kenaikan harga menjadi Rp23.700 per liter. Sebelumnya, produk bahan bakar diesel ini dijual dengan tarif Rp19.700 per liter. Dengan demikian, terdapat selisih sebesar Rp4.000 per liter dibandingkan harga sebelumnya. Perubahan tersebut menjadi salah satu penyesuaian tarif yang perlu diperhatikan konsumen saat merencanakan pembelian BBM pada 18 Oktober 2026. Informasi harga ini menunjukkan tarif Dexlite terbaru sebagaimana tercantum dalam rincian harga Pertamina untuk tanggal tersebut.
Pertamina Dex juga mengalami kenaikan. Harganya kini mencapai Rp25.200 per liter, dari sebelumnya Rp21.150 per liter. Selisih tarif lama dan tarif terbaru adalah Rp4.050 per liter. Dibandingkan Dexlite, Pertamina Dex memiliki harga per liter yang lebih tinggi, baik sebelum maupun setelah perubahan tarif. Angka-angka tersebut memberikan gambaran langsung mengenai besaran perubahan pada masing-masing produk diesel tanpa mencampurkan keduanya dalam satu nominal.
Untuk melihat perubahan secara ringkas, Dexlite naik dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Perbandingan ini dapat membantu konsumen membedakan harga terkini dan tarif sebelumnya saat meninjau kebutuhan pengisian kendaraan. Selisih Rp4.000 untuk Dexlite dan Rp4.050 untuk Pertamina Dex dihitung dari pengurangan harga terdahulu terhadap harga terbaru yang disebutkan. Kedua produk sama-sama mengalami kenaikan, tetapi besaran rupiah penyesuaiannya tidak persis sama. Data tersebut juga memperlihatkan bahwa harga baru Pertamina Dex berada Rp1.500 per liter di atas Dexlite. Seluruh angka dinyatakan per liter agar mudah dibandingkan dan tidak tertukar dengan total biaya pembelian. Konsumen yang memperkirakan pengeluaran dapat mengalikan harga per liter dengan volume pengisian yang dibutuhkan, dengan tetap mengacu pada tarif yang berlaku pada tanggal pembelian. Rincian ini berfokus pada perubahan harga kedua produk dan tidak menyertakan penjelasan mengenai penyebab kenaikan.
Sejumlah produk BBM Pertamina tercatat tidak mengalami perubahan harga pada 18 Oktober 2026. Pertamax tetap dijual Rp15.950 per liter, sementara Pertalite dipasarkan dengan harga Rp10.000 per liter dan Bio Solar Rp6.800 per liter. Rincian ini menunjukkan bahwa tarif ketiga produk tersebut masih sama dengan harga sebelumnya. Meski sama-sama tersedia bagi konsumen, Pertamax memiliki status berbeda dari dua produk lainnya. Karena itu, penyebutan harga perlu disertai pembedaan yang jelas BBM nonsubsidi dan BBM subsidi agar pembaca tidak menganggap seluruh produk tersebut berada dalam kategori yang sama.
Pertamax merupakan produk nonsubsidi, dengan harga Rp15.950 per liter yang tetap berlaku pada tanggal tersebut. Sementara itu, Pertalite dan Bio Solar termasuk BBM subsidi. Harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter, sedangkan Bio Solar berada di angka Rp6.800 per liter. Ketiganya tidak mengalami penyesuaian dalam rincian harga yang disampaikan. Perbedaan status ini penting diperhatikan saat membandingkan harga ant produk: label subsidi berlaku untuk Pertalite dan Bio Solar, bukan Pertamax. Dengan informasi tersebut, konsumen dapat mengenali tarif tiap produk sekaligus memahami klasifikasi yang menyertainya tanpa mencampuradukkan kebijakan harga untuk produk nonsubsidi dengan produk bersubsidi.
Pertamina menyatakan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat sebelum melakukan penyesuaian harga BBM. Keterangan ini memberi konteks mengenai pertimbangan perusahaan, namun tidak berarti setiap produk harus mengalami perubahan pada waktu yang sama. Pada 18 Oktober 2026, harga yang dirinci untuk Pertamax, Pertalite, dan Bio Solar tetap seperti sebelumnya. Dengan demikian, acuan per liternya masing-masing adalah Rp15.950 untuk Pertamax nonsubsidi, Rp10.000 untuk Pertalite subsidi, serta Rp6.800 untuk Bio Solar subsidi.
Baca juga: Kenaikan Harga Emas Antam dan Rincian Terbaru | Perubahan Layanan KRL Jakarta yang Mengundang Pertanyaan | Variasi Harga Emas Perhiasan di Jakarta pada 14 September 2026






