Kajian DEN: MBG Berpotensi Menekan Absensi, tetapi Penyalurannya Belum Merata

Kajian DEN: MBG Berpotensi Menekan Absensi, tetapi Penyalurannya Belum Merata

Jakarta | Kajian Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat adanya perbedaan pola kehadiran siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) dan siswa yang belum menerima program tersebut. Secara umum, penerima MBG cenderung lebih jarang absen dari sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa program berpotensi berkaitan dengan kehadiran yang lebih baik, meskipun hasil kajian tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa MBG menjadi penyebab langsung perubahan absensi. Kehadiran siswa juga dapat dipengaruhi faktor lain, seperti kondisi keluarga, kesehatan, jarak ke sekolah, serta situasi belajar.

Perbedaan yang tampak besar ditemukan pada desil 1, yaitu kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Di kelompok ini, siswa miskin yang tidak memperoleh MBG lebih sering tidak masuk sekolah dibandingkan siswa yang menerima program. Pola tersebut penting dicermati karena hambatan kehadiran dapat lebih berat bagi keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Dukungan berupa makanan bergizi di sekolah mungkin relevan bagi keseharian siswa, tetapi kajian ini sebaiknya dibaca sebagai gambaran hubungan yang teramati, bukan kepastian bahwa bantuan tersebut mengatasi seluruh penyebab ketidakhadiran.

Kajian DEN juga menunjukkan bahwa penurunan absensi tampak semakin besar di sekolah dengan intensitas penerimaan MBG yang lebih tinggi. Dengan kata lain, sekolah yang menjangkau lebih banyak siswa melalui program memperlihatkan pola penurunan ketidakhadiran yang lebih menonjol. Temuan ini memberi petunjuk bahwa cakupan program patut diperhatikan ketika menilai potensi manfaat MBG terhadap partisipasi siswa. Namun, hubungan intensitas penerimaan dan absensi tetap perlu ditafsirkan secara hati-hati, karena perbedaan karakteristik sekolah maupun wilayah dapat turut berperan. Pemantauan lanjutan, data kehadiran yang konsisten, serta evaluasi terhadap kelompok penerima dan nonpenerima dapat membantu memperjelas pola tersebut. Untuk saat ini, kajian tersebut memberi indikasi bahwa MBG berpotensi mendukung kehadiran, terutama bagi siswa dari keluarga paling rentan, sekaligus menegaskan pentingnya pemerataan penyaluran agar manfaat program dapat dijangkau lebih luas.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochammad Firman Hidayat menyampaikan temuan kajian mengenai potensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam mendukung pendidikan dan kesejahteraan siswa. Studi tersebut dikerjakan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) serta sejumlah lembaga lain. Kolaborasi ini menjadi dasar pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menilai pengalaman siswa di sekolah, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan belajar dan kondisi mereka selama mengikuti pembelajaran. Firman memaparkan hasil kajian itu di Istana Merdeka pada Selasa malam, 20 Oktober 2026. Dalam pemaparan tersebut, temuan disampaikan sebagai hasil analisis atas data yang dihimpun secara nasional, bukan semata-mata gambaran dari satu wilayah atau kelompok sekolah tertentu. Cakupan luas itu membantu menempatkan hasil kajian dalam konteks pelaksanaan program di berbagai daerah di Indonesia.

Pengumpulan informasi dilakukan melalui modul khusus yang dimasukkan ke dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Pelaksanaan modul tersebut dimulai pada September 2025 dan mencakup seluruh Indonesia. Dengan memanfaatkan Susenas, kajian dapat mengamati keadaan siswa melalui instrumen survei yang menjangkau wilayah secara nasional. Modul khusus itu memungkinkan pertanyaan yang relevan dengan MBG dan kegiatan belajar dicatat secara lebih terarah. BPS berperan dalam kerja bersama tersebut, sementara keterlibatan sejumlah lembaga lain melengkapi proses kajian. Informasi yang dikumpulkan kemudian menjadi bahan untuk menilai sejumlah indikator, sehingga pembahasan tidak hanya berpusat pada tersedianya makanan. Pendekatan ini juga memberi ruang untuk melihat keterkaitan pengalaman siswa dengan aktivitas pendidikan dan aspek kesejahteraan yang tercermin dalam jawaban survei. Namun, uraian mengenai cakupan pengumpulan data tidak dengan sendirinya menjelaskan besaran dampak program; hal itu perlu dibaca sesuai hasil analisis yang dipaparkan.

Indikator yang ditelaah mencakup absensi atau ketidakhadiran siswa, semangat belajar, serta rasa lapar ketika mereka mengikuti kegiatan belajar. Ketiga hal tersebut memberi sudut pandang yang berbeda: kehadiran menggambarkan keterlibatan siswa di sekolah, semangat belajar berkaitan dengan pengalaman mereka dalam proses pendidikan, sedangkan rasa lapar menunjukkan kondisi yang dapat dialami selama pembelajaran berlangsung. Dengan menilai beberapa indikator sekaligus, kajian berupaya menggambarkan lebih luas kemungkinan hubungan MBG dengan keseharian siswa. Fokus pada indikator tersebut juga menjadi konteks bagi penilaian potensi program dalam menekan absensi, sebagaimana tercermin dalam judul kajian, tanpa mengabaikan aspek penyaluran yang belum merata. Hasil yang disampaikan Firman karena itu perlu dipahami bersama cakupan survei, waktu pelaksanaannya, serta indikator yang digunakan. Rincian tersebut membantu pembaca memahami bagaimana temuan disusun dan batas konteks yang menyertainya.Temuan kajian DEN menunjukkan bahwa penerimaan Makan Bergizi Gratis (MBG) berkaitan dengan meningkatnya semangat belajar siswa. Namun, laporan tersebut juga menekankan bahwa manfaat yang dirasakan tidak hanya terkait dengan keberadaan program, melainkan turut berhubungan dengan kualitas makanan yang diterima. Dengan demikian, pengalaman siswa terhadap menu menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika menilai dampak MBG di lingkungan sekolah.

Firman menyampaikan bahwa 95 persen siswa penerima MBG menyatakan semangat belajar mereka lebih tinggi saat menu yang diterima dinilai sangat baik. Sebaliknya, ketika mutu makanan dinilai buruk, persentase siswa yang melaporkan peningkatan semangat belajar turun cukup tajam. Perbedaan ini mengindikasikan adanya hubungan penilaian siswa terhadap makanan dan dorongan mereka untuk mengikuti kegiatan belajar. Angka tersebut menggambarkan laporan siswa, bukan ukuran langsung atas capaian akademik atau bukti bahwa makanan menjadi satu-satunya faktor yang memengaruhi semangat belajar.

Karena itu, perhatian terhadap kualitas menu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Firman menyampaikan rekomendasi kepada Presiden agar mutu makanan yang disalurkan diperhatikan. Menurutnya, kualitas menu berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar siswa. Makanan yang dinilai baik dapat berkaitan dengan kondisi siswa yang lebih mendukung untuk belajar, sedangkan mutu yang dipersepsikan buruk berhubungan dengan penurunan laporan peningkatan semangat. Rekomendasi ini menempatkan pengalaman penerima sebagai pertimbangan dalam memastikan program berjalan sesuai tujuan. Pengawasan kualitas secara konsisten juga dapat membantu pelaksana mengenali persoalan yang dialami siswa dan menindaklanjutinya. Pada saat yang sama, temuan tersebut perlu dibaca secara hati-hati: hubungan yang dilaporkan tidak dengan sendirinya membuktikan sebab-akibat, dan tidak tersedia rincian tambahan untuk mengukur mutu menu. Namun, pola respons siswa memberi alasan bagi pengelola program untuk menaruh perhatian serius pada kualitas makanan, bukan hanya pada penyalurannya. Dengan menjaga mutu, MBG diharapkan lebih mampu mendukung kenyamanan siswa dan kesiapan mereka mengikuti pelajaran di sekolah.

Catatan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengenai pemerataan penerima menunjukkan bahwa penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) masih belum menjangkau seluruh kelompok secara seimbang. Berdasarkan data hingga September, distribusi program tercatat lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan. Kondisi ini menjadi perhatian karena kebutuhan dukungan gizi bagi siswa tidak hanya terdapat di kota, tetapi juga di daerah yang akses terhadap layanan dan sumber daya pendukungnya dapat lebih terbatas.

Ketimpangan juga terlihat jika penerima dikelompokkan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Penerima dari keluarga kaya masih lebih banyak dibandingkan siswa dari keluarga miskin. Temuan tersebut menandakan bahwa cakupan program belum sepenuhnya mencerminkan prioritas bagi kelompok yang paling membutuhkan. Pemerataan bukan hanya persoalan memperluas jumlah penerima, melainkan juga memastikan bantuan hadir di lokasi dan pada kelompok sasaran yang tepat.

Firman mendorong agar prioritas penyaluran diperbaiki sehingga kelompok yang selama ini berisiko tertinggal memperoleh perhatian lebih besar.