Jakarta | Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji integrasi kamera pengawas atau CCTV berbasis kecerdasan buatan di sekitar 70 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang dikenal sebagai dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Uji coba ini menjadi salah satu langkah untuk memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan program, terutama di lokasi yang menyiapkan dan menyediakan makanan bagi penerima manfaat. Melalui pemantauan yang terhubung, BGN berupaya memperoleh gambaran lebih baik mengenai kegiatan operasional dapur.
Kepala BGN Sudaryono menyampaikan informasi mengenai uji coba tersebut dalam paparannya di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (19/10). Ia menjelaskan bahwa penerapan teknologi itu masih berada dalam tahap pengujian dan mencakup sekitar 70 SPPG. Dengan demikian, penggunaan CCTV berbasis AI belum dapat dipahami sebagai penerapan menyeluruh di seluruh dapur MBG. Tahap awal ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana sistem bekerja di lingkungan pelayanan gizi sebelum langkah berikutnya ditentukan.
Integrasi kecerdasan buatan pada CCTV ditujukan untuk mendukung pemantauan, bukan sekadar menambah jumlah kamera di lokasi. Sistem tersebut diharapkan membantu proses pengawasan kegiatan di dapur secara lebih terstruktur, sehingga pelaksanaan program dapat diperhatikan dengan dukungan teknologi. Pengujian di sejumlah SPPG juga memungkinkan BGN menilai kesesuaian sistem dengan kebutuhan operasional di lapangan. Namun, keterangan yang disampaikan belum merinci fitur AI yang diuji, jenis aktivitas yang dianalisis, ataupun mekanisme tindak lanjut atas hasil pemantauan.
Informasi mengenai uji coba ini menegaskan bahwa pengawasan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan MBG. Dapur SPPG menjalankan peran langsung dalam layanan pemenuhan gizi, sehingga pemantauan operasional dapat membantu menjaga perhatian terhadap pelaksanaan program. Cakupan sekitar 70 lokasi menunjukkan bahwa pengujian dilakukan pada sejumlah dapur, sementara hasilnya dapat menjadi bahan evaluasi bagi BGN. Pada tahap ini, fokus utamanya adalah menguji integrasi CCTV berbasis AI sebagai sarana pendukung pengawasan, dengan keputusan mengenai penerapan lebih luas bergantung pada perkembangan dan evaluasi uji coba tersebut.
Rekaman dari kamera pengawas yang terhubung ke pusat pemantauan direncanakan untuk membantu mengawasi pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sistem ini, teknologi kecerdasan buatan (AI) akan membantu mengolah dan meninjau rekaman, sehingga proses kerja di sejumlah dapur dapat diperiksa secara lebih terstruktur. Pemantauan tersebut bukan hanya berfokus pada satu tahap produksi, melainkan mencakup berbagai kegiatan yang berpengaruh terhadap keamanan dan mutu makanan.
Area pengawasan meliputi pengelolaan bahan, persiapan makanan, hingga pencucian ompreng atau wadah makan. Perilaku karyawan saat bekerja juga menjadi bagian yang diamati, termasuk apakah mereka mengikuti tata cara yang sudah ditetapkan. Salah satu hal yang diperhatikan adalah lokasi persiapan makanan: kegiatan itu perlu berlangsung di tempat yang semestinya, sesuai ketentuan operasional dapur. Dengan cakupan tersebut, rekaman diharapkan memberikan gambaran tentang penerapan SOP dalam kegiatan sehari-hari, bukan sekadar dokumentasi umum.
Sudaryono menerangkan bahwa pemantauan melalui rekaman dan bantuan AI ditujukan untuk melihat kesesuaian kegiatan dapur dengan prosedur yang berlaku. Apabila ada indikasi kegiatan yang tidak sesuai, temuan itu dapat menjadi bahan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak terkait. Sistem ini diharapkan membantu menunjukkan bagian proses yang perlu ditinjau, sehingga pengelola dapat mengevaluasi praktik kerja dan mengambil langkah perbaikan. Penggunaan teknologi tersebut tidak dengan sendirinya memastikan setiap pelanggaran terdeteksi; hasil pengawasan tetap perlu ditelaah dan ditindaklanjuti secara tepat.
Dengan demikian, fungsi utama pemantauan terpusat adalah mendukung pengawasan yang konsisten terhadap proses pengolahan dan penanganan makanan di dapur MBG. Informasi dari rekaman dapat membantu mengarahkan perhatian pada aspek yang berpotensi tidak sesuai, mulai dari kebersihan peralatan hingga kepatuhan karyawan terhadap tata kerja. BGN berharap dukungan ini memudahkan identifikasi dugaan pelanggaran SOP dan mempercepat evaluasi, agar perbaikan dapat dilakukan berdasarkan kondisi yang terlihat. Pendekatan tersebut menempatkan AI sebagai alat bantu pengawasan, sementara penilaian dan tindak lanjut tetap berada pada pihak yang berwenang.
Dapur-dapur MBG yang menjadi sasaran uji coba pengawasan melalui CCTV pada dasarnya telah memiliki kamera terpasang. Namun, rekaman dari perangkat tersebut belum dimanfaatkan oleh pihak internal Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mendukung pemantauan. Kondisi ini menjadi dasar pendekatan yang sedang disiapkan: menghubungkan kamera yang tersedia agar rekamannya dapat digunakan, bukan mengadakan perangkat baru secara besar-besaran. Dengan demikian, perhatian diarahkan pada pemanfaatan sarana yang sudah ada di lokasi dapur.
Usai rapat koordinasi, Sudaryono menjelaskan bahwa langkah yang dibahas berfokus pada koneksi terhadap CCTV yang telah terpasang di dapur-dapur tersebut. Penjelasan itu menegaskan bahwa uji coba ini tidak dimulai dengan pemasangan kamera baru secara menyeluruh. Sebaliknya, perangkat yang ada hendak dihubungkan sehingga BGN dapat mengakses rekaman untuk kepentingan pengawasan. Keterangan mengenai pendekatan tersebut memberikan gambaran mengenai prioritas pelaksanaan, sekaligus membedakan upaya ini dari pengadaan perangkat dalam skala besar.
Pendekatan menggunakan kamera yang sudah tersedia juga membuat fokus pembahasan berada pada keterhubungan dan pemanfaatan rekaman, bukan pada penambahan perangkat. Untuk dapur yang sudah memiliki CCTV, langkah berikutnya adalah memastikan rekaman dapat dimanfaatkan oleh pihak internal BGN. Informasi yang disampaikan tidak merinci aspek teknis koneksi maupun biaya, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat diasumsikan sebagai bagian dari rencana. Penjelasan Sudaryono setelah rapat koordinasi tetap terbatas pada arah upaya yang sedang dilakukan, yaitu menghubungkan kamera yang ada.
Uji coba pada 70 dapur MBG tersebut menunjukkan bahwa pengawasan melalui CCTV dapat dimulai dengan meninjau sarana yang telah tersedia di lokasi. Rekaman yang sebelumnya belum dimanfaatkan internal BGN berpotensi menjadi bahan pemantauan setelah kamera terhubung. Namun, penyebutan potensi itu tidak berarti bahwa seluruh rekaman sudah dapat diakses atau bahwa sistem telah berjalan penuh. Informasi yang ada hanya menyebut upaya menghubungkan perangkat terpasang sebagai langkah yang tengah ditempuh. Dengan fokus demikian, BGN mengutamakan penggunaan fasilitas yang ada di dapur sasaran, sembari tidak menyatakan adanya pengadaan besar-besaran atau rincian implementasi lain yang belum disampaikan.Akses terhadap rekaman CCTV di dapur MBG berpotensi dibuka secara terbatas kepada pihak-pihak tertentu. Skema ini dapat membantu pengawasan, tetapi penerapannya tetap perlu mempertimbangkan keamanan dan perlindungan informasi. Pengaturan mengenai siapa yang dapat melihat rekaman, dalam kondisi apa akses diberikan, serta bagaimana rekaman digunakan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Karena itu, keterbukaan tidak harus berarti rekaman dapat diakses tanpa batas oleh semua orang. Mekanisme yang jelas dapat menjaga fungsi pengawasan sekaligus mengurangi risiko penyalahgunaan atau terganggunya keamanan dapur.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut kepala sekolah, guru, dan orang tua siswa sebagai contoh pihak yang mungkin diberi akses terbatas. Kelompok tersebut dinilai memiliki kepentingan dalam memastikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai ketentuan. Sudaryono juga menyatakan dukungannya terhadap keterbukaan informasi dan partisipasi publik dalam mengawasi MBG. Pelibatan pihak yang berkaitan langsung dengan penerima manfaat dapat menjadi bagian dari kontrol sosial, selama akses dilakukan dengan memperhatikan ketentuan keamanan. Dengan demikian, informasi yang tersedia dapat membantu pemantauan tanpa mengabaikan kebutuhan perlindungan operasional.
Integrasi CCTV berfungsi sebagai pelengkap pengawasan, terutama untuk memantau kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan pelaksanaan program di dapur. Rekaman dapat memberi gambaran mengenai proses kerja, sementara pengawasan juga dapat ditunjang oleh informasi lain yang relevan.
Baca juga: Strategi Pertamina dalam Pengawasan BBM Subsidi | Langkah Pertamina dalam Pengawasan Distribusi BBM Subsidi | Jelang HUT ke-81 TNI, Puspom TNI Perkuat Kesiapan Pengamanan Wallakir






