ITS Rancang Kompetisi Tenis Amatir Berjenjang dengan Poin dan Pemeringkatan

ITS Rancang Kompetisi Tenis Amatir Berjenjang dengan Poin dan Pemeringkatan

Jakarta | Indonesian Tennis Society (ITS), ekosistem kompetisi tenis amatir yang dikembangkan CX Pro Indonesia, diperkenalkan dalam CX Indonesia Fest 2026 di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober. Inisiatif ini dirancang untuk memberikan struktur yang lebih jelas bagi pemain amatir yang ingin berkompetisi secara teratur. Melalui ITS, penyelenggara menghadirkan rangkaian turnamen dengan sistem yang menghubungkan hasil pertandingan, tingkat kemampuan peserta, dan perjalanan kompetisi mereka. Peluncuran tersebut menjadi bagian dari upaya CX Pro Indonesia membangun pengalaman tenis yang tidak berhenti pada satu acara, tetapi mendorong pemain untuk terus terlibat dalam kegiatan berikutnya.

Unsur utama sistem ITS adalah pengelompokan turnamen berdasarkan kemampuan pemain. Pembagian ini membantu peserta bertanding dengan lawan yang lebih sesuai, sehingga kompetisi dapat berlangsung lebih seimbang dan relevan bagi berbagai tingkat pengalaman. Setiap turnamen juga menjadi kesempatan bagi pemain untuk mengumpulkan poin berdasarkan partisipasi dan capaian pertandingan. Poin tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu dasar pemeringkatan pemain. Informasi kompetisi dan peringkat dikelola melalui platform digital, sehingga pemain dapat mengikuti perkembangan hasil mereka dalam satu ekosistem. Dengan mekanisme tersebut, performa di lapangan memperoleh kesinambungan dan dapat tercatat dari satu kompetisi ke kompetisi lainnya.

Rancangan berjenjang ini ditujukan untuk menjaga keterlibatan peserta dalam jangka panjang. Pemain dapat melihat perkembangan peringkat, menetapkan sasaran, lalu memilih turnamen berikutnya sesuai kemampuan dan minat. Dengan demikian, satu pertandingan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian yang memberi alasan bagi peserta untuk kembali bermain. Sistem poin dan pemeringkatan juga menghadirkan gambaran tentang progres, tanpa menghilangkan sifat amatir dan sosial dari kegiatan tenis. Pendiri CX Pro Indonesia, Donny Widyanto, menegaskan bahwa ITS bukan sekadar turnamen, melainkan produk CX mereka. Pernyataan itu mencerminkan pendekatan perusahaan yang memandang ITS sebagai layanan dan pengalaman terintegrasi, bukan hanya penyelenggaraan pertandingan. Melalui kombinasi kompetisi bertingkat, pencatatan poin, dan platform digital, ITS berupaya membangun jalur partisipasi yang lebih konsisten bagi komunitas tenis amatir di Indonesia.

Dalam rancangan kompetisi tenis amatir ITS, peserta dibagi ke dalam enam kategori kemampuan. Susunannya dimulai dari beginner, upper beginner, intermediate, upper intermediate, advanced, hingga upper advanced. Pembagian ini menyediakan jenjang yang dapat mengakomodasi pemain dengan tingkat kemampuan berbeda, dari peserta pemula sampai pemain yang lebih berpengalaman. Dengan demikian, kompetisi tidak menempatkan seluruh peserta dalam satu kelompok tanpa membedakan kemampuan mereka. Setiap kategori menjadi ruang bagi pemain yang memiliki kapasitas bermain relatif berdekatan. Struktur bertingkat tersebut juga membuat rancangan kompetisi lebih mudah dipahami oleh calon peserta, karena mereka dapat melihat bahwa turnamen dirancang untuk berbagai tingkat pemain amatir, bukan hanya satu kelompok kemampuan.

Pengelompokan tersebut dimaksudkan agar pemain menghadapi lawan yang kemampuannya relatif setara. Ketika peserta bertanding dengan pemain pada tingkat yang berdekatan, pertandingan diharapkan berlangsung lebih seimbang dan kompetitif. Para pemain memiliki kesempatan untuk menguji kemampuan mereka dalam situasi yang sesuai dengan tingkat permainan masing-masing, tanpa harus menghadapi rentang kemampuan yang terlalu jauh. Keseimbangan ini penting bagi pengalaman bertanding: pertandingan dapat terasa lebih menantang, sementara setiap peserta tetap memiliki ruang untuk menunjukkan permainan terbaiknya. Enam kategori itu menyediakan kerangka umum untuk mempertemukan peserta berdasarkan tingkat kemampuan, sehingga kompetisi dapat melayani kebutuhan pemain amatir dengan latar permainan yang beragam.

Keberadaan kategori beginner, upper beginner, intermediate, upper intermediate, advanced, dan upper advanced juga memberi gambaran bahwa kompetisi ini tidak semata-mata berorientasi pada pemain berkemampuan tinggi. Peserta pada jenjang awal maupun tingkat lebih lanjut sama-sama menjadi bagian dari rancangan turnamen. Dengan mempertemukan pemain yang relatif setara, penyelenggaraan kompetisi dapat menghadirkan pengalaman bertanding yang lebih relevan bagi setiap kelompok. Pendekatan ini mendukung suasana pertandingan yang kompetitif sekaligus memberi peserta kesempatan untuk mengukur kemampuan melalui pertandingan melawan lawan yang sepadan. Pembagian enam tingkat tersebut menjadi dasar pengelompokan peserta dalam kompetisi tenis amatir ITS, tanpa mengubah tujuan utamanya: menyediakan pertandingan yang lebih seimbang bagi pemain dengan tingkat kemampuan yang beragam.

Dalam kompetisi tenis amatir berjenjang yang dirancang ITS, sistem poin memiliki dua fungsi berbeda: ranking points dan redeem points. Ranking points menjadi dasar pemeringkatan pemain dan tim berdasarkan hasil pertandingan yang mereka ikuti. Poin ini juga berperan dalam proses kenaikan level, sehingga perkembangan kemampuan peserta dapat tercermin secara bertahap. Dengan mekanisme tersebut, kemenangan dalam satu turnamen bukan sekadar hasil sesaat, melainkan bagian dari catatan kompetitif yang membantu menentukan posisi dan jenjang pemain berikutnya.

Redeem points memiliki kegunaan yang berbeda. Poin ini dapat dikumpulkan peserta dan ditukarkan dengan produk yang disediakan oleh mitra penyelenggara. Kehadiran manfaat tersebut memberi nilai tambahan atas partisipasi, tanpa mencampuradukkan penghargaan dengan penilaian performa. Pemisahan fungsi poin membuat sistem lebih mudah dipahami: ranking points berkaitan dengan capaian dan pemeringkatan, sedangkan redeem points terkait dengan penukaran apresiasi. Peserta dapat mengikuti kompetisi dengan mengetahui bagaimana hasil pertandingan maupun partisipasi mereka dicatat dan dimanfaatkan.

Hasil kompetisi serta pemeringkatan pemain maupun tim dirancang terintegrasi dalam platform digital ITS. Melalui platform tersebut, peserta dapat memantau perkembangan mereka di setiap turnamen yang diikuti, melihat perubahan posisi, dan memahami akumulasi poin dari waktu ke waktu. Informasi yang tersusun dalam satu sistem juga membantu menjaga kesinambungan data ketika pemain berpartisipasi dalam beberapa ajang. Dengan demikian, pemantauan tidak bergantung hanya pada pengumuman setelah pertandingan atau ingatan terhadap hasil sebelumnya.

Integrasi ini mendukung tujuan penyelenggara untuk membangun kompetisi yang berkelanjutan. Turnamen tidak berhenti begitu pemenang ditentukan, sebab hasilnya menjadi bagian dari perjalanan pemain dalam sistem berjenjang. Peserta memiliki alasan untuk kembali berlatih dan berkompetisi, sementara penyelenggara dapat mengembangkan rangkaian kegiatan dengan acuan pemeringkatan yang konsisten. Perbedaan kedua jenis poin, disertai akses digital terhadap catatan pertandingan, membentuk pengalaman yang lebih terarah. Setiap turnamen dapat menjadi kesempatan untuk mengukur kemajuan, memperbaiki performa, dan melanjutkan partisipasi pada level yang sesuai. Pada akhirnya, mekanisme tersebut menghubungkan kompetisi, apresiasi, dan perkembangan pemain dalam satu ekosistem tenis amatir yang terus berjalan.

Menurut Donny, pengembangan ITS berangkat dari sejumlah persoalan yang dirasakan dalam komunitas tenis amatir. Salah satunya adalah belum adanya kesinambungan perjalanan kompetisi. Pemain dapat mengikuti turnamen, tetapi pengalaman tersebut belum tentu terhubung dengan kesempatan bertanding berikutnya atau perkembangan yang dapat mereka pantau. Akibatnya, partisipasi dalam satu ajang sering kali berdiri sendiri, alih-alih menjadi bagian dari perjalanan olahraga yang lebih terarah. ITS dirancang untuk menjawab kebutuhan itu dengan menghubungkan kompetisi dalam suatu rangkaian, sehingga pemain memiliki jalur untuk terus terlibat.

Persoalan lain adalah ketimpangan kemampuan antarpeserta. Ketika pemain dengan tingkat keterampilan berbeda bertemu tanpa pengelompokan atau pemetaan yang memadai, pengalaman bertanding dapat terasa kurang seimbang. Sistem poin dan pemeringkatan di ITS diharapkan memberi gambaran mengenai posisi serta perkembangan pemain, sekaligus membantu menciptakan kompetisi yang lebih sesuai. Donny juga menyoroti terbatasnya penghargaan terhadap partisipasi pemain amatir. Nilai sebuah kompetisi tidak hanya terletak pada kemenangan; kehadiran, usaha, dan keterlibatan pemain pun patut mendapat pengakuan. Gagasan Donny, “every role moves you forward”, menegaskan bahwa setiap bentuk kontribusi dapat menjadi bagian dari kemajuan.

Bagi Donny, ITS juga merupakan langkah awal untuk menerapkan prinsip serupa pada cabang olahraga lain.

Baca juga: Panglima TNI Kunjungi Kompetisi Primarox 2026 Piala Panglima TNI di BSD

191 kunjungan