Jakarta | Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI mengajak pelajar membangun jejaring pertemanan dan komunikasi lintas negara sejak usia sekolah. Ajakan tersebut disampaikan melalui International Zakat Education Festival (IZE Fest) 2026, yang menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda agar kelak mampu berperan sebagai agen perubahan. Melalui kegiatan ini, pelajar didorong untuk tidak membatasi pergaulan pada lingkungan sekolah atau daerah masing-masing, tetapi mulai mengenal teman sebaya dari latar belakang yang lebih beragam.
Pimpinan Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan Baznas RI, Idy Muzayyad, menilai interaksi dengan peserta dari berbagai tempat dapat memberikan manfaat penting bagi pelajar. Kesempatan berkomunikasi dengan teman sebaya maupun pelajar yang lebih senior dari negara, kota, budaya, dan suku yang berbeda dinilai dapat memperluas wawasan. Pertukaran pengalaman dan cara pandang juga memberi ruang bagi peserta untuk memahami kehidupan serta kebiasaan yang mungkin berbeda dari lingkungan sehari-hari mereka.
Menurut Idy, jejaring semacam itu tidak hanya menambah kenalan, tetapi juga membuka kesempatan untuk belajar melalui pengalaman orang lain. Pelajar dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi, mendengarkan, dan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki latar belakang beragam. Pengalaman tersebut berpotensi membantu mereka melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas, sekaligus menumbuhkan sikap terbuka terhadap perbedaan. Karena itu, membangun hubungan lintas wilayah dan negara sejak dini menjadi salah satu bekal dalam menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan yang semakin terhubung.
IZE Fest 2026 menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk memulai proses tersebut. Dengan terlibat dalam kegiatan yang mempertemukan peserta dari beragam latar, mereka dapat memperluas jaringan komunikasi sekaligus memperoleh pengalaman baru. Dorongan Baznas ini sejalan dengan harapan agar pelajar tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki wawasan dan kesiapan untuk berkontribusi bagi masyarakat. Jejaring yang dibangun sejak usia sekolah dapat menjadi modal untuk bertukar gagasan, menjaga komunikasi, dan mengembangkan kolaborasi pada masa mendatang sebagai bagian dari perjalanan menjadi agen perubahan.
Idy menyebut ada tiga bekal penting yang dapat mendukung perkembangan pelajar, yakni membangun jaringan, meningkatkan ilmu pengetahuan, dan mengumpulkan pengalaman. Ketiganya saling melengkapi dalam membantu anak muda mengenali potensi diri sekaligus membuka kesempatan untuk berkembang. Jejaring yang baik memberi ruang bagi pelajar untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara produktif dengan teman sebaya maupun orang-orang dari latar belakang berbeda. Dari hubungan tersebut, mereka dapat bertukar gagasan, saling belajar, dan menemukan perspektif baru. Karena itu, memperluas pergaulan bukan semata-mata menambah kenalan, melainkan juga membangun hubungan yang mendorong pertumbuhan bersama.
Bekal berikutnya adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui komitmen belajar. Pelajar perlu menjaga rasa ingin tahu, tekun menyerap informasi, dan terus mengembangkan pemahaman, baik melalui pendidikan formal maupun kegiatan di luar kelas. Pengetahuan menjadi landasan untuk menilai peluang, mengambil keputusan, serta berkontribusi dalam lingkungan sosial. Sementara itu, pengalaman tumbuh ketika seseorang bersedia terlibat, menghadapi tantangan, dan mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan. Setiap kegiatan baru dapat memberi pelajaran praktis yang tidak selalu diperoleh dari membaca atau mendengar penjelasan saja. Dengan demikian, belajar memperkaya wawasan, sedangkan mencoba memberi kesempatan untuk menerapkan dan menguji pengetahuan tersebut.
Menurut Idy, jejaring, belajar, dan pengalaman berkaitan erat dalam proses perkembangan generasi muda. Jaringan memperluas ruang komunikasi dan interaksi antarpelajar, sehingga dapat membuka jalan bagi kolaborasi maupun pertukaran pengetahuan. Komitmen belajar membantu mereka memahami hal baru, sementara keberanian mencoba membuat pemahaman itu berkembang menjadi pengalaman nyata. Idy juga mengimbau anak muda agar tidak takut mencoba dan tidak segan mengikuti kegiatan baru. Sikap terbuka tersebut dapat membantu pelajar menemukan minat, mengasah kemampuan, serta belajar menghadapi situasi yang berbeda. Tidak semua percobaan harus langsung berhasil; prosesnya sendiri dapat memberi pelajaran berharga. Dengan aktif membangun hubungan, tekun belajar, dan berani mengambil kesempatan, pelajar memiliki bekal yang lebih luas untuk bertumbuh, berpartisipasi, serta menjalin hubungan yang bermanfaat dengan sesama.
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid berharap IZE Fest 2026 menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan memahami zakat secara lebih dekat. Festival ini diharapkan membuka kesempatan bagi pelajar untuk mempelajari zakat, bukan hanya sebagai kewajiban keagamaan, tetapi juga sebagai nilai yang berkaitan dengan kepedulian sosial. Melalui ruang edukasi seperti ini, generasi muda dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai makna dan peran zakat dalam kehidupan masyarakat.
Sodik juga menyampaikan harapan agar festival tersebut mendorong lahirnya inovasi melalui pemanfaatan teknologi. Bagi generasi muda, teknologi dapat menjadi sarana untuk mengembangkan gagasan dan pendekatan baru dalam memahami maupun mengelola zakat. Karena itu, IZE Fest diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengenalan, melainkan turut memberi ruang bagi pelajar untuk mengeksplorasi ide. Harapan ini menempatkan pendidikan, teknologi, dan zakat sebagai hal yang dapat dibicarakan bersama dalam kegiatan festival.
Dalam menjelaskan tujuan pendidikan berbasis zakat, Sodik menekankan pentingnya melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu, tangguh dalam moral, serta kuat dalam kepedulian sosial. Ketiga unsur tersebut menggambarkan arah pendidikan yang ingin dibangun: mendorong penguasaan pengetahuan, memperkuat karakter, dan menumbuhkan perhatian kepada sesama. Pemahaman zakat dapat menjadi bagian dari proses pendidikan tersebut, sehingga pelajar mengenali nilai-nilai yang menyertainya sekaligus memahami kaitannya dengan tanggung jawab sosial.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar turut mengajak generasi muda untuk menjadi agen perubahan. Ia mendorong mereka membawa nilai zakat yang inklusif, berkeadilan, dan membawa rahmat bagi semesta. Ajakan ini memberi penekanan pada peran anak muda dalam meneruskan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan. Dengan demikian, IZE Fest menjadi kesempatan untuk mengangkat pembelajaran zakat sekaligus membuka percakapan mengenai inovasi dan kontribusi generasi muda. Harapan para pemimpin tersebut berpadu pada pentingnya pemahaman, pengembangan gagasan, dan kepedulian sosial sebagai bagian dari pendidikan generasi muda.
IZE Fest 2026 diselenggarakan oleh Sekolah Cendekia Baznas (SCB) pada 5–19 Oktober 2026. Pelaksanaannya memadukan format luring dan daring, sehingga festival ini dapat diikuti peserta dari beragam wilayah. Selama rentang waktu tersebut, kegiatan dan kompetisi dirancang untuk menghadirkan ruang belajar sekaligus pengalaman berjejaring bagi pelajar.
Festival ini diikuti sekitar 1.500 peserta tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Mereka berasal dari berbagai sekolah di Indonesia maupun mancanegara. Cakupan peserta tersebut menunjukkan bahwa IZE Fest 2026 terbuka bagi pelajar dengan latar sekolah dan wilayah yang beragam. Melalui pertemuan dalam rangkaian kegiatan, peserta dapat berinteraksi dengan sesama pelajar, mengikuti tantangan, dan mengenal topik zakat melalui pendekatan edukatif.
Rangkaian kegiatan mencakup Olimpiade Zakat dan Matematika (OZAM), spelling bee, story telling, speech competition, petanque, pramuka, ZEST (Zona Edukasi Siswa Terampil), serta seminar edukasi zakat. Ragam agenda itu menghadirkan beberapa bentuk partisipasi, mulai dari kompetisi akademik dan bahasa hingga kegiatan keterampilan, olahraga, kepramukaan, dan edukasi. Seminar edukasi zakat turut memberi ruang untuk mengenal zakat sebagai salah satu tema utama festival.
Daftar kegiatan tersebut menggambarkan luasnya cakupan IZE Fest 2026, tanpa membatasi festival pada satu jenis kompetisi atau pengalaman belajar saja. Peserta dapat mengikuti agenda yang sesuai dengan minat dan jenjang mereka, sementara format luring dan daring mendukung keterlibatan dari berbagai sekolah di dalam dan luar negeri.
Baca juga: Sambut HUT TNI Ke-81, Kodim Bojonegoro bersama Polkes bekali Ratusan Pelajar Jurus Penyelamat ‘AMAN–CPR’ | Apresiasi Pemda Unggul di Sulawesi 2026: Dorong Inovasi dan Layanan Publik






