Survei DEN-BPS Soroti Ketimpangan Penerima Program Makan Bergizi Gratis

Survei DEN-BPS Soroti Ketimpangan Penerima Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta | Survei Dewan Ekonomi Nasional (DEN) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga September 2026 masih lebih banyak berada di wilayah perkotaan dibandingkan wilayah pedesaan. Temuan ini menggambarkan bahwa jangkauan program belum tersebar secara merata menurut karakteristik wilayah. Perbedaan tersebut menjadi perhatian karena MBG dirancang untuk menjangkau kelompok sasaran di berbagai daerah, termasuk masyarakat yang tinggal jauh dari pusat layanan dan fasilitas umum.

Data survei juga memperlihatkan bahwa penerima di kawasan pedesaan, termasuk daerah yang lebih terpencil, masih lebih sedikit dibandingkan penerima di kota. Pola ini penting dicermati dalam menilai pelaksanaan program, sebab jarak, akses transportasi, ketersediaan fasilitas, dan kondisi geografis dapat memengaruhi proses penyaluran. Namun, temuan yang disampaikan tersebut berfokus pada perbedaan persebaran penerima; data itu sendiri tidak serta-merta menjelaskan penyebab ketimpangan ataupun mengukur kecukupan gizi yang diterima setiap penerima. Karena itu, angka survei dapat menjadi dasar untuk melihat bagian mana dari jangkauan program yang perlu dipantau lebih lanjut.

Jajaran DEN menyampaikan hasil survei tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Anggota DEN M. Firman Hidayat menjelaskan bahwa pola distribusi yang terlihat dalam data menunjukkan penerima MBG masih lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Keterangan itu menegaskan adanya perbedaan cakupan di kota dan di desa, termasuk kawasan yang lebih sulit dijangkau. Penyampaian hasil kepada Presiden memberi ruang bagi temuan tersebut untuk menjadi bahan perhatian dalam pembahasan pelaksanaan program. Secara umum, survei DEN-BPS menyoroti bahwa pemerataan akses tetap menjadi aspek penting ketika pemerintah memantau jangkauan MBG. Perkembangan data selanjutnya dapat membantu menunjukkan apakah kesenjangan wilayah menyempit atau masih bertahan, tanpa mengabaikan kondisi lokal yang beragam.

Temuan survei DEN-BPS memperlihatkan bahwa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih banyak berasal dari kalangan siswa yang berasal dari keluarga mampu. Sebaliknya, siswa dari keluarga miskin, yang lebih membutuhkan dukungan untuk memenuhi asupan gizi, tercatat menerima program dalam jumlah lebih sedikit. Gambaran ini menyoroti adanya ketimpangan profil penerima program dan kebutuhan kelompok yang menjadi perhatian utama dalam penyediaan bantuan gizi.

Perbedaan tersebut penting dicermati karena MBG ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi siswa. Ketika penerima lebih banyak berasal dari keluarga yang mampu, sementara siswa dari keluarga miskin belum memperoleh jangkauan yang sebanding, manfaat program belum sepenuhnya terarah kepada kelompok yang paling membutuhkan. Temuan DEN ini tidak berarti bahwa siswa dari keluarga mampu tidak dapat menerima manfaat, tetapi menunjukkan bahwa distribusi penerima belum mencerminkan tingkat kebutuhan secara merata.

Dengan demikian, hasil survei memberi gambaran mengenai siapa yang saat ini lebih banyak tercakup dalam pelaksanaan MBG. Siswa dari keluarga miskin menghadapi kebutuhan dukungan asupan gizi yang lebih besar, sehingga keterbatasan jangkauan terhadap kelompok tersebut menjadi hal yang perlu diperhatikan. Data yang disampaikan DEN menegaskan bahwa keberadaan program saja belum cukup untuk memastikan bantuan sampai kepada sasaran yang paling membutuhkan. Kesesuaian penerima dan kelompok prioritas merupakan aspek penting dalam menilai pelaksanaan program.

Temuan ini menunjukkan bahwa penyaluran MBG belum sepenuhnya menjangkau siswa dari keluarga miskin secara proporsional dibandingkan siswa dari keluarga mampu. Karena itu, informasi mengenai komposisi penerima perlu menjadi bahan evaluasi dalam melihat ketepatan sasaran program, tanpa mengabaikan tujuan pemberian makanan bergizi kepada siswa secara luas. Fokus pada kelompok yang lebih membutuhkan dapat membantu memastikan dukungan gizi menjangkau mereka yang memiliki kebutuhan lebih besar. Survei DEN-BPS dengan demikian menegaskan adanya kesenjangan jangkauan yang perlu dicermati sebagai bagian dari penilaian atas pelaksanaan MBG, terutama terkait pemerataan manfaat bagi siswa dari latar belakang ekonomi berbeda.

Firman menilai pemerataan manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu menjadi perhatian dalam perbaikan penyaluran program. Distribusi, menurutnya, sebaiknya memberi prioritas lebih besar kepada masyarakat miskin, terutama anak-anak dari keluarga yang paling membutuhkan. Dengan sasaran yang lebih terarah, bantuan diharapkan menjangkau kelompok yang menghadapi keterbatasan akses terhadap pangan bergizi, sekaligus mengurangi ketimpangan penerima antarkelompok sosial. Prioritas ini penting agar program tidak hanya tersalurkan secara luas, tetapi juga memberikan dukungan yang lebih kuat kepada mereka yang paling rentan.

Perhatian serupa perlu diberikan kepada wilayah pedesaan, daerah terpencil, serta kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Tantangan geografis dan keterbatasan layanan dapat membuat anak-anak di wilayah tersebut lebih sulit memperoleh makanan bergizi secara rutin. Karena itu, perbaikan distribusi perlu mempertimbangkan kondisi setempat, termasuk jangkauan layanan dan kebutuhan masyarakat. Usulan untuk memprioritaskan wilayah tersebut sejalan dengan temuan survei DEN-BPS mengenai manfaat program bagi kehadiran siswa. Hasil survei mencatat bahwa siswa penerima MBG lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima program.

Perbedaan kehadiran itu terlihat cukup besar pada desil 1, yakni kelompok rumah tangga termiskin. Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat program bagi kehadiran dapat terasa lebih kuat pada anak-anak yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi paling terbatas. Survei juga mencatat peningkatan kehadiran di penerima dari keluarga miskin dan kurang mampu. Dengan demikian, penajaman sasaran bukan semata-mata persoalan pemerataan bantuan, melainkan juga dapat mendukung keteraturan siswa mengikuti kegiatan belajar. Data tersebut memberi dasar untuk menempatkan kelompok rentan dan wilayah yang sulit dijangkau sebagai prioritas dalam evaluasi penyaluran. Pada saat yang sama, hasil survei perlu dibaca sebagai gambaran hubungan penerimaan program dan kehadiran, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pemantauan berkala tetap diperlukan untuk menilai jangkauan, konsistensi layanan, serta manfaat MBG bagi berbagai kelompok siswa dan daerah.

Survei DEN-BPS yang sama juga mencatat adanya peningkatan semangat belajar di kalangan siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan tersebut disampaikan Firman dengan menyoroti hubungan penilaian siswa terhadap menu yang diterima dan semangat mereka untuk belajar. Dalam paparan itu, kualitas menu menjadi alasan utama yang dikaitkan dengan peningkatan semangat belajar. Dengan demikian, catatan survei tidak hanya memuat informasi tentang penerimaan program, tetapi juga tanggapan siswa terhadap makanan yang disediakan dan kaitannya dengan kegiatan belajar mereka.

Angka yang disampaikan menunjukkan bahwa ketika menu MBG dinilai baik, 95 persen siswa penerima mengaku semangat belajarnya lebih tinggi. Persentase tersebut merujuk pada siswa yang menerima program dan memberikan penilaian baik terhadap menu, sebagaimana dijelaskan dalam temuan Firman. Artinya, kualitas menu menjadi titik penting dalam hubungan yang dicatat survei: penilaian yang baik terhadap makanan berjalan seiring dengan pengakuan atas semangat belajar yang meningkat. Angka 95 persen ini menggambarkan tanggapan siswa dalam konteks tersebut, bukan ukuran yang dapat dilepaskan dari penilaian mereka terhadap menu.

Temuan itu perlu disampaikan sesuai batas informasi yang tersedia. Survei mencatat pengakuan siswa penerima MBG mengenai semangat belajar yang lebih tinggi, khususnya ketika menu yang diberikan dinilai baik. Karena itu, hasil tersebut menunjukkan kaitan berdasarkan jawaban yang dilaporkan, tanpa perlu diperluas menjadi kesimpulan lain tentang dampak program di luar temuan tersebut. Firman menempatkan kualitas menu sebagai alasan utama peningkatan yang tercatat, sementara angka 95 persen memberikan gambaran tentang besarnya bagian siswa dalam kelompok yang disebutkan yang mengaku mengalami semangat belajar lebih tinggi.

Baca juga: TNI Sediakan 30.000 Porsi Makan Gratis Untuk Masyarakat Di Monas