JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 akan diselenggarakan pada 6–7 Oktober 2026 di Jakarta. Forum ini dirancang sebagai ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan yang memiliki peran penting dalam membentuk arah pembangunan berkelanjutan. Pemimpin perusahaan, investor, pembuat kebijakan, akademisi, dan organisasi internasional akan dipertemukan untuk membahas tantangan serta peluang yang berkaitan dengan keberlanjutan dan ketahanan di tingkat global.
Penyelenggaraan ISF 2026 berlangsung dalam konteks dinamika global yang terus berkembang. Perubahan kondisi ekonomi, lingkungan, dan sosial menuntut pendekatan yang mampu menjaga kesinambungan pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan. Karena itu, forum ini menjadi wadah untuk mempertemukan perspektif yang beragam dari dunia usaha, pemerintahan, investasi, pendidikan, serta kerja sama internasional. Interaksi antarpemangku kepentingan diharapkan dapat memperkaya pembahasan mengenai langkah-langkah yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Tema ISF 2026 adalah “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World”. Tema tersebut menegaskan keterkaitan investasi, ketahanan, keberlanjutan, dan kemakmuran. Investasi dipandang sebagai salah satu unsur penting untuk mendorong pembangunan yang dapat bertahan menghadapi perubahan, tanpa mengabaikan kebutuhan generasi mendatang. Melalui tema ini, ISF 2026 akan membahas bagaimana upaya pertumbuhan berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan penguatan ketahanan di tengah dinamika global. Pertemuan di Jakarta tersebut menempatkan keberlanjutan sebagai perhatian bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan sudut pandang yang saling melengkapi.
Ketua Pelaksana ISF 2026, Rachmat Kaimuddin, menilai bahwa menjaga konsistensi agenda keberlanjutan menjadi semakin penting ketika arah dan dinamika global terus mengalami perubahan. Perubahan tersebut membuat berbagai negara perlu tetap memiliki keteguhan dalam menjalankan komitmen yang telah ditetapkan, termasuk Indonesia. Bagi Indonesia, keberlanjutan tidak dapat ditempatkan sebagai agenda yang hanya mengikuti situasi, melainkan perlu dipertahankan sebagai bagian dari arah pembangunan.
Tantangan utama yang dihadapi adalah mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus mendorong peralihan menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan. Kedua tujuan tersebut perlu berjalan secara bersamaan. Pertumbuhan tetap dibutuhkan untuk menjaga kemajuan ekonomi, sementara peralihan menuju ekonomi berkelanjutan diperlukan agar proses pembangunan memiliki arah yang lebih bertanggung jawab dalam menghadapi perubahan global.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan menuntut kesinambungan, bukan sekadar respons terhadap perubahan jangka pendek. Saat lingkungan global bergerak dinamis, Indonesia perlu menjaga agar upaya mendorong pertumbuhan tidak mengesampingkan kebutuhan untuk membangun pola ekonomi yang lebih berkelanjutan. Pada saat yang sama, agenda keberlanjutan juga perlu ditempatkan dalam kerangka yang mampu mendukung keberlanjutan momentum pertumbuhan.
Karena itu, tantangan Indonesia terletak pada kemampuan untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan dan transformasi ekonomi. Konsistensi menjadi dasar penting agar perubahan arah global tidak mengurangi perhatian terhadap keberlanjutan. Dalam pandangan Rachmat, upaya tersebut perlu terus didorong sebagai bagian dari perjalanan Indonesia menghadapi dinamika global, dengan tetap mempertahankan laju pertumbuhan dan memperkuat peralihan menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
ISF 2026 dapat berfungsi sebagai ruang dialog yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan pembangunan. Pertemuan lintas sektor ini memberi kesempatan kepada setiap pihak untuk menyampaikan pengalaman, memaparkan praktik yang telah diterapkan, serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam menjalankan agenda pembangunan berkelanjutan. Dengan perspektif yang beragam, pembahasan diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga membuka pemahaman yang lebih utuh mengenai kebutuhan dan kapasitas masing-masing pihak.
Ruang pertukaran tersebut menjadi penting karena tantangan pembangunan semakin saling berkaitan. Perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, perkembangan teknologi, kebutuhan energi, hingga kesenjangan akses dapat memengaruhi kebijakan dan keputusan investasi secara bersamaan. Pemerintah memiliki peran dalam menciptakan kepastian regulasi, sementara pelaku usaha dan investor membawa pengalaman operasional, kemampuan pembiayaan, serta kapasitas untuk mengembangkan solusi. Interaksi di mereka dapat membantu menguji gagasan dari berbagai sudut pandang sebelum diterapkan secara lebih luas.
Rachmat Kaimuddin memandang kolaborasi semacam ini sebagai unsur penting bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika global. Menurut pandangan tersebut, kerja sama yang melibatkan banyak pihak dapat mendorong inovasi karena pengetahuan, teknologi, dan sumber daya tidak berjalan secara terpisah. Kolaborasi juga berpotensi memperkuat daya saing melalui pengembangan model bisnis, kebijakan, dan infrastruktur yang lebih responsif terhadap perubahan. Proses ini memerlukan komunikasi yang terbuka serta kemauan untuk menyelaraskan kepentingan jangka pendek dengan kebutuhan pembangunan jangka panjang.
Melalui diskusi dan pertukaran pengalaman, para peserta dapat mengeksplorasi pendekatan yang relevan untuk memperluas investasi berkualitas, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat ketahanan sektor-sektor strategis. Forum ini juga menyediakan ruang untuk membahas tantangan implementasi, termasuk kesiapan sumber daya manusia, pembiayaan, koordinasi kebijakan, dan pengukuran dampak. Pembahasan yang inklusif dapat membantu merumuskan arah kerja sama yang lebih realistis, sekaligus mendorong terciptanya pertumbuhan yang berkelanjutan dan tangguh dalam jangka panjang.
Rangkaian ISF 2026 dalam bahan sumber memperlihatkan adanya dua fokus pembahasan utama. Penyebutan kedua fokus tersebut menjadi gambaran awal mengenai arah agenda forum, meskipun informasi yang tersedia belum menjelaskan keseluruhan struktur kegiatan, pembicara, maupun bentuk sesi yang akan berlangsung. Oleh karena itu, uraian mengenai fokus pembahasan perlu mengikuti batas informasi yang tercantum, tanpa menambahkan rincian yang belum disampaikan.
Fokus pertama berjudul “Powering Low-Carbon Growth”. Topik ini dijadwalkan untuk dibahas pada hari pertama ISF 2026. Berdasarkan judulnya, fokus tersebut disebut dalam konteks agenda forum, tetapi bahan yang tersedia tidak memuat penjelasan lebih lanjut mengenai materi, pendekatan, narasumber, atau hasil yang diharapkan dari pembahasannya. Informasi yang dapat ditegaskan pada bagian ini terbatas pada nama fokus dan waktu pelaksanaannya, yaitu hari pertama rangkaian ISF 2026.
Fokus kedua hanya disebut dengan judul “Enabling a Resilient”. Bahan sumber berhenti pada bagian tersebut sehingga kelanjutan judulnya tidak tersedia. Penjelasan mengenai tema, pokok bahasan, jadwal, serta bentuk agenda yang berkaitan dengan fokus kedua juga tidak tercantum. Dengan kondisi itu, judul tersebut perlu dipertahankan sebagaimana adanya, tanpa melengkapinya berdasarkan dugaan atau menghubungkannya dengan materi tertentu yang tidak disebutkan.
Kedua fokus ini menunjukkan bahwa ISF 2026 memuat lebih dari satu ranah pembahasan, tetapi bahan sumber yang tersedia baru memberikan keterangan terbatas. Informasi yang telah disebutkan mencakup fokus pertama, “Powering Low-Carbon Growth”, yang dijadwalkan pada hari pertama, serta penyebutan awal fokus kedua, “Enabling a Resilient”. Detail lanjutan mengenai fokus kedua masih belum tersedia dalam sumber, sehingga pembaca sebaiknya memahami bagian ini sebagai pengantar atas agenda yang informasinya belum lengkap.







