Kota Solo | Ratusan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (BEM UNS) menggelar unjuk rasa di Bundaran Gladag, Solo, pada Kamis petang, 22 Oktober 2026. Di tengah berlangsungnya aksi, Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko hadir langsung dan membaur dengan para mahasiswa. Kehadirannya menjadi bagian yang menonjol dalam peristiwa tersebut, karena ia tidak hanya memantau dari kejauhan, tetapi berada di tengah peserta demonstrasi.
Suasana di lokasi disebut berbeda dari gambaran demonstrasi yang kerap berlangsung tegang. Tidak tampak jarak yang memisahkan aparat dan mahasiswa, begitu pula barikade yang biasanya menjadi pembatas di kedua pihak. Condro berada dekat dengan peserta aksi, menciptakan suasana interaksi yang lebih terbuka. Pendekatan itu memperlihatkan bahwa kehadiran polisi di tengah unjuk rasa tidak selalu harus ditandai dengan formasi pengamanan yang kaku.
Kapolresta yang akrab disapa Mbah Con itu juga mengajak mahasiswa bercanda. Sikap santai tersebut memberi warna tersendiri dalam pertemuan aparat kepolisian dan peserta aksi. Di tengah penyampaian aspirasi, percakapan ringan dapat mencairkan suasana dan membantu membangun komunikasi langsung. Momen itu sekaligus menunjukkan bentuk pendekatan yang mengedepankan kedekatan personal, tanpa menghilangkan keberadaan polisi dalam mengawal kegiatan.
Pemandangan di Bundaran Gladag tersebut menempatkan dialog dan interaksi sebagai bagian dari pengelolaan demonstrasi. Ketika pimpinan kepolisian bersedia hadir dan berbaur, hubungan dengan mahasiswa dapat berlangsung lebih setara dibandingkan komunikasi yang hanya dilakukan dari balik barikade. Kehadiran langsung juga memberi kesempatan bagi aparat untuk melihat situasi aksi dari dekat serta merespons dinamika di lapangan secara terbuka.
Aksi BEM UNS itu berlangsung di ruang publik pusat Kota Solo, dengan ratusan mahasiswa berkumpul untuk menyampaikan aspirasi. Dalam konteks tersebut, sikap Condro yang hadir di tengah peserta menjadi sorotan karena menghadirkan suasana yang lebih cair. Gambaran tanpa jarak dan tanpa barikade, disertai candaan Mbah Con, membedakan momen ini dari demonstrasi yang biasanya identik dengan ketegangan pengunjuk rasa dan aparat. Pendekatan humanis itu tampak melalui cara polisi membangun kedekatan langsung dengan mahasiswa di lokasi aksi.
Setelah mahasiswa UNS cukup lama berorasi dan mulai merasa haus, personel Polresta Surakarta terlihat mondar-mandir membagikan air mineral. Mereka membawa air untuk diberikan kepada mahasiswa yang membutuhkan, sehingga kebutuhan sederhana di tengah berlangsungnya aksi itu mendapat perhatian. Pemandangan tersebut menjadi bagian dari interaksi polisi dan mahasiswa, bukan sekadar kegiatan yang berlangsung terpisah dari jalannya unjuk rasa. Pembagian dilakukan sambil personel bergerak di area aksi, menghampiri mahasiswa, lalu menyerahkan air mineral kepada mereka.
Interaksi itu berlangsung dengan suasana santai. Personel yang membagikan air tidak hanya hadir sebagai pihak yang menjalankan tugas, tetapi juga berkomunikasi secara wajar dengan mahasiswa. Sikap yang cair tersebut membuat momen pembagian air terasa dekat dan tidak kaku. Mahasiswa menerima air mineral setelah cukup lama menyampaikan orasi, sementara percakapan ringan di mereka menciptakan suasana yang lebih akrab. Dalam rangkaian aksi yang sebelumnya diisi oleh orasi, perhatian sederhana itu menghadirkan jeda yang berbeda.
Ketika air mineral dibagikan dan interaksi berlangsung santai, suasana aksi pun dipenuhi tawa. Tawa itu memperlihatkan perubahan suasana pada momen tersebut: hubungan personel Polresta Surakarta dan mahasiswa tampak lebih cair. Pembagian air bukan hanya membantu mahasiswa yang kehausan, tetapi juga membuka ruang bagi interaksi yang terasa lebih manusiawi. Peristiwa sederhana itu memperlihatkan bahwa perhatian kepada kebutuhan dasar dapat disampaikan melalui tindakan langsung, tanpa harus mengubah jalannya kegiatan yang tengah berlangsung.
Mondar-mandirnya personel untuk membagikan air mineral menjadi gambaran pendekatan humanis dalam perjumpaan tersebut. Mereka hadir, menyadari mahasiswa telah lama berorasi dan merasa haus, lalu memberikan air. Respons yang tampak bukan suasana tegang, melainkan tawa yang muncul selama interaksi santai itu. Dengan demikian, pembagian air mineral menjadi salah satu momen yang menonjol di tengah aksi mahasiswa UNS di Solo. Perhatian sederhana tersebut membuat suasana terasa lebih hangat dan menunjukkan bahwa hubungan di kedua pihak dapat berlangsung secara wajar, melalui kepedulian dan komunikasi yang sederhana.
Dalam pandangan Condro, kehadiran polisi di tengah aksi mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengamankan situasi. Peran aparat, menurut penjelasannya, juga mencakup pelayanan kepada mahasiswa yang menyampaikan aspirasi. Penekanan ini menunjukkan bahwa pendekatan kepolisian tidak hanya berorientasi pada pengendalian keadaan, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan peserta aksi agar dapat menjalankan hak mereka dengan nyaman. Dengan demikian, kehadiran polisi dipahami sebagai dukungan terhadap proses penyampaian pendapat selama aksi berlangsung. Penempatan diri sebagai pelayan menjadi dasar bagi aparat untuk mendampingi demonstrasi, bukan menempatkan mahasiswa semata-mata sebagai pihak yang harus dibatasi.
Condro juga memandang mahasiswa di Solo sebagai kelompok yang dewasa dan mampu menyampaikan aspirasi dengan baik. Penilaian tersebut berkaitan dengan suasana aksi yang berlangsung kondusif, sehingga demonstrasi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengutarakan pandangan secara tertib. Makna pernyataan itu bukan meniadakan fungsi pengamanan, melainkan menegaskan bahwa kemampuan peserta mengelola penyampaian aspirasi patut diakui. Dalam konteks tersebut, polisi hadir untuk memberikan pelayanan yang mendukung jalannya kegiatan. Pandangan ini menempatkan mahasiswa sebagai pihak yang dapat menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, sekaligus menunjukkan bahwa penyampaian aspirasi dapat berlangsung baik dan kondusif.
Bagi Condro, demonstrasi merupakan hak mahasiswa. Karena itu, tugas polisi bukan menghalangi mereka untuk menyampaikan pendapat, melainkan memastikan mereka merasa nyaman saat melakukannya. Pelayanan tersebut menjadi bagian dari kehadiran aparat di lokasi aksi, sejalan dengan pengakuan terhadap hak mahasiswa untuk mengutarakan aspirasi. Mahasiswa dapat menggunakan ruang demonstrasi untuk menyampaikan pandangan, sementara polisi bertugas mendukung agar proses itu berlangsung dengan nyaman. Dengan menempatkan pelayanan sebagai bagian penting dari tugasnya, kepolisian memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi. Pandangan Condro menggarisbawahi bahwa pengamanan dan pelayanan dapat berjalan bersama, dengan perhatian pada kenyamanan mahasiswa serta suasana aksi yang kondusif.
Aksi mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) di depan Balai Kota Solo dan kawasan Bundaran Gladag berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga para peserta membubarkan diri. Selama kegiatan, aparat kepolisian mengawal jalannya unjuk rasa dengan pendekatan yang mengedepankan komunikasi dan suasana humanis. Interaksi yang terbangun di lapangan tidak hanya berupa penyampaian imbauan, tetapi juga diselingi guyonan yang mencairkan suasana.
Di tengah aksi, polisi turut membagikan air mineral kepada mahasiswa. Langkah tersebut menjadi bagian dari pendekatan yang terlihat selama pengamanan, bersama komunikasi yang disampaikan dengan tenang. Aparat dan peserta aksi berada di lokasi yang sama, sementara rangkaian kegiatan berjalan tanpa penggunaan water cannon maupun gas air mata. Tidak ada laporan mengenai penggunaan kedua perangkat tersebut dalam pengamanan aksi ini.
Suasana yang terjaga itu berlangsung di dua titik, yakni di depan Balai Kota Solo dan Bundaran Gladag. Peserta menyampaikan aspirasi, sedangkan polisi melakukan pengawalan dengan cara yang tidak meningkatkan ketegangan di lokasi. Guyonan, pembagian air mineral, serta komunikasi yang menenangkan menjadi gambaran interaksi selama aksi. Informasi mengenai hal-hal tersebut terbatas pada jalannya kegiatan dan pendekatan yang diterapkan aparat di tempat aksi berlangsung.
Hingga kegiatan berakhir, kondisi di sekitar lokasi tetap terkendali. Mahasiswa kemudian membubarkan diri, dan aksi di depan Balai Kota Solo serta Bundaran Gladag dinyatakan berlangsung aman, tertib, dan kondusif sampai selesai.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa UINSA Terhadap Rektor Baru | Kekhawatiran Mahasiswa IPB Terhadap Kehadiran Pria di Pinggir Jalan | Mahasiswa UINSA Tuntut Rektor Mundur Dengan Aksi Penyegelan Kampus






