Jakarta | Komedian sekaligus aktor Aming menceritakan kenakalan yang pernah dilakukannya saat masih kecil ketika ditemui di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (21/10). Kisah tersebut muncul dalam perbincangan mengenai film “Yang Disebut Nakal”, yang mengangkat tema kenakalan dan cara orang memandang perilaku anak. Sebelum menjawab, Aming sempat berpikir sejenak untuk menentukan apakah pengalaman masa kecilnya memang pantas disebut nakal.
Setelah mempertimbangkannya, ia menilai bahwa kenakalan yang pernah dilakukan tergolong biasa. Aming kemudian menyebut dua hal yang pernah ia lakukan, yakni bolos dan mengambil uang SPP. Pengakuan itu disampaikan sebagai bagian dari cerita tentang masa kecilnya, bukan sebagai upaya membenarkan perbuatan tersebut. Ia mengaitkannya dengan pengalaman yang, menurut penilaiannya, masih berada dalam kategori kenakalan yang lazim dilakukan anak-anak.
Respons Boris Bokir membuat penilaian Aming itu menjadi bahan obrolan. Boris mempertanyakan apakah bolos dan mengambil uang SPP benar-benar bisa disebut kenakalan standar. Pertanyaan tersebut menyoroti perbedaan cara seseorang menilai tindakan masa kecil: bagi Aming, pengalamannya terasa biasa, sedangkan Boris melihat ada alasan untuk mempertanyakan apakah tindakan itu memang dapat dianggap ringan atau umum.
Perbedaan tanggapan itu memberi warna pada perbincangan tentang film “Yang Disebut Nakal”. Cerita Aming menghadirkan contoh pengalaman pribadi, sementara respons Boris menunjukkan bahwa batas kenakalan biasa dan tindakan yang lebih serius dapat dipahami secara berbeda. Percakapan tersebut tidak berhenti pada daftar perbuatan yang pernah dilakukan Aming, tetapi juga menyentuh cara orang dewasa mengenang dan menilai perilakunya sendiri saat masih anak-anak. Dengan begitu, pengakuan singkat itu menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai makna kenakalan, sesuai tema film yang sedang mereka bicarakan.
Dalam obrolan mengenai film “Yang Disebut Nakal”, Aming turut membuka cerita tentang kenakalan masa kecilnya. Ia mengaku pernah terlibat tawuran, tetapi segera menjelaskan bahwa perannya bukan sebagai orang yang maju berkelahi. Menurut pengakuannya, ia lebih banyak menjadi pemicu atau provokator. Cerita itu disampaikan dengan gaya ringan dan diselingi gurauan, sehingga pengakuannya terdengar sebagai bagian dari percakapan santai, bukan upaya membanggakan perilaku tersebut.
Untuk menggambarkan posisinya kala itu, Aming menyamakan dirinya dengan Sangkuni, tokoh yang dikenal menghasut dan memengaruhi pihak lain. Perumpamaan tersebut menjadi cara bercanda untuk menjelaskan bahwa ia berada di balik suasana yang memanas, bukan tampil sebagai petarung. Ia mengakui keterlibatannya dalam tawuran, namun sekaligus memberi batas pada ceritanya: yang ia sebutkan adalah peran sebagai provokator. Tidak ada uraian lebih jauh mengenai kejadian tertentu, dan pengakuan itu tidak perlu dibaca sebagai gambaran lengkap tentang peristiwa atau perilakunya pada masa kecil.
Di balik nada jenaka itu, Aming juga menyampaikan pesan agar kenakalan semacam tersebut tidak ditiru. Tawuran dan tindakan memancing orang lain untuk terlibat bukan sesuatu yang patut dijadikan contoh, meskipun kisahnya kini dibagikan sebagai kenangan lama. Gurauan tentang menjadi “Sangkuni” berfungsi menjadikan pengakuan lebih cair, tetapi tidak menghapus pesan yang menyertainya. Ia menceritakan pengalaman tersebut tanpa mengajak orang lain mengulanginya, serta tidak mengembangkan kisah itu menjadi klaim yang lebih luas. Dengan demikian, bagian percakapan ini memperlihatkan perpaduan keterusterangan dan humor: Aming mengakui pernah terlibat tawuran dengan peran sebagai pemicu, lalu mengingatkan bahwa kenakalan itu sebaiknya tidak ditiru. Penyampaiannya tetap sederhana, mengikuti suasana perbincangan tentang masa kecil dan film, tanpa menambahkan rincian tentang apa yang terjadi atau siapa saja yang terlibat.
Film “Yang Disebut Nakal” menjadi latar bagi perbincangan Aming tentang kenakalan masa kecil. Karya drama komedi keluarga produksi DLK Pictures dan Inhype Pictures ini disutradarai Benni Setiawan. Ceritanya berpusat pada sekelompok remaja dengan latar belakang berbeda yang mengikuti program pembinaan selama 21 hari di Bina Laku, sebuah tempat terpencil. Mereka datang membawa persoalan, kebiasaan, dan cara pandang masing-masing. Dalam lingkungan yang jauh dari keseharian, para peserta mesti menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku, sekaligus berhadapan dengan dinamika kelompok yang tidak selalu mudah. Premis tersebut membuka ruang untuk menyampaikan kisah keluarga dan proses tumbuh dewasa melalui perpaduan drama serta komedi.
Di dalam cerita, Aming memerankan Yayat, salah satu pelatih di Bina Laku. Kehadiran Yayat berkaitan dengan program pembinaan yang harus dijalani para remaja, termasuk penerapan disiplin dan tuntutan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka. Peran ini menempatkan Aming di tengah interaksi peserta dan para pelatih, yang menjadi bagian penting dari perjalanan mereka selama 21 hari. Film ini tidak hanya menggambarkan aturan sebagai bentuk pembatasan, tetapi juga menyoroti pengalaman yang muncul ketika para remaja belajar hidup bersama. Mereka perlu menghadapi perbedaan, membangun pertemanan, dan memahami dampak pilihan masing-masing dalam suasana yang asing.
Seiring program berlangsung, para peserta juga bersentuhan dengan pengalaman yang lebih emosional, seperti kehilangan, rasa malu, dan persoalan keluarga. Beragam hal tersebut membuat pembinaan di Bina Laku lebih dari sekadar rangkaian kegiatan untuk mengubah perilaku. Masa tinggal mereka menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri dan melihat keadaan orang lain dengan lebih terbuka. Dalam konteks itulah peran Yayat menjadi bagian dari kisah tentang proses belajar, meski film tetap bertumpu pada pengalaman para remaja sebagai kelompok utama. Perpaduan humor dan drama keluarga memberi ruang bagi cerita untuk membahas label “nakal” tanpa melepaskan sisi ringan maupun persoalan yang dihadapi para tokohnya. Latar pembinaan yang terpencil turut mempertemukan mereka dengan tantangan yang tidak dapat dihindari begitu saja.
Setelah membedah karakter dan naskah bersama para pemain lain, Aming mengajak publik melihat kembali arti label “nakal” yang kerap dilekatkan kepada anak atau remaja. Menurutnya, sebutan tersebut tidak selalu menggambarkan sifat buruk ataupun keinginan untuk membuat masalah. Anak yang disebut nakal, pada dasarnya, bisa jadi sedang mengalami kebingungan dan belum mampu memahami atau menyampaikan apa yang ia rasakan. Perilaku yang tampak mengganggu pun dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang belum dimengerti, baik oleh anak itu sendiri maupun oleh orang-orang di sekitarnya. Pandangan ini memberi ruang untuk memahami mereka dengan lebih sabar, bukan sekadar menghakimi.
Pemikiran Aming sejalan dengan semangat film “Yang Disebut Nakal”, yang menghadirkan remaja dari latar belakang dan pengalaman berbeda. Perbedaan itu membuat setiap tokoh membawa cara pandang, persoalan, serta respons masing-masing ketika berhadapan dengan lingkungan dan teman sebaya. Film ini tidak menempatkan mereka dalam satu gambaran yang seragam, melainkan memperlihatkan bahwa setiap remaja memiliki cerita yang patut didengar. Dengan demikian, istilah “nakal” menjadi pintu untuk bertanya lebih jauh tentang keadaan yang membentuk perilaku seseorang. Kisah para tokohnya mendorong penonton untuk melihat melampaui kesan pertama dan memberi kesempatan kepada anak muda untuk menjelaskan diri mereka.
Executive producer Inhype Pictures, Ryan Prasetyo, juga menyoroti pentingnya keragaman karakter dan cara pandang dalam film tersebut. Menurutnya, variasi itu menghadirkan dinamika yang menghibur, sekaligus membuka kesempatan bagi tokoh-tokohnya untuk saling mengenal. Dalam proses itu, mereka dapat memahami pengalaman satu sama lain dan memperlihatkan sisi manusiawi yang mungkin tak terlihat pada awalnya. Perjumpaan antartokoh memperkaya cerita tanpa menghapus perbedaan di mereka. Pada akhirnya, pandangan Aming dan pendekatan film ini sama-sama mengingatkan bahwa perilaku yang mudah diberi label sering memiliki latar yang lebih rumit.
Baca juga: Polres Tuban Selidiki Aduan Dugaan Investasi MCI, Y Disebut Belum Hadiri Panggilan






