Jakarta | Kebutuhan energi perlu menjadi bagian dari perencanaan sejak tahap awal pembangunan pusat data berskala besar, terutama fasilitas yang dirancang untuk mendukung kecerdasan buatan. Infrastruktur AI membutuhkan kapasitas komputasi tinggi dan operasi yang berkelanjutan, sehingga permintaan listriknya dapat jauh lebih besar dibandingkan fasilitas biasa. Karena itu, pengembang tidak cukup hanya menyiapkan lahan, jaringan, dan perangkat teknologi. Ketersediaan pasokan daya juga perlu dihitung sebagai unsur utama kelayakan proyek, bukan diperlakukan sebagai kebutuhan yang baru dicari setelah pembangunan berjalan.
Managing Director Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menyatakan bahwa proyek pusat data dengan kapasitas lebih dari 500 megawatt perlu menerapkan prinsip “bring your own energy” atau menyediakan energi sendiri. Pernyataan tersebut disampaikan di Wisma Danantara, Jakarta, pada Kamis, 22 Oktober. Dorongan itu menempatkan tanggung jawab perencanaan pasokan energi pada pengembang proyek berskala sangat besar. Dengan demikian, kebutuhan listrik fasilitas dapat dipertimbangkan bersama rancangan investasi dan operasi, sejak proyek masih berada dalam tahap perencanaan.
Prinsip tersebut bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan internal pusat data, melainkan juga menjaga keseimbangan pemanfaatan energi. Menurut alasan yang disampaikan Stefanus, permintaan daya dari proyek besar tidak semestinya mengurangi pasokan yang tersedia bagi industri lain maupun masyarakat. Jika seluruh kebutuhan tambahan dibebankan pada pasokan publik, pertumbuhan satu sektor berisiko menambah tekanan terhadap ketersediaan energi yang juga dibutuhkan oleh pengguna lain. Perencanaan sumber daya secara mandiri diharapkan membantu mencegah persaingan langsung atas kapasitas listrik yang terbatas.
Bagi pengembang, pendekatan ini berarti sumber energi harus dipikirkan seiring dengan skala dan kebutuhan operasional fasilitas, bukan setelah kebutuhan listrik meningkat. Rencana pasokan yang disiapkan sejak awal dapat membantu memperjelas bagaimana proyek akan memperoleh daya tanpa mengabaikan kepentingan pengguna lain. Dorongan Danantara juga menegaskan bahwa ekspansi pusat data AI perlu berjalan dengan pertimbangan infrastruktur yang memadai. Dengan memasukkan aspek energi ke dalam keputusan investasi, pembangunan fasilitas digital berkapasitas besar dapat diarahkan agar tidak membebani pasokan yang menopang kegiatan industri dan kehidupan masyarakat.
Perencanaan energi perlu berlangsung seiring dengan pembangunan infrastruktur pusat data, bukan baru dibahas setelah fasilitas mulai beroperasi. Pusat data berbasis kecerdasan buatan membutuhkan pasokan listrik yang besar dan andal, sehingga kebutuhan proyek perlu dipetakan sejak tahap perencanaan. Dengan demikian, kesiapan energi dapat dipertimbangkan bersama lokasi, kapasitas, jadwal pembangunan, serta kebutuhan operasional infrastruktur digital. Pendekatan yang terkoordinasi juga membantu mengantisipasi dampak terhadap pasokan listrik bagi pengguna lain di Indonesia.
Apabila suatu proyek menggunakan listrik dari jaringan PLN, kelayakan komersial pasokan tersebut turut menjadi perhatian. Menurut Stefanus, tarif yang diterapkan perlu memungkinkan PLN memperoleh keuntungan. Pertimbangan itu menempatkan keberlanjutan penyediaan energi dan kepentingan perusahaan penyedia listrik dalam pembahasan, selain kebutuhan investor pusat data. Namun, hal tersebut tidak dengan sendirinya menetapkan besaran tarif, mekanisme pengadaan, ataupun skema pasokan tertentu. Berbagai rincian itu perlu dinilai sesuai konteks proyek dan pengaturan yang berlaku.
Perhatian Danantara pada investasi infrastruktur digital mencakup kelayakan bisnis proyek, sekaligus manfaat dan kepentingannya bagi Indonesia. Karena itu, kebutuhan energi tidak dapat dipisahkan dari penilaian atas investasi pusat data. Perencanaan yang matang dapat membantu menguji apakah kebutuhan pasokan dapat dipenuhi secara berkelanjutan tanpa mengabaikan kondisi jaringan dan kepentingan publik. Pada saat yang sama, aspek komersial perlu diperhitungkan agar investasi serta penyediaan listrik memiliki dasar yang layak. Penyelarasan rencana pembangunan pusat data dan kesiapan energi menjadi bagian penting dalam mengantisipasi kebutuhan proyek, tanpa mengasumsikan lebih dahulu pilihan tarif atau cara memperoleh energi.
Selain kebutuhan energi, penggunaan air juga menjadi perhatian dalam operasional pusat data, terutama ketika fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung beban komputasi kecerdasan buatan yang tinggi. Air dapat dibutuhkan dalam sistem pendinginan dan berbagai proses pendukung lainnya. Karena itu, perencanaan pusat data perlu memperhitungkan ketersediaan sumber air setempat serta dampaknya terhadap kebutuhan masyarakat dan lingkungan. Perhatian terhadap aspek ini penting sejak tahap perancangan, bukan hanya setelah fasilitas mulai beroperasi. Dengan begitu, pengelola dapat memilih teknologi dan pola operasional yang sesuai dengan kondisi wilayah, sekaligus mengantisipasi kebutuhan jangka panjang. Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan bahwa pengembangan infrastruktur digital perlu disertai tanggung jawab atas sumber daya yang digunakan.
Stefanus mendorong pengelola untuk mengoptimalkan pemakaian air dan mencari cara agar kebutuhan air baru dapat ditekan. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah sistem sirkulasi tertutup, yang memungkinkan air dipakai kembali dalam rangkaian operasional, alih-alih terus-menerus mengambil pasokan baru. Penggunaan kembali ini dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber air, meskipun penerapannya perlu disesuaikan dengan desain fasilitas, teknologi pendinginan, serta standar mutu yang diperlukan. Pengelola juga perlu mengukur penggunaan air secara berkala, menetapkan sasaran efisiensi, dan mengevaluasi hasilnya. Transparansi mengenai kebutuhan dan pengelolaan air dapat membantu memastikan bahwa upaya penghematan berjalan konsisten, serta memungkinkan dampak operasional dipantau dengan lebih baik oleh pihak terkait.
Di samping sirkulasi ulang, opsi pengolahan air maupun desalinasi disebut dapat dipertimbangkan sesuai dengan karakteristik lokasi dan kebutuhan fasilitas. Pilihan tersebut tidak otomatis cocok untuk setiap proyek; kelayakannya perlu dinilai dengan memperhatikan biaya, ketersediaan teknologi, kebutuhan energi, serta konsekuensi lingkungan dari proses pengolahan. Penilaian yang menyeluruh dapat mencegah satu solusi mengurangi tekanan pada satu sumber daya tetapi menambah beban pada aspek lain. Bagi Danantara, pertimbangan ini berkaitan dengan cara investasi dirancang agar tidak mengabaikan kepentingan publik. Pengelolaan air yang efisien dan bertanggung jawab diharapkan mendukung kegiatan pusat data tanpa mengurangi akses masyarakat terhadap sumber daya, serta menjaga perhatian terhadap lingkungan di sekitar lokasi pembangunan.
Bagi Danantara, pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan pusat data dipandang sebagai peluang investasi yang dapat mendukung transformasi ekonomi Indonesia. Meningkatnya penggunaan layanan digital, komputasi awan, dan aplikasi berbasis AI mendorong kebutuhan terhadap kapasitas pemrosesan data yang lebih besar. Karena itu, investasi pada infrastruktur digital bukan hanya menyangkut pembangunan fasilitas, tetapi juga perlu mencakup konektivitas, keandalan operasi, serta akses terhadap sumber daya pendukung. Danantara berharap proyek-proyek di bidang ini dapat memperkuat ekosistem digital nasional, meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menarik kegiatan ekonomi bernilai tambah, dan membuka lapangan kerja. Dampak ketenagakerjaan dapat muncul melalui kebutuhan tenaga untuk konstruksi, operasi, pemeliharaan, dan layanan terkait.
Sejumlah proyek berskala besar berpotensi diumumkan atau mencapai penandatanganan kesepakatan dalam The New Asia Forum, yang dijadwalkan berlangsung pada 3–4 Desember 2026 di Bali. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi investor dan pihak-pihak yang menawarkan peluang investasi di kawasan Asia. Agenda itu dapat membantu mempertemukan minat modal dengan kebutuhan pengembangan sektor digital, sekaligus membuka pembicaraan mengenai bentuk kemitraan yang sesuai bagi proyek di Indonesia. Meski demikian, kemungkinan pengumuman atau penandatanganan dalam forum tidak dengan sendirinya berarti proyek langsung memasuki tahap pembangunan. Kesepakatan awal tetap perlu ditindaklanjuti dengan kajian, perencanaan, dan pengaturan pelaksanaan yang melibatkan para pemangku kepentingan.
Realisasi investasi besar akan bergantung pada kesiapan pendanaan, kejelasan rencana bisnis, dan kemampuan proyek memenuhi kebutuhan operasionalnya. Ketersediaan energi menjadi perhatian penting, mengingat pusat data memerlukan pasokan listrik yang andal dalam jumlah besar. Pengembang juga perlu memperhitungkan kebutuhan air, termasuk pengelolaan penggunaan dan dampaknya terhadap sumber daya setempat.
Baca juga: Inisiatif Pembangunan Pusat Data AI untuk Kedaulatan Data Nasional | NEXT: Pemerintah perlu pastikan sebaran pasokan beras sesuai kebutuhan | Krisis Pasokan Beras Premium di Ritel Modern






