Bogor | Warga berharap eskalator di Stasiun Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, segera diperbaiki. Fasilitas yang berhenti beroperasi itu membuat perjalanan penumpang menuju bagian atas stasiun berubah. Jika sebelumnya mereka dapat memilih eskalator atau lift, kini penumpang yang terdampak harus berjalan kaki melalui jalur yang menanjak dan memutar.
Perubahan tersebut menambah langkah yang perlu ditempuh untuk mencapai area atas. Jalur memutar dengan tanjakan membuat perjalanan terasa lebih panjang dibandingkan ketika eskalator berfungsi. Bagi pengguna yang sedang terburu-buru, membawa barang, atau memiliki keterbatasan dalam berjalan, kondisi ini dapat menjadi tantangan tersendiri. Penumpang perlu menyesuaikan waktu dan tenaga saat melintasi akses tersebut.
Jidan, warga Bojonggede, menyampaikan harapannya agar eskalator segera diperbaiki ketika ditemui di stasiun pada Rabu (28/10/2026). Menurutnya, keberadaan fasilitas itu penting untuk membantu mobilitas penumpang di stasiun. Sebelumnya, eskalator maupun lift dapat digunakan sebagai pilihan untuk menuju bagian atas. Setelah eskalator berhenti beroperasi, penumpang harus melewati jalur berjalan kaki yang lebih jauh dan menanjak.
Situasi ini membuat akses antarbagiannya tidak lagi sesederhana saat eskalator tersedia. Penumpang yang menggunakan jalur memutar perlu memperhatikan kondisi sekitar dan memberi waktu lebih untuk perjalanan. Harapan agar fasilitas segera kembali berfungsi muncul karena eskalator dapat membantu memperlancar perpindahan pengguna, terutama ketika arus penumpang sedang ramai. Perbaikan juga dinilai dapat mengurangi beban perjalanan bagi orang yang kesulitan menempuh tanjakan.
Belum ada keterangan mengenai penyebab eskalator tersebut berhenti beroperasi. Karena itu, warga menunggu tindak lanjut perbaikan agar akses menuju bagian atas stasiun kembali lebih praktis. Selama fasilitas belum dapat digunakan, penumpang harus menempuh jalur alternatif dengan berjalan kaki. Kondisi akses yang berubah ini menjadi perhatian pengguna yang berharap perjalanan di Stasiun Bojonggede dapat kembali terbantu oleh fasilitas yang tersedia.
Jidan menggambarkan perubahan perjalanan di Stasiun Bojonggede sebagai pengalaman yang membuat jarak berjalan kaki terasa jauh lebih panjang sejak eskalator tidak berfungsi. Menurut kesaksiannya, rute yang harus ditempuh sekarang terasa sekitar tiga kali lebih jauh dibandingkan ketika eskalator masih dapat digunakan. Angka tersebut mencerminkan perkiraan dan pengalaman Jidan sebagai pengguna, bukan hasil pengukuran teknis yang telah diverifikasi secara terpisah. Perbandingan itu menunjukkan betapa besar perbedaan yang ia rasakan dalam perjalanan sehari-hari, terutama ketika harus berpindah dari area stasiun menuju terminal.
Dalam alur yang diceritakan Jidan, penumpang perlu berjalan menanjak terlebih dahulu, lalu mengambil jalur memutar. Perjalanan itu tidak hanya berupa satu lintasan langsung, karena ia menyebut pengguna harus melewati putaran hingga tiga kali sebelum dapat melanjutkan arah perjalanan. Dengan eskalator yang tidak beroperasi, bagian yang sebelumnya terbantu oleh fasilitas tersebut kini harus dilalui dengan berjalan kaki. Bagi penumpang yang sedang bergegas, membawa barang, atau memiliki keterbatasan mobilitas, rute seperti ini dapat terasa lebih melelahkan. Namun, pengalaman dan dampak tersebut tetap perlu dipahami sebagai gambaran yang disampaikan Jidan, bukan kesimpulan menyeluruh mengenai kondisi setiap pengguna.
Setelah menempuh jalur menanjak dan memutar, perjalanan belum langsung berakhir. Jidan menyebut penumpang masih harus meneruskan perjalanan melalui skybridge untuk menuju terminal. Rangkaian rute tersebut membuat proses berpindah terasa lebih panjang: berjalan menanjak, mengikuti putaran beberapa kali, kemudian menyeberangi skybridge. Karena itu, ketika Jidan menyebut jaraknya terasa tiga kali lipat, yang ditekankan adalah pengalaman perjalanan secara keseluruhan, bukan semata-mata panjang lintasan yang tercatat. Kesaksiannya memberikan gambaran tentang tambahan langkah dan usaha yang dirasakan setelah eskalator berhenti berfungsi. Bagi pengguna, akses yang memerlukan beberapa tahap berjalan itu dapat mengubah perjalanan singkat menjadi lintasan yang terasa lebih berat, meski besaran jaraknya belum dinyatakan sebagai ukuran resmi.
Ana, 45 tahun, merasakan langsung dampak eskalator yang tidak berfungsi di Stasiun Bojonggede. Ia mengaku kelelahan karena kini harus menempuh jalur memutar untuk melanjutkan perjalanan menuju terminal. Perubahan jalur tersebut membuat perjalanan yang sebelumnya terasa lebih praktis menjadi lebih menguras tenaga. Bagi Ana, persoalannya bukan sekadar berpindah dari satu titik ke titik lain, melainkan juga jarak dan langkah tambahan yang harus dilalui ketika fasilitas yang biasa digunakan tidak dapat beroperasi.
Sebelum eskalator berhenti berfungsi, Ana menggunakan eskalator, kemudian berjalan melewati skybridge menuju terminal. Rangkaian perjalanan itu menjadi kebiasaan yang membantunya melanjutkan perjalanan. Kini, ia harus mengambil jalur memutar sebagai gantinya. Perbedaan rute sebelumnya dan rute yang harus ditempuh saat ini terasa jelas baginya, terutama karena jalur yang dilewati menambah upaya berjalan. Ana menyampaikan bahwa kondisi tersebut membuatnya merasa lelah selama perjalanan.
Menurut Ana, jalur memutar itu dapat terasa lebih mengganggu bagi penumpang yang membawa barang. Beban yang dibawa harus ikut melewati rute yang lebih panjang, sehingga perjalanan terasa semakin melelahkan. Situasi serupa juga dirasakan lebih merepotkan ketika penumpang sedang terburu-buru. Tambahan langkah dalam perjalanan dapat menjadi kendala bagi mereka yang ingin segera menuju terminal. Ana menyoroti kedua keadaan tersebut sebagai hal yang membuat eskalator tidak berfungsi semakin dirasakan dampaknya oleh pengguna.
Ana berharap eskalator di Stasiun Bojonggede segera diperbaiki agar dapat digunakan kembali. Harapan itu disampaikan karena fasilitas tersebut sebelumnya menjadi bagian dari rute yang ia tempuh sebelum berjalan melewati skybridge menuju terminal. Dengan eskalator yang berfungsi, ia berharap tidak perlu lagi menempuh jalur memutar yang membuatnya kelelahan. Perbaikan eskalator juga diharapkan membantu penumpang yang membawa barang maupun yang sedang terburu-buru agar perjalanan menuju terminal tidak terasa semakin merepotkan.
Sehari sebelum keterangan warga mengenai eskalator yang tidak berfungsi, sejumlah pengguna kereta menyampaikan protes dengan meletakkan karangan bunga di depan eskalator yang mati. Aksi tersebut berlangsung pada Selasa (27/10) malam di skybridge Stasiun Bojonggede. Karangan bunga itu menjadi penanda bahwa gangguan fasilitas telah memicu perhatian dan keluhan di kalangan pengguna stasiun.
Menurut bahan yang tersedia, warga membawa karangan bunga sebagai bentuk protes sekaligus desakan agar eskalator segera diperbaiki. Pilihan untuk meletakkannya tepat di depan eskalator membuat pesan aksi berkaitan langsung dengan fasilitas yang dikeluhkan. Mereka ingin perbaikan dilakukan sehingga pengguna dapat kembali melintas melalui jalur yang semestinya tanpa harus menempuh rute memutar.
Aksi tersebut berlangsung di ruang yang sehari-hari dilalui penumpang, yakni skybridge yang menghubungkan bagian-bagian area stasiun. Ketika eskalator tidak berfungsi, akses melalui penghubung itu menjadi lebih sulit bagi sebagian pengguna. Keluhan mengenai dampak gangguan kemudian tampak tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga melalui tindakan simbolis yang menarik perhatian terhadap kondisi fasilitas.
Karangan bunga lazim dipahami sebagai simbol penghormatan, tetapi dalam peristiwa ini benda tersebut digunakan untuk menyampaikan tuntutan. Kehadirannya di depan eskalator mati memperjelas fokus protes: pengguna meminta fasilitas itu segera diperbaiki. Aksi ini juga memperlihatkan bahwa gangguan yang berkaitan dengan akses stasiun dapat menjadi persoalan penting bagi penumpang, terutama ketika mereka harus mencari jalur alternatif untuk melanjutkan perjalanan.
Informasi yang disampaikan tidak merinci siapa saja peserta aksi, berapa lama karangan bunga berada di lokasi, ataupun langkah yang diambil setelahnya. Karena itu, rincian tersebut tidak dapat dipastikan. Tidak ada pula keterangan mengenai tanggapan pihak terkait dalam bahan ini. Peristiwa pada Selasa malam itu tercatat sebagai bentuk protes pengguna terhadap eskalator yang tidak berfungsi dan permintaan agar perbaikannya segera dilakukan.
Baca juga: Krisis Air Bersih di Depok dan Bojonggede Akibat El Nino
0 kunjungan





