Hujan Es Guyur Enam Wilayah di Lampung Barat, Ini Proses Terjadinya

Hujan Es Guyur Enam Wilayah di Lampung Barat, Ini Proses Terjadinya

Kabupaten Lampung Barat. BMKG Lampung | Hujan es terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat, pada Minggu sore, 1 November 2026. Peristiwa itu dilaporkan berlangsung sekitar pukul 15.21 WIB, ketika hujan deras disertai angin kencang dan petir melanda kawasan tersebut. Butiran es yang turun disebut berukuran sebesar kelereng. Fenomena ini berlangsung sekitar 10 hingga 15 menit, sebelum hujan es berakhir.

Rangkaian kondisi tersebut menjadi gambaran cuaca yang menyertai hujan es di Balik Bukit. Berdasarkan keterangan mengenai peristiwa itu, es tidak turun sendiri, melainkan bersamaan dengan hujan deras, hembusan angin kencang, serta petir. Ukuran butiran yang digambarkan sebesar kelereng memberi gambaran tentang bentuk hujan es yang terlihat warga, sementara durasi 10–15 menit menunjukkan bahwa kejadian tersebut berlangsung dalam rentang waktu terbatas.

Waktu kejadian pada sore hari dan keterangan wilayahnya menempatkan hujan es ini sebagai peristiwa cuaca lokal di Kecamatan Balik Bukit. Informasi yang tersedia menyebut sejumlah wilayah terdampak, tetapi tidak merinci nama setiap wilayah dalam uraian ini. Demikian pula, tidak ada rincian tambahan mengenai kondisi sebelum hujan es mulai turun ataupun setelah fenomena tersebut berakhir. Karena itu, inti laporan berfokus pada lokasi, waktu, keadaan cuaca, ukuran butiran, dan lamanya kejadian.

Dengan demikian, hujan es di Balik Bukit tercatat terjadi pada Minggu sore sekitar pukul 15.21 WIB, dalam kondisi hujan deras yang disertai angin kencang dan petir. Butiran es seukuran kelereng turun selama kurang lebih 10–15 menit di sejumlah wilayah kecamatan tersebut. Keterangan ini menggambarkan peristiwa sebagaimana dilaporkan, tanpa menambahkan rincian mengenai dampak atau keadaan lain yang tidak disebutkan. Informasi waktu dan durasi membantu menjelaskan kapan fenomena itu berlangsung, sedangkan kondisi hujan, angin, dan petir menggambarkan cuaca yang menyertainya.Dandim 0422/Lampung Barat Letkol Inf Rizky Kurniawan menyampaikan bahwa sedikitnya enam wilayah di Lampung Barat terdampak hujan es. Wilayah yang disebut dalam keterangannya meliputi Pekon Watas, Gunungsugih, Padang Dalom, Padang Hanakau, Kelurahan Waymengaku, dan Kelurahan Pasar Liwa. Penyebutan keenam lokasi tersebut menunjukkan bahwa fenomena hujan es tidak hanya dilaporkan terjadi di satu pekon atau kelurahan. Keterangan itu juga menjadi dasar untuk mengidentifikasi area yang mengalami langsung jatuhnya butiran es dalam peristiwa tersebut.

Di wilayah terdampak, butiran es berjatuhan di halaman rumah dan jalanan. Pemandangan itu membuat warga terkejut, sebab mereka mendapati benda-benda kecil menyerupai es turun di area sekitar tempat tinggal maupun ruang yang biasa dilalui. Butiran yang jatuh di halaman dan permukaan jalan menjadi bagian yang terlihat langsung oleh warga. Informasi mengenai enam lokasi tersebut disampaikan bersama gambaran suasana ketika hujan es berlangsung, sehingga pembaca memperoleh konteks tentang sebaran wilayah sekaligus apa yang disaksikan masyarakat.

Sejumlah warga kemudian keluar dari rumah untuk menyaksikan fenomena tersebut. Reaksi itu menggambarkan rasa ingin tahu dan keterkejutan masyarakat saat melihat butiran es berada di halaman serta jalanan. Meski kejadian itu menarik perhatian, keterangan yang tersedia dalam laporan ini hanya menyebut lokasi terdampak, butiran es yang berjatuhan, dan respons warga. Karena itu, informasi tersebut tidak menjadi dasar untuk menyatakan adanya kerusakan maupun korban. Enam wilayah yang disebut—Pekon Watas, Gunungsugih, Padang Dalom, Padang Hanakau, Kelurahan Waymengaku, dan Kelurahan Pasar Liwa—tetap menjadi rincian utama mengenai sebaran hujan es di Lampung Barat.

Forecaster on Duty BMKG Lampung, Iqbal Arief Pangestu, menjelaskan bahwa hujan es terbentuk di dalam awan cumulonimbus atau awan CB. Dengan demikian, proses terbentuknya butiran es berlangsung di dalam jenis awan tersebut sebelum butirannya jatuh ke permukaan. Keterangan ini menjelaskan bahwa hujan es bukan terbentuk setelah air mencapai permukaan, melainkan melalui proses yang terjadi ketika butiran air berada di dalam awan cumulonimbus. BMKG menyampaikan bahwa keberadaan awan CB menjadi bagian penting dalam proses tersebut, terutama ketika awan memiliki arus udara naik yang kuat.

Menurut penjelasan Iqbal, arus udara naik atau updraft di dalam awan cumulonimbus dapat membawa butiran air menuju lapisan atmosfer yang suhunya berada di bawah titik beku. Pergerakan ke lapisan tersebut membuat butiran air berada dalam kondisi yang memungkinkan terjadinya pembekuan. Kekuatan updraft menjadi unsur yang disebut dalam penjelasan BMKG karena arus itu membawa butiran air ke lapisan bersuhu di bawah titik beku. Proses tersebut berlangsung di dalam awan, sebagai bagian dari pembentukan hujan es yang kemudian dapat turun ke permukaan.

Setelah dibawa oleh updraft ke lapisan atmosfer bersuhu di bawah titik beku, butiran air kemudian membeku. Butiran itu selanjutnya mengalami proses di dalam awan sebelum akhirnya jatuh sebagai hujan es. Jadi, urutan yang dijelaskan BMKG dimulai dari terbentuknya awan cumulonimbus, lalu arus udara naik yang kuat membawa butiran air ke lapisan bersuhu di bawah titik beku. Butiran air tersebut membeku dan menjalani proses di dalam awan, kemudian jatuh ke permukaan sebagai hujan es. Penjelasan Forecaster on Duty BMKG Lampung ini menggambarkan proses hujan es sebagaimana diterangkan oleh Iqbal Arief Pangestu, tanpa memisahkannya dari peran awan CB dan updraft.

Menurut Iqbal, hujan es berkaitan erat dengan kondisi atmosfer yang tidak stabil. Ketidakstabilan ini memungkinkan udara hangat dan lembap bergerak naik dengan kuat, sehingga mendukung terbentuknya awan konvektif yang tumbuh menjulang. Ketika gerakan udara ke atas berlangsung intens, butiran air dapat terbawa menuju bagian awan yang lebih dingin dan membeku. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan hujan es, meskipun kemunculannya bergantung pada keadaan di dalam awan.

Ketersediaan uap air juga berperan dalam mendukung pertumbuhan awan. Udara yang mengandung cukup uap air menyediakan bahan bagi pembentukan titik-titik air dan perkembangan awan konvektif. Jika kondisi atmosfer mendukung, awan dapat tumbuh dengan kuat dan memiliki arus udara vertikal yang membawa partikel air ke berbagai lapisan. Di bagian awan yang bersuhu rendah, partikel tersebut dapat membeku dan bertambah besar sebelum akhirnya jatuh ketika tidak lagi tertahan oleh arus udara.

Faktor lokal, termasuk topografi Lampung Barat, turut dapat mendukung pertumbuhan awan konvektif berintensitas kuat. Bentuk permukaan wilayah dapat memengaruhi pergerakan udara di sekitarnya, sehingga berkontribusi terhadap perkembangan awan dalam kondisi atmosfer yang sesuai. Namun, topografi bukan satu-satunya penjelasan atas hujan es. Keterangan mengenai kondisi lokal perlu dipahami bersama faktor atmosfer, terutama ketidakstabilan udara dan ketersediaan uap air yang memungkinkan awan berkembang.

Penjelasan tersebut sejalan dengan keterangan BMKG bahwa hujan es dipicu oleh pertumbuhan awan cumulonimbus yang intens. Awan cumulonimbus dapat memiliki perkembangan vertikal yang kuat dan arus udara naik maupun turun di dalamnya. Dalam awan seperti ini, butiran es dapat terbentuk dan bertumbuh melalui proses berulang saat terbawa arus udara. Apabila butiran itu cukup besar dan jatuh ke permukaan sebelum mencair sepenuhnya, hujan es dapat terjadi. Dengan demikian, keterkaitan atmosfer tidak stabil, uap air, kondisi lokal, dan pertumbuhan cumulonimbus membantu menjelaskan proses terjadinya hujan es di wilayah Lampung Barat tanpa menganggap satu faktor sebagai penyebab tunggal.

Baca juga: BMKG: Awal Musim Hujan 2026/2027 Berpotensi Terlambat di Mayoritas Wilayah Indonesia | Cuaca Jakarta Hari Ini: Hujan Sore di Beberapa Wilayah | Kohabitasi di Indonesia: Alasan, Wilayah, dan Dampaknya bagi Perempuan serta Anak

10 kunjungan