Jakarta | Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyebut Indonesia sebagai pilar multilateralisme. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya peran Indonesia dalam mendukung kerja sama antarnegara melalui berbagai forum dan mekanisme bersama. Guterres menyampaikan pandangan itu dalam Foreign Policy Circle Talks yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, pada acara bertajuk “Eight Decades of the United Nations: What’s Next?” pada Senin, 19 Oktober.
Pujian tersebut disampaikan dalam percakapan yang berfokus pada perjalanan delapan dekade PBB serta arah organisasi itu ke depan. Tajuk acara mengangkat pertanyaan tentang tantangan dan prioritas PBB setelah delapan puluh tahun berdiri. Dalam konteks tersebut, pandangan Guterres menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang dinilai memiliki arti penting bagi keberlangsungan kerja sama multilateral.
Multilateralisme merujuk pada pendekatan yang mendorong negara-negara untuk membahas persoalan bersama dan mencari solusi melalui dialog, aturan, serta lembaga internasional. PBB menjadi salah satu wadah utama bagi pendekatan tersebut. Karena itu, pengakuan terhadap Indonesia sebagai pilar multilateralisme mencerminkan penilaian atas kontribusi negara dalam mendukung tatanan yang bertumpu pada kerja sama, bukan tindakan sepihak.
Forum Foreign Policy Circle Talks menyediakan ruang bagi pembahasan isu kebijakan luar negeri dan peran Indonesia dalam hubungan internasional. Dengan mengundang Guterres, acara ini juga menghubungkan perspektif pimpinan PBB dengan diskusi mengenai masa depan organisasi tersebut. Pernyataan Sekretaris Jenderal itu menjadi salah satu sorotan penting dalam forum, sekaligus menunjukkan bahwa peran negara anggota tetap menjadi unsur utama dalam menghadapi persoalan lintas batas.
Di tengah perubahan dan tantangan global, kerja sama multilateral diperlukan untuk membangun respons yang melibatkan banyak pihak. Pujian Guterres memberi perhatian pada posisi Indonesia dalam upaya tersebut, serta relevansi keterlibatan negara-negara anggota dalam menjaga dialog internasional. Pesan itu sejalan dengan tema acara yang tidak hanya melihat perjalanan PBB, tetapi juga mengajak peserta memikirkan kebutuhan dan peluang kerja sama di masa mendatang.
António Guterres menilai Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk kerja sama internasional, baik di kawasan Asia-Pasifik maupun dalam lingkup Global South. Pandangan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang berpengaruh dalam berbagai forum multilateral. Peran itu tercermin melalui keterlibatan Indonesia dalam sejumlah organisasi dan kelompok internasional, yang menjadi ruang bagi negara-negara untuk bekerja sama dan membahas kepentingan bersama.
Keanggotaan Indonesia yang disoroti Guterres mencakup ASEAN, G20, D-8, BRICS, APEC, Organisasi Kerja Sama Islam, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Beragamnya forum tersebut menunjukkan jangkauan keterlibatan Indonesia di berbagai tingkat kerja sama internasional. Organisasi-organisasi itu merupakan contoh ruang multilateral tempat Indonesia berperan, mulai dari lingkup kawasan hingga forum yang melibatkan negara-negara dari berbagai bagian dunia. Daftar tersebut menggambarkan kehadiran Indonesia dalam sejumlah wadah kerja sama, tanpa membatasi perannya pada satu organisasi atau satu kawasan saja.
Dengan menyebut keanggotaan tersebut, Guterres menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi dalam pembentukan kerja sama yang melibatkan negara-negara di Asia-Pasifik dan Global South. Peran itu berkaitan dengan keterlibatan Indonesia di berbagai forum, termasuk ASEAN, G20, D-8, BRICS, APEC, Organisasi Kerja Sama Islam, dan PBB. Daftar tersebut menjadi contoh luasnya arena multilateral yang diikuti Indonesia serta menunjukkan bahwa pandangan Guterres mencakup kerja sama pada berbagai tingkat. Dengan demikian, penilaian mengenai pengaruh Indonesia dalam kerja sama internasional tercermin melalui keanggotaannya dalam organisasi-organisasi tersebut, bukan hanya melalui partisipasi dalam satu forum tertentu.
Pengakuan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, terhadap peran Indonesia menyoroti kepemimpinan negara ini dalam membangun dan memperkuat hubungan ASEAN dan PBB. Menurut Guterres, Indonesia berkontribusi penting dalam menjaga kemitraan kedua organisasi agar tetap erat dan relevan. Peran tersebut tidak hanya tampak dalam pertemuan atau pernyataan resmi, tetapi juga melalui upaya diplomatik yang membantu mendorong dialog dan kerja sama. Dalam hubungan multilateral, kepemimpinan seperti ini memungkinkan negara-negara dengan kepentingan berbeda untuk menemukan ruang bersama. Indonesia dinilai mampu mendukung komunikasi ASEAN dan PBB, sekaligus memperkuat keterhubungan agenda kawasan dan tujuan internasional.
Cakupan kemitraan ASEAN-PBB yang dimaksud meliputi sejumlah bidang utama, yakni perdamaian dan keamanan, pembangunan, serta hak asasi manusia. Ketiga bidang itu menunjukkan bahwa kerja sama tidak terbatas pada penanganan konflik atau isu keamanan, tetapi juga mencakup upaya memperbaiki kesejahteraan dan mendorong penghormatan terhadap hak setiap orang. Dalam kerangka tersebut, hubungan ASEAN dengan PBB menyediakan wadah untuk bertukar pandangan, menyelaraskan prioritas, dan mendukung tindakan bersama. Kepemimpinan Indonesia membantu menjaga agar kerja sama lintas bidang itu terus berkembang. Pengakuan Guterres sekaligus menempatkan Indonesia sebagai salah satu pihak yang berperan dalam mempertemukan pendekatan regional ASEAN dengan kerja multilateral PBB.
Guterres juga menilai Indonesia dikenal dan dihormati sebagai penghubung diplomatik, baik di lingkungan PBB maupun di luar organisasi tersebut. Reputasi ini mencerminkan kemampuan Indonesia menjalin hubungan dengan berbagai pihak dan mendorong komunikasi ketika terdapat perbedaan pandangan. Sebagai penghubung, Indonesia dapat membantu membuka jalur dialog, membangun kepercayaan, dan mencari titik temu tanpa mengabaikan kepentingan masing-masing pihak. Peran itu penting dalam diplomasi multilateral, yang keberhasilannya sering bergantung pada kesediaan negara untuk bekerja bersama. Penilaian tersebut memperkuat gambaran bahwa keterlibatan Indonesia tidak hanya berpengaruh dalam kemitraan ASEAN-PBB, tetapi juga memberi nilai bagi hubungan diplomatik yang lebih luas. Dengan demikian, kepemimpinan Indonesia dipandang sebagai kontribusi nyata bagi kerja sama internasional.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyampaikan apresiasi atas partisipasi Indonesia yang berkelanjutan dalam pasukan penjaga perdamaian PBB. Kontribusi tersebut, menurutnya, menunjukkan komitmen Indonesia terhadap kerja sama multilateral dan upaya menjaga perdamaian di berbagai wilayah. Guterres menyebut sekitar 2.000 personel Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, saat ini bertugas dalam pasukan penjaga perdamaian PBB. Kehadiran mereka mencerminkan peran nyata Indonesia dalam mendukung misi internasional, termasuk melalui penugasan personel yang bekerja bersama anggota dari negara-negara lain. Ia juga menyoroti pentingnya kontribusi berkelanjutan negara-negara anggota bagi pelaksanaan mandat penjaga perdamaian.
Guterres turut menyampaikan terima kasih kepada Indonesia atas kesediaannya menjadi tuan rumah bersama pertemuan menteri penjaga perdamaian PBB tahun depan di Jakarta. Pertemuan tersebut akan mempertemukan para menteri untuk membahas dukungan terhadap operasi penjaga perdamaian dan berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjalankan misi. Kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap agenda PBB sekaligus kesempatan bagi negara itu untuk berkontribusi dalam dialog internasional mengenai perdamaian. Jakarta akan menjadi lokasi pertemuan para peserta dari berbagai negara, dengan Indonesia berbagi tanggung jawab dalam penyelenggaraannya. Apresiasi Guterres mencakup peran Indonesia di lapangan maupun keterlibatannya dalam forum diplomatik yang berkaitan dengan misi tersebut.
Dalam kunjungannya ke pusat pelatihan penjaga perdamaian, Guterres memperoleh gambaran langsung mengenai persiapan personel Indonesia. Ia menyatakan bahwa kunjungan itu memberinya keyakinan bahwa personel Indonesia akan menjadi pilar penting bagi misi penjaga perdamaian di seluruh dunia. Penilaian tersebut menghubungkan pelatihan dan kesiapan personel dengan kontribusi mereka dalam operasi PBB di berbagai kawasan. Pernyataan itu juga menegaskan kepercayaan terhadap kemampuan pasukan Indonesia untuk mendukung mandat misi bersama personel internasional lainnya.
Baca juga: Mengingat Aries Garasi: Sang Drummer yang Berperan Penting dalam Musik Indonesia | Skandal OTT KPK: Mantan Pejabat Penting Kementerian ATR/BPN Terjerat






