Bisnis  

IHSG Anjlok 3,64 Persen di Tengah Tekanan Sentimen MSCI

IHSG Anjlok 3,64 Persen di Tengah Tekanan Sentimen MSCI

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 188,50 poin atau 3,64 persen ke level 4.996,61 pada perdagangan Senin sore. Penurunan tersebut membawa indeks utama Bursa Efek Indonesia kembali berada di bawah ambang 5.000. Indeks LQ45 turut tertekan, turun 20,10 poin atau 3,95 persen menjadi 488,46. Pelemahan pada kedua indeks mencerminkan tekanan jual yang kuat sepanjang perdagangan, ketika pelaku pasar masih mencermati perkembangan sentimen eksternal dan dampaknya terhadap prospek pasar modal Indonesia.

Sejak awal perdagangan, IHSG dibuka dalam kondisi melemah dan terus bertahan di zona merah hingga penutupan. Kondisi serupa terlihat pada sesi pertama maupun sesi kedua: indeks tidak berhasil berbalik menguat dan tekanan berlanjut sampai akhir hari. Pergerakan ini menunjukkan bahwa minat beli belum cukup kuat untuk menahan aksi jual. Sejumlah investor memilih bersikap hati-hati, terutama dalam menghadapi ketidakpastian yang dapat memengaruhi penilaian risiko terhadap aset domestik. Akibatnya, pelemahan indeks berlangsung luas sepanjang sesi perdagangan, bukan hanya terjadi sesaat pada pembukaan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyampaikan bahwa penurunan tersebut berlanjut untuk hari ketiga berturut-turut. Menurutnya, tekanan jual masih membayangi pasar, sementara investor cenderung menghindari aset berisiko. Salah satu pemicu yang disebut adalah sentimen lanjutan dari pengumuman MSCI mengenai konsultasi untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia. Rencana konsultasi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi persepsi terhadap pasar saham nasional. Di tengah perkembangan itu, investor menimbang kembali risiko dan memilih menunggu kejelasan sebelum mengambil posisi. Kombinasi sentimen tersebut menjaga tekanan terhadap IHSG hingga perdagangan berakhir, sekaligus membuat indeks LQ45 mencatat penurunan yang lebih dalam secara persentase.

Tekanan pasar tercermin pada pelemahan yang merata di seluruh sektor. Sebanyak 11 sektor berdasarkan indeks sektoral IDX-IC ditutup di zona merah, menandakan bahwa aksi jual tidak hanya terpusat pada kelompok saham tertentu. Kondisi ini berlangsung seiring perhatian investor terhadap sentimen MSCI dan penurunan IHSG. Di seluruh sektor, barang baku mencatat koreksi terdalam, yakni 4,57 persen. Sektor infrastruktur menyusul dengan penurunan 4,45 persen, sedangkan barang konsumen non-primer melemah 4,09 persen.

Di tengah dominasi saham yang terkoreksi, sejumlah emiten masih berhasil mencatat penguatan. Saham TMPO, PNSE, TIFA, TRUK, dan BSIM termasuk dalam jajaran saham dengan kenaikan terbesar pada perdagangan tersebut. Namun, penguatan pada saham-saham itu belum cukup untuk mengimbangi tekanan pasar yang lebih luas. Sebaliknya, BTEK, TAXI, HBAT, IDEA, dan PACK mencatat pelemahan paling dalam. Perbedaan kinerja antar-emiten ini menunjukkan bahwa pergerakan saham individual tetap bervariasi, meskipun kecenderungan umum pasar bergerak turun.

Aktivitas transaksi berlangsung ramai. Frekuensi perdagangan mencapai 1,59 juta transaksi, dengan volume sebanyak 32,34 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp25,17 triliun. Besarnya aktivitas tersebut berlangsung ketika mayoritas saham berada di bawah tekanan. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 103 saham menguat, 691 saham melemah, dan 169 saham tidak berubah. Dengan demikian, jumlah saham yang turun jauh melampaui saham yang naik, memperlihatkan luasnya tekanan jual sepanjang sesi.

Data sektor dan saham tersebut memberi gambaran mengenai sebaran pelemahan di pasar, bukan sekadar perubahan pada indeks utama. Koreksi seluruh sektor memperlihatkan bahwa tekanan menyentuh beragam kelompok industri, sementara perbandingan jumlah saham yang turun dan naik menegaskan dominasi sentimen negatif. Meski demikian, volume dan nilai transaksi yang tercatat juga menunjukkan bahwa partisipasi investor tetap tinggi. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada perubahan sentimen, termasuk respons pelaku pasar terhadap isu MSCI, serta dinamika masing-masing emiten dan sektor. Angka-angka perdagangan ini menjadi konteks penting untuk membaca kondisi pasar pada hari tersebut, tanpa mengabaikan adanya beberapa saham yang bergerak berlawanan arah dengan mayoritas bursa.

Di tengah tekanan sentimen MSCI, perdagangan saham domestik juga diwarnai sejumlah langkah dan keputusan yang menjadi perhatian pelaku pasar. Pada Senin (19/10), Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan penurunan batas auto rejection menjadi 7 persen, dari sebelumnya 15 persen. Kebijakan tersebut diberlakukan hingga akhir tahun. BEI menyatakan penyesuaian itu ditujukan untuk membantu investor mengambil keputusan dalam menghadapi pergerakan harga saham.

Perubahan batas auto rejection menjadi bagian dari respons terhadap dinamika pasar, ketika fluktuasi harga dapat meningkat dan investor membutuhkan ruang untuk menilai informasi yang tersedia. Dengan batas yang lebih rendah, pergerakan harga yang mencapai ambang tertentu akan memicu mekanisme penolakan otomatis sesuai ketentuan. Penerapan kebijakan ini bersifat sementara hingga penghujung tahun, sehingga pelaku pasar perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku selama periode tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya Jumat (16/10), otoritas pasar modal menjatuhkan denda administratif dengan total Rp2,1 triliun kepada sejumlah pihak. Sanksi itu berkaitan dengan praktik perdagangan terkoordinasi serta penawaran umum perdana saham atau IPO tiga perusahaan. Besarnya denda dan cakupan kasus tersebut menambah sorotan terhadap pengawasan serta tata kelola di pasar modal Indonesia. Perkembangan ini hadir bersamaan dengan pelemahan indeks dan tekanan yang datang dari luar negeri.

Di kawasan Asia, pergerakan bursa pada perdagangan yang sama didominasi pelemahan, menurut sumber yang mengulas kondisi pasar. Tekanan terutama terlihat pada saham teknologi, seiring investor menilai prospek sektor tersebut dan besarnya kebutuhan belanja untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Investasi pada pusat data, komputasi, dan fasilitas pendukung membutuhkan dana besar, sementara manfaat finansialnya masih menjadi bahan pertimbangan pasar.

Nico menyampaikan adanya keraguan investor mengenai apakah imbal hasil yang akan diperoleh dapat sepadan dengan besarnya belanja infrastruktur AI. Pertanyaan tersebut turut membayangi saham teknologi di pasar global dan menjadi bagian dari latar perdagangan Asia yang melemah. Dengan demikian, perdagangan domestik berlangsung di tengah kombinasi perkembangan kebijakan lokal, penegakan aturan, dan kehati-hatian investor global terhadap prospek belanja AI. Faktor-faktor itu menjadi konteks bagi pergerakan IHSG, tanpa menghapus peran tekanan sentimen MSCI terhadap pasar.

Risiko inflasi kembali menjadi perhatian pasar setelah harga minyak dunia menembus 105 dolar AS per barel. Kenaikan ini terjadi ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur masih berlangsung, sehingga pasokan dan prospek energi global tetap dibayangi ketidakpastian. Selama situasi tersebut belum mereda, harga minyak berpotensi bertahan tinggi dan menambah tekanan terhadap biaya energi serta harga barang. Kondisi itu dapat mempersulit upaya bank sentral menurunkan inflasi, meskipun pasar juga mencermati kemungkinan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di sisi kebijakan moneter, sikap Ketua The Fed Kevin Warsh yang dinilai cenderung dovish mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober 2026. Dalam pertemuan tahunan IMF di Bangkok pada Jumat (16/10), Warsh tidak memberikan petunjuk mengenai hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada bulan tersebut. Ia juga menyatakan bahwa inflasi yang lebih tinggi daripada perkiraan belum mengubah penilaiannya terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat. Pernyataan itu memberi ruang bagi pasar untuk menilai bahwa kenaikan inflasi terbaru belum tentu langsung diikuti pengetatan kebijakan.

The Fed memasuki periode blackout menjelang rapat kebijakan pada 27–28 Oktober, sehingga pejabat bank sentral tidak memberikan komentar publik terkait prospek kebijakan sebelum keputusan diumumkan.