PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Kabut asap yang melanda Sumatera Selatan mulai menekan sektor pariwisata. Kondisi udara tersebut membuat kegiatan wisata tidak berjalan seperti biasanya, terutama aktivitas yang mengandalkan ruang terbuka. Sejumlah agenda rekreasi yang membutuhkan waktu di luar ruangan menghadapi hambatan karena jarak pandang dan kenyamanan selama kegiatan menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Aktivitas pariwisata luar ruang pada dasarnya membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung. Ketika kabut asap menyelimuti kawasan wisata, ruang gerak pengunjung menjadi lebih terbatas. Kegiatan menikmati pemandangan, berjalan-jalan, berfoto, maupun mengikuti aktivitas rekreasi di area terbuka tidak dapat dilakukan secara leluasa. Situasi ini mendorong pengelola dan pelaku usaha pariwisata untuk menyesuaikan pelaksanaan kegiatan dengan keadaan yang berlangsung.
Tekanan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya memengaruhi suasana di ruang terbuka, tetapi juga secara langsung menghambat aktivitas wisata yang berlangsung di dalamnya. Pengunjung perlu mempertimbangkan kondisi sebelum menjalankan rencana perjalanan, sementara pelaku pariwisata harus mencermati kegiatan yang tetap dapat dilaksanakan. Perubahan pola aktivitas itu menjadi tanda bahwa sektor pariwisata sedang menghadapi situasi yang memerlukan penyesuaian.
Di tengah keterbatasan kegiatan luar ruang, destinasi dalam ruang mulai menjadi pilihan bagi masyarakat. Pilihan tersebut memberikan alternatif aktivitas wisata yang tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi ruang terbuka. Peralihan minat ini memperlihatkan respons terhadap kabut asap yang sedang berlangsung, sekaligus menegaskan besarnya pengaruh kondisi tersebut terhadap kegiatan pariwisata.
Dengan demikian, kabut asap telah menjadi tekanan nyata bagi aktivitas pariwisata di Sumatera Selatan. Dampak paling terlihat berada pada kegiatan yang dilakukan di luar ruang, sehingga pelaksanaan wisata tidak lagi dapat berlangsung secara bebas. Sektor pariwisata kini bergerak dalam kondisi yang menuntut penyesuaian, sementara destinasi dalam ruang memperoleh perhatian sebagai pilihan kegiatan wisata.
Penurunan kunjungan wisatawan sebesar 1,11 persen menjadi salah satu indikator tekanan yang sedang dihadapi sektor pariwisata Sumatera Selatan. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas kunjungan ke berbagai destinasi di provinsi tersebut ikut terdampak ketika kabut asap menjadi persoalan. Meskipun persentasenya terlihat terbatas, angka tersebut tetap penting karena menggambarkan adanya pelemahan kunjungan wisata. Data penurunan itu menjadi sinyal bagi pelaku usaha, pengelola destinasi, dan pemerintah daerah bahwa kondisi lingkungan dapat memengaruhi pergerakan pariwisata. Dalam konteks ini, kabut asap disebut sebagai faktor yang menekan kunjungan wisatawan, sehingga dampaknya berkaitan dengan keberlangsungan aktivitas pariwisata di Sumatera Selatan.
Angka 1,11 persen memberikan gambaran terukur mengenai dampak kabut asap terhadap sektor tersebut. Penurunan ini memperlihatkan bahwa tekanan akibat kabut asap tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berimbas pada kegiatan kunjungan wisata. Ketika kondisi kabut asap berlangsung, pariwisata Sumatera Selatan menghadapi tantangan dalam mempertahankan arus kunjungan. Karena itu, persentase penurunan tersebut penting dicermati sebagai bagian dari gambaran kondisi pariwisata daerah. Penyebutan angka secara jelas membantu menunjukkan bahwa pengaruh kabut asap terhadap pariwisata memiliki dampak yang dapat diamati melalui data kunjungan wisatawan.
Penurunan sebesar 1,11 persen juga menegaskan perlunya perhatian terhadap situasi kabut asap sebagai faktor yang menekan pariwisata Sumatera Selatan. Data tersebut menjadi dasar untuk memahami bahwa gangguan kualitas lingkungan dapat tercermin dalam perubahan kunjungan wisatawan. Angka ini tidak sekadar menunjukkan perubahan pada aktivitas perjalanan, melainkan menjadi indikator bahwa kabut asap memberikan tekanan terhadap daya tarik dan kegiatan wisata di wilayah tersebut. Dengan demikian, penurunan kunjungan wisatawan sebesar 1,11 persen perlu ditempatkan dalam pembahasan mengenai dampak kabut asap terhadap pariwisata, tanpa menambahkan faktor lain di luar keterangan yang tersedia.
Kabut asap yang menekan kegiatan wisata luar ruang turut membawa dampak lanjutan bagi usaha akomodasi di Palembang. Ketika berbagai aktivitas wisata di ruang terbuka berkurang, arus kunjungan yang biasanya mendukung kebutuhan penginapan ikut melemah. Kondisi tersebut membuat hotel menghadapi penurunan permintaan kamar, karena kegiatan wisata luar ruang memiliki hubungan langsung dengan pergerakan wisatawan dan kebutuhan mereka terhadap tempat menginap.
Sejumlah hotel di Palembang mengalami penurunan tingkat hunian hingga 50 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas wisata luar ruang tidak hanya berdampak pada destinasi yang dikunjungi, tetapi juga merambat ke sektor pendukung pariwisata. Hotel sebagai bagian penting dari ekosistem wisata ikut merasakan penurunan ketika kunjungan dan mobilitas wisatawan tidak berjalan seperti biasanya.
Minimnya kegiatan di luar ruang menyebabkan pilihan perjalanan wisata menjadi lebih terbatas. Dalam situasi tersebut, kebutuhan terhadap akomodasi dapat menurun seiring berkurangnya aktivitas yang mendorong wisatawan untuk datang dan bermalam di Palembang. Dampaknya terlihat pada tingkat hunian hotel yang merosot, sehingga usaha akomodasi harus menghadapi kondisi pasar yang lebih sepi dibandingkan ketika kegiatan wisata berlangsung secara normal.
Penurunan okupansi ini memperlihatkan kuatnya keterkaitan destinasi wisata dan keberlangsungan usaha penginapan. Ketika ruang luar tidak banyak digunakan sebagai lokasi kegiatan, hotel kehilangan sebagian sumber permintaan yang berasal dari wisatawan. Pilihan destinasi dalam ruang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat, tetapi belum sepenuhnya menggantikan dampak berkurangnya aktivitas wisata luar ruang terhadap tingkat hunian hotel. Dengan demikian, tekanan kabut asap tidak berhenti pada sektor destinasi, melainkan turut memengaruhi usaha akomodasi di Palembang melalui penurunan okupansi yang signifikan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan mendorong penyesuaian strategi pariwisata untuk menghadapi tekanan kabut asap yang dapat memengaruhi kenyamanan serta minat perjalanan wisatawan. Dalam situasi tersebut, pilihan kegiatan wisata tidak hanya diarahkan pada lokasi terbuka, tetapi juga diperluas melalui diversifikasi menuju destinasi dalam ruang atau indoor. Langkah ini menjadi bagian dari respons pemerintah agar aktivitas pariwisata tetap memiliki pilihan yang relevan ketika kualitas udara dan kondisi lingkungan belum mendukung kunjungan ke ruang luar.
Pengembangan minat terhadap destinasi indoor memberikan ruang bagi wisatawan untuk tetap melakukan perjalanan dengan mempertimbangkan faktor kesehatan dan kenyamanan. Konsep tersebut memungkinkan kegiatan rekreasi berlangsung di lingkungan yang lebih terlindungi dari paparan kabut asap. Bagi pelaku usaha, diversifikasi juga dapat menjadi dorongan untuk menyesuaikan penawaran layanan dengan kebutuhan pengunjung pada periode tertentu, tanpa bergantung sepenuhnya pada objek wisata luar ruang.
Selain mendorong pilihan wisata dalam ruangan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan juga berupaya menghidupkan kembali program staycation. Program ini menawarkan pola berwisata yang menekankan pengalaman tinggal sementara dan menikmati waktu di tempat akomodasi, sehingga wisatawan tidak harus melakukan banyak perpindahan atau mengunjungi kawasan terbuka. Staycation dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang tetap ingin memperoleh pengalaman berlibur, tetapi memilih aktivitas yang lebih praktis selama kabut asap berlangsung.
Kedua langkah tersebut diarahkan untuk menjaga geliat kunjungan wisatawan di Sumatera Selatan. Diversifikasi destinasi dan penguatan kembali staycation menunjukkan upaya pemerintah menyesuaikan arah promosi serta pilihan aktivitas dengan kondisi yang dihadapi. Pendekatan ini juga diharapkan membantu mempertahankan pergerakan sektor pariwisata melalui pilihan yang lebih fleksibel, tanpa mengabaikan perhatian terhadap kenyamanan pengunjung. Dengan demikian, respons pemerintah berfokus pada penyediaan alternatif wisata yang dapat mendukung keberlanjutan aktivitas kunjungan selama situasi kabut asap menekan pariwisata daerah.







