Ponorogo | Karhutla di Ponorogo Capai 341,85 Hektare Hingga Akhir September, Meluas di 56 Desa PONOROGO, Hamparan semak dan tumpukan daun kering yang menghampar di kawasan hutan menjadi bahan bakar yang mudah tersulut selama musim kemarau. Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan di Ponorogo. Hingga 30 September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat luas lahan yang terbakar mencapai 341,85 hektare.
Keterangan yang tercatat menyebut Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terlebih Ponorogo diperkirakan belum memasuki musim hujan pada Oktober ini," ungkap Masun. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Anda bisa membantu mengubah kisah itu.
Data lain dalam laporan menunjukkan Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan bahwa luas kebakaran tahun ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2024. Data karhutla tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, kalau dibandingkan dengan 2024, ketika kemaraunya juga lumayan, data tahun ini masih jauh lebih besar," ujar Masun melalui pesan singkat, Jumat (9/10/2026). Kejari Perpanjang Penahanan 2 Tersangka Korupsi Tunjangan Perumahan DPRD Ponorogo Menurut Masun, kondisi kemarau yang lebih ekstrem menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan kejadian kebakaran. Ponorogo bahkan telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Kondisi ini memicu sejumlah bencana, salah satunya kebakaran hutan dan lahan," ujarnya. Masun menjelaskan bahwa kebakaran melanda kawasan hutan maupun hutan rakyat. Selain cuaca kering, kondisi vegetasi yang mengering turut meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika suhu udara tinggi disertai angin. Semak-semak dan serasah atau tumpukan daun kering menjadi material yang mudah terbakar. Api yang muncul di kawasan tersebut berisiko meluas ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Kondisi itu membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, terus meluas. Kebakaran tersebut tersebar di 56 desa yang berada di 17 kecamatan. Saat itu, kebakaran melanda 26 desa di 11 kecamatan dengan total luas lahan terbakar 91,7 hektare. Berdasarkan data BPBD Ponorogo, Kecamatan Slahung menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, yakni mencapai 81,3 hektare. Berikutnya Kecamatan Bungkal dengan 64,5 hektare, Kecamatan Sambit 42,5 hektare, Kecamatan Jenangan 35,5 hektare, dan Kecamatan Kauman 30 hektare. Vegetasi yang mengering, seperti semak-semak dan tumpukan daun kering, sangat rentan terbakar. Ponorogo Mulai Diguyur Hujan, BPBD Tetap Salurkan Bantuan Air Bersih BPBD Ponorogo juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta berhati-hati menggunakan sumber api, terutama di sekitar kawasan hutan, lahan pertanian, dan area yang dipenuhi vegetasi kering. Masun juga meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Upaya pencegahan perlu dilakukan bersama-sama agar api tidak meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar. Kami mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dengan sumber api, tidak dengan sengaja membuka lahan dengan pembakaran, dan bersama-sama menjaga lingkungan agar tidak menimbulkan kerugian," tegasnya. Hari Ketiga, Karhutla Gunung Pringgitan Ponorogo Belum Padam, Asap Masih Mengepul Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka. Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.







