Kemarau Panjang Dorong Harga Cabai di Tigaraksa, Rawit Merah Capai Rp85 Ribu

Kemarau Panjang Dorong Harga Cabai di Tigaraksa, Rawit Merah Capai Rp85 Ribu

KABUPATEN TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Harga sejumlah komoditas cabai di Pasar Gudang Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, mengalami kenaikan dalam beberapa minggu terakhir. Perubahan paling mencolok terlihat pada cabai rawit merah yang kini dijual sekitar Rp85.000 per kilogram. Sebelumnya, komoditas tersebut masih berada di kisaran Rp65.000 per kilogram. Dengan demikian, terjadi peningkatan sekitar Rp20.000 per kilogram atau lebih dari 30 persen dibandingkan harga sebelumnya.

Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting. Komoditas yang sebelumnya dipasarkan dengan harga sekitar Rp40.000 per kilogram itu kini mencapai Rp60.000 per kilogram. Selisih harga sebesar Rp20.000 tersebut membuat cabai menjadi salah satu bahan pangan yang mengalami perubahan harga cukup besar di pasar setempat. Kondisi ini turut menjadi perhatian pedagang dan pembeli karena cabai merupakan kebutuhan dapur yang banyak digunakan sehari-hari.

Pedagang di Pasar Gudang Tigaraksa menyebutkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi di tingkat pasar eceran. Perubahan tersebut telah terasa sejak cabai berada di pasar induk, kemudian berlanjut hingga ke pasar tradisional dan tingkat konsumen. Harga dari pemasok yang lebih tinggi membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual untuk menjaga kesinambungan usaha.

Kondisi kemarau panjang diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasokan cabai. Cuaca yang lebih kering dapat mengganggu pertumbuhan tanaman serta menurunkan hasil panen di sejumlah sentra produksi. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan masyarakat tetap berjalan, harga cenderung mengalami peningkatan. Situasi tersebut menyebabkan harga cabai rawit merah dan cabai merah keriting di Pasar Gudang Tigaraksa bertahan pada level yang lebih tinggi selama beberapa pekan terakhir.

Norman, salah seorang pedagang sayur di Pasar Gudang Tigaraksa, menyampaikan bahwa kenaikan harga cabai paling terasa pada komoditas cabai rawit merah. Menurut dia, harga cabai rawit merah kini mencapai Rp85 ribu per kilogram. Lonjakan tersebut menjadi perubahan yang paling besar dibandingkan jenis cabai lain yang dijual di lapaknya. Kondisi itu membuat harga cabai di pasar mengalami penyesuaian, mengikuti perkembangan pasokan dan harga dari pasar induk.

Selain cabai rawit merah, Norman mengatakan harga cabai merah keriting juga mengalami kenaikan. Ia menyebut harga komoditas tersebut turut berubah sehingga pedagang harus menyesuaikan harga jual kepada pembeli. Kenaikan cabai merah keriting menjadi bagian dari perubahan harga yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya harga cabai rawit merah. Norman menyampaikan keterangan itu saat ditemui di lapaknya, Pasar Gudang Tigaraksa, pada Selasa, 29 September 2026.

Dalam keterangannya, Norman menjelaskan bahwa perubahan harga yang dirasakan pedagang di tingkat pasar berkaitan dengan harga yang diterima dari pasar induk. Karena itu, kenaikan dari sumber pasokan tersebut kemudian tercermin pada harga jual di lapak pedagang. Ia menegaskan bahwa cabai rawit merah mengalami lonjakan paling besar, sementara cabai merah keriting juga mengalami kenaikan. Pernyataan Norman memberikan gambaran mengenai perubahan harga cabai yang terjadi di Pasar Gudang Tigaraksa pada saat ia ditemui.

Kemarau panjang menjadi salah satu faktor utama yang mengganggu pasokan cabai dari tingkat petani menuju pasar di Tigaraksa. Curah hujan yang rendah membuat lahan pertanian kehilangan kelembapan, sementara ketersediaan air untuk penyiraman tidak selalu mencukupi. Situasi tersebut menyulitkan petani dalam mempertahankan pertumbuhan tanaman, terutama pada fase pembentukan bunga dan buah yang membutuhkan pasokan air secara stabil.

Kondisi kemarau kali ini disebut berkaitan dengan fenomena El Nino Godzilla, yang memicu cuaca lebih panas dan periode kering lebih lama. Bagi petani cabai, keadaan itu membuat proses tanam menjadi lebih sulit. Persiapan lahan membutuhkan pengelolaan air yang lebih intensif, sedangkan biaya penyiraman meningkat karena sumber air semakin terbatas. Sebagian petani juga harus menunda penanaman hingga kondisi lingkungan dinilai lebih memungkinkan, sehingga jadwal produksi dan masa panen ikut berubah.

Dampak kekeringan tidak hanya terlihat pada berkurangnya luas tanam, tetapi juga pada meningkatnya kerusakan tanaman. Tanaman cabai yang kekurangan air dapat mengalami pertumbuhan terhambat, daun mengering, serta lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Dalam kondisi yang lebih parah, tanaman mati sebelum menghasilkan buah atau sebelum cabai memasuki masa panen. Akibatnya, hasil yang semestinya dikirim ke pasar menjadi lebih sedikit dibandingkan periode normal.

Norman menyebut kondisi kekeringan sebagai pemicu gangguan produksi cabai. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya pasokan bukan semata-mata disebabkan oleh tingginya permintaan, melainkan juga oleh kendala produksi di sentra pertanian. Ketika banyak tanaman mengalami kerusakan atau gagal panen, volume cabai yang masuk ke pasar menurun. Pasokan yang terbatas kemudian memberi tekanan terhadap harga, termasuk cabai rawit merah yang dilaporkan mencapai Rp85 ribu per kilogram di Tigaraksa.

Kenaikan harga cabai di Tigaraksa tidak hanya dirasakan dalam pencatatan harga di pasar, tetapi juga langsung memengaruhi keputusan belanja masyarakat. Konsumen yang biasanya membeli cabai dalam jumlah tertentu kini harus menyesuaikan kebutuhannya dengan uang yang tersedia. Sebagian memilih mengurangi takaran pembelian, sementara lainnya membeli secara eceran agar pengeluaran tetap terkendali. Cabai rawit merah yang mencapai Rp85 ribu per kilogram membuat bahan pangan tersebut semakin sulit dijangkau oleh sebagian rumah tangga.

Penyesuaian pembelian itu dilakukan karena daya beli masyarakat ikut tertekan. Kenaikan harga kebutuhan dapur membuat konsumen harus membagi anggaran secara lebih ketat untuk memenuhi kebutuhan lain, seperti beras, minyak goreng, lauk-pauk, dan biaya transportasi. Dalam kondisi tersebut, cabai tidak lagi dibeli sebanyak biasanya. Konsumen cenderung memilih jumlah yang lebih sedikit, meskipun kebutuhan untuk memasak tetap ada.

Dampaknya turut dirasakan para pedagang di pasar. Ketika jumlah pembelian menurun, perputaran barang menjadi lebih lambat dan pendapatan harian ikut berkurang. Pedagang harus menghadapi situasi ketika harga dari pemasok meningkat, tetapi kemampuan konsumen untuk membayar tidak mengalami peningkatan yang sama. Kondisi ini membuat ruang pedagang untuk memperoleh omzet menjadi semakin terbatas.

Norman, salah seorang pedagang, mengungkapkan bahwa penurunan pembelian konsumen berpengaruh langsung terhadap pendapatannya. Ia menyebut omzet yang diperoleh kini turun hingga sepertiga dibandingkan pendapatan normal sebelum kenaikan harga terjadi. Menurutnya, pembeli tetap datang ke pasar, tetapi jumlah cabai yang mereka ambil lebih sedikit daripada sebelumnya. Keadaan tersebut menyebabkan transaksi tetap berlangsung, namun nilai setiap transaksi cenderung lebih rendah dan pendapatan pedagang ikut menyusut.