Jakarta | Lao Gan Ma, produsen minyak cabai ikonik asal China, menjadi sorotan setelah beredar laporan bahwa perusahaan berencana mengganti ratusan pekerja pabrik dengan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Kabar tersebut memancing perhatian karena menyentuh isu sensitif: penggunaan otomatisasi di industri manufaktur dan dampaknya terhadap tenaga kerja. Namun, laporan mengenai rencana pengurangan pekerja itu tidak boleh diperlakukan sebagai bukti bahwa pemutusan hubungan kerja massal benar-benar telah dilakukan atau diputuskan. Perusahaan kemudian membantah klaim tersebut, sehingga konteks pernyataan awal dan klarifikasi resmi perlu dibedakan dengan cermat.
Perhatian publik bermula setelah Li Xin, presiden eksekutif sekaligus kepala petugas mutu Lao Gan Ma, membahas pemanfaatan teknologi dalam sebuah konferensi pemerintah provinsi pada akhir September. Pembicaraan itu menyinggung penerapan teknologi untuk mendukung kegiatan produksi, termasuk kemungkinan mengoptimalkan proses di lingkungan pabrik. Setelah pernyataannya diberitakan dan tersebar luas, sejumlah laporan mengaitkan otomatisasi tersebut dengan penggantian pekerja dalam jumlah besar. Hubungan pembahasan teknologi dan dugaan PHK kemudian menjadi pokok perdebatan, meskipun informasi yang beredar tidak serta-merta menunjukkan adanya keputusan resmi tentang jumlah pekerja yang terdampak.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana wacana modernisasi pabrik dapat dengan cepat berkembang menjadi kabar tentang hilangnya pekerjaan. Pemanfaatan sistem cerdas atau mesin otomatis memang dapat mengubah cara perusahaan mengatur proses produksi, tetapi dampaknya bergantung pada teknologi yang digunakan, jenis tugas yang dialihkan, serta kebijakan perusahaan terhadap karyawan. Dalam kasus Lao Gan Ma, penting untuk memisahkan pembahasan mengenai peningkatan efisiensi dari klaim tentang penggantian ratusan pekerja. Klarifikasi perusahaan bahwa kabar PHK massal tidak benar menjadi bagian penting dari pemberitaan, sekaligus mengingatkan pembaca agar menunggu informasi terverifikasi sebelum menyimpulkan bahwa tenaga manusia akan segera tersingkir dari lini produksi.
Li menyampaikan bahwa penerapan kecerdasan buatan membantu Lao Gan Ma mengurangi tingkat kecacatan produk secara signifikan. Pernyataan tersebut dilaporkan oleh media pemerintah di tengah perhatian publik terhadap penggunaan teknologi dalam proses produksi perusahaan. Menurut Li, sistem berbasis AI mendukung pemeriksaan bahan dan mutu secara lebih konsisten, sehingga potensi produk yang tidak memenuhi standar dapat ditekan. Perusahaan juga membukukan pendapatan rekor sebesar 5,4 miliar yuan pada 2025, atau sekitar Rp14,73 triliun. Angka pendapatan itu menjadi salah satu konteks penting dalam pembahasan mengenai modernisasi operasional Lao Gan Ma, meskipun tidak dengan sendirinya menjelaskan dampak otomatisasi terhadap seluruh pekerja.
Perhatian terhadap isu tenaga kerja muncul setelah sebuah lini produksi pemeriksaan cabai disebut mengalami perubahan jumlah personel. Sebelum sistem pemeriksaan cabai berbasis AI diperkenalkan, lini tersebut mempekerjakan lebih dari 600 orang. Setelah sistem itu diterapkan pada tahun sebelumnya, jumlah pekerja yang bertugas di lini yang sama dilaporkan turun menjadi 48 orang. Perubahan yang besar itu menjadi pemicu kontroversi dan memunculkan anggapan bahwa otomatisasi telah menyebabkan pemutusan hubungan kerja massal di perusahaan. Namun, angka tersebut menggambarkan satu bagian tertentu dari proses produksi, bukan jumlah keseluruhan tenaga kerja Lao Gan Ma.
Pembedaan cakupan angka itu penting agar informasi mengenai otomatisasi tidak ditafsirkan secara berlebihan. Data dari satu lini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja pada tugas pemeriksaan cabai dapat berubah ketika teknologi mengambil alih sebagian proses, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh pekerja perusahaan terdampak dengan cara yang sama. Pernyataan Li mengenai penurunan kecacatan produk dan pendapatan rekor juga perlu dipahami sebagai klaim tentang hasil operasional, bukan bukti langsung mengenai kondisi ketenagakerjaan secara menyeluruh. Dengan demikian, pembahasan yang akurat perlu memisahkan capaian produksi, perubahan jumlah pekerja pada lini tertentu, dan jumlah karyawan perusahaan secara keseluruhan. Konteks tersebut membantu menjelaskan mengapa angka 600 lebih menjadi sorotan, sekaligus mencegahnya diperlakukan sebagai gambaran lengkap tentang skala PHK di Lao Gan Ma.
Kontroversi mengenai otomatisasi di Lao Gan Ma memicu kritik luas di media sosial China. Sejumlah pengguna menilai perusahaan tampak lebih mengutamakan keuntungan dan efisiensi produksi daripada kesejahteraan pekerja. Sorotan itu terasa tajam karena Lao Gan Ma dikenal memiliki akar kelas pekerja, sehingga sebagian warganet menganggap perlindungan terhadap karyawan semestinya menjadi bagian penting dari identitas dan tanggung jawab perusahaan. Perdebatan tersebut bukan hanya berkisar pada teknologi yang digunakan, tetapi juga pada dampaknya terhadap orang-orang yang selama ini menjalankan pekerjaan di pabrik. Bagi para pengkritik, modernisasi tidak seharusnya mengabaikan nasib pekerja ketika perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi.
Pengguna Weibo bernama Black Dragon menyebut situasi tersebut ironis dan tidak etis. Komentar itu mencerminkan pandangan bahwa perusahaan dengan latar belakang yang lekat dengan kelas pekerja seharusnya memperlakukan karyawannya secara lebih adil, bukan hanya mengejar pengurangan biaya melalui otomatisasi. Kritik serupa muncul dari pengguna yang menilai bahwa jika kabar mengenai pemutusan hubungan kerja benar, konsumen memiliki alasan moral untuk mempertanyakan dukungan mereka terhadap merek tersebut. Meski perusahaan membantah klaim PHK massal, diskusi tetap berkembang karena warganet memperdebatkan hubungan penerapan mesin, keberlangsungan pekerjaan, dan tanggung jawab sosial bisnis.
Ancaman boikot turut memperbesar tekanan publik. Pengguna bernama Xin Ma28 mengatakan produk Lao Gan Ma akan ditarik dari rak jika para pekerja di-PHK. Pernyataan itu menggambarkan cara sebagian konsumen menghubungkan pilihan belanja dengan perlakuan terhadap tenaga kerja: membeli produk bukan sekadar soal rasa atau harga, melainkan juga dukungan terhadap praktik perusahaan. Sebuah tagar terkait kontroversi ini telah meraih lebih dari 120 juta penayangan hingga Rabu. Angka tersebut menunjukkan besarnya perhatian warganet, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh pengguna sepakat atau bahwa boikot benar-benar terjadi. Reaksi yang muncul tetap memperlihatkan kekhawatiran tentang bagaimana perusahaan menyeimbangkan efisiensi, laba, dan kepentingan pekerja.
Lao Gan Ma membantah laporan yang menyebut perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja massal setelah mengadopsi teknologi kecerdasan buatan. Perwakilan perusahaan menyatakan kabar yang beredar tidak akurat dan klaim mengenai banyaknya pekerja yang diberhentikan tidak benar. Pihak perusahaan memang membenarkan bahwa teknologi inspeksi berbasis AI telah digunakan dalam proses produksi. Namun, menurut penjelasannya, lini produksi yang menjadi sorotan sejak awal tidak pernah mempekerjakan sebanyak jumlah karyawan yang disebut dalam laporan. Karena itu, gambaran bahwa sejumlah besar pekerja digantikan secara tiba-tiba oleh mesin tidak sesuai dengan keterangan perusahaan.
Bantahan tersebut muncul saat kekhawatiran mengenai pengaruh AI terhadap pekerjaan semakin terasa di China, terutama pada sektor padat karya yang bergantung pada tenaga manusia dalam jumlah besar. Otomatisasi dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja dan jenis keterampilan yang dibutuhkan, sehingga perkembangan teknologi kerap memunculkan pertanyaan tentang keamanan pekerjaan. Di tengah kekhawatiran itu, pemerintah Beijing berjanji melindungi lapangan kerja dan meningkatkan perekrutan, bahkan ketika penerapan AI terus dipercepat. Pernyataan tersebut mencerminkan upaya menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan kebutuhan menjaga kesempatan kerja bagi masyarakat.
Pasar tenaga kerja China juga menghadapi tekanan dari sejumlah faktor yang saling berkaitan. Kondisi ekonomi, perubahan demografi, serta kemajuan teknologi turut membentuk tantangan bagi pekerja dan pemberi kerja. Perkembangan AI menjadi bagian dari perubahan itu, tetapi perdebatan mengenai konsekuensinya tidak selalu bertumpu pada informasi yang telah dipastikan. Dalam kasus Lao Gan Ma, penjelasan perusahaan membedakan penggunaan teknologi inspeksi dari klaim bahwa perusahaan melakukan PHK massal.
Baca juga: Tantangan Dirjen Pemasyarakatan di Tengah Kontroversi Lapas Cibinong
155 kunjungan





