Bisnis  

Peluang Ekonomi Industri Gim Indonesia: Proyeksi, Kondisi, dan Langkah Penguatan

Peluang Ekonomi Industri Gim Indonesia: Proyeksi, Kondisi, dan Langkah Penguatan

Jakarta | Laporan Tencent dan Access Partnership memproyeksikan bahwa industri gim Indonesia berpotensi menyumbang hingga 3,3 miliar dolar AS, atau sekitar Rp59 triliun, pada 2030 jika pertumbuhannya mengikuti skenario yang dipercepat. Angka tersebut merupakan estimasi untuk masa depan, bukan nilai kontribusi yang telah tercapai saat ini. Proyeksi ini menggambarkan ruang ekonomi yang dapat terbuka apabila berbagai unsur industri berkembang secara bersamaan, mulai dari pengembang gim dan penerbit hingga layanan pendukung, distribusi digital, serta kegiatan kreatif terkait. Besarnya potensi juga mencerminkan peluang untuk memperkuat peran gim sebagai bagian dari ekonomi kreatif nasional.

Dalam skenario yang sama, pengembangan industri gim berpotensi mendukung sekitar 476.600 lapangan kerja. Dukungan tersebut dapat mencakup pekerjaan langsung di studio dan perusahaan gim, serta kesempatan di bidang lain yang terhubung dengan produksi dan pemasaran. Kebutuhan industri, misalnya, dapat mendorong permintaan terhadap keahlian desain, pemrograman, seni digital, penulisan, pengelolaan produk, dan komunikasi. Namun, proyeksi jumlah pekerjaan tidak serta-merta berarti seluruh posisi akan terbentuk tanpa upaya. Realisasinya akan bergantung pada pertumbuhan perusahaan, ketersediaan talenta yang sesuai, investasi, serta kemampuan pelaku usaha untuk membangun model bisnis yang bertahan dalam jangka panjang.

Direktur Urusan Publik Global Tencent untuk Asia Pasifik, Monrawee Ampolpittayanant, melihat peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan kekuatan pasar gim lokal menjadi ekosistem kreatif dan produksi. Pandangan ini menempatkan pasar domestik bukan hanya sebagai kumpulan pemain, tetapi juga sebagai landasan bagi penciptaan karya dan kegiatan usaha. Studio lokal, menurut arah peluang tersebut, dapat mengembangkan kekayaan intelektual orisinal, membangun bisnis berkelanjutan, dan menjangkau audiens global. Dengan demikian, potensi ekonomi yang diproyeksikan tidak hanya berkaitan dengan nilai pasar, tetapi juga kapasitas Indonesia menghasilkan produk yang memiliki identitas dan daya saing. Pencapaian tujuan itu memerlukan dukungan terhadap pengembangan talenta, pembiayaan, kolaborasi, dan akses ke pasar internasional.

Berdasarkan laporan yang menjadi rujukan, industri gim Indonesia mencatatkan pendapatan total sebesar 1,3 miliar dolar AS, atau sekitar Rp23 triliun. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai skala nilai ekonomi yang tercatat dalam industri ini. Pada periode yang sama, aktivitas sektor tersebut disebut menyerap tenaga kerja sebanyak 257.400 orang. Laporan juga mencantumkan kontribusi industri gim terhadap produk domestik bruto Indonesia sebesar 0,12 persen. Ketiga ukuran itu—pendapatan, tenaga kerja, dan kontribusi PDB—menjadi indikator dasar untuk membaca posisi industri gim di dalam perekonomian nasional dan memahami gambaran pasar yang dipaparkan laporan.

Komposisi pendapatan yang dicantumkan laporan terbagi ke dalam empat sumber. Perangkat keras dan periferal menjadi bagian terbesar, dengan porsi 47 persen. Esports menyumbang 24 persen, sementara kegiatan ritel berkontribusi 22 persen. Adapun pengembangan dan perilisan gim baru tercatat sebesar 7 persen. Persentase tersebut menggambarkan perbandingan porsi masing-masing sumber dalam komposisi pasar yang dilaporkan, bukan pembagian yang sama besar di seluruh kegiatan industri. Dengan demikian, angka pendapatan total perlu dibaca bersama rincian sumbernya agar terlihat bagaimana nilai pasar didistribusikan di kategori-kategori tersebut.

Rincian itu menunjukkan bahwa pengembangan dan perilisan gim baru memiliki kontribusi paling kecil di empat sumber pendapatan yang disebutkan. Porsinya, sebesar 7 persen, berada di bawah kontribusi perangkat keras dan periferal, esports, maupun ritel. Sebaliknya, perangkat keras dan periferal menempati porsi terbesar, disusul esports dan ritel. Perbedaan ini menegaskan bahwa komposisi pendapatan industri gim Indonesia dalam laporan lebih banyak berasal dari tiga kategori tersebut dibandingkan dari pengembangan serta perilisan gim baru. Angka-angka ini menyajikan potret kondisi pasar saat ini sebagaimana dilaporkan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai faktor yang membentuk besarnya masing-masing porsi.

Laporan regional ini memetakan perkembangan industri gim di lima negara Asia Tenggara: Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Cakupannya memperlihatkan ukuran kontribusi industri terhadap perekonomian serta perbedaan posisi tiap negara di dalam pasar yang terus berkembang. Karena angka yang disajikan merupakan agregat regional dan perbandingan antarnegara, angka tersebut perlu dibaca terpisah dari proyeksi khusus Indonesia. Pembedaan ini penting agar nilai ekonomi gabungan tidak dianggap sebagai kontribusi Indonesia semata.

Pada 2025, industri gim di kelima negara tersebut diperkirakan menghasilkan nilai tambah gabungan sebesar 8,2 miliar dolar AS, atau sekitar Rp148 triliun, terhadap produk domestik bruto. Nilai tambah ini menggambarkan arti ekonomi kegiatan terkait gim dalam cakupan laporan, bukan pendapatan satu perusahaan ataupun nilai pasar Indonesia saja. Dengan demikian, angka tersebut memberi konteks tentang skala industri di kawasan, sementara kondisi nasional tetap perlu dinilai berdasarkan data dan asumsi Indonesia secara tersendiri.

Komposisi kontribusi antarnegara menunjukkan Malaysia memimpin dengan 31 persen dari industri gim ASEAN yang dibahas dalam laporan. Indonesia dan Thailand masing-masing menyumbang 21 persen, sedangkan Singapura berkontribusi 16 persen dan Filipina 12 persen. Persentase tersebut berjumlah 100 persen dan menegaskan bahwa Indonesia berada di kelompok utama, tetapi bukan penyumbang terbesar. Posisi ini dapat menjadi tolok ukur regional untuk membaca potensi, sekaligus menilai ruang penguatan ekosistem gim domestik.

Untuk 2030, laporan memproyeksikan industri gim ASEAN dapat memberikan kontribusi sebesar 14,2 miliar dolar AS, setara sekitar Rp256 triliun, dan menciptakan 1.160.000 pekerjaan. Proyeksi itu berlaku bagi kawasan dalam cakupan laporan, bukan sasaran atau ramalan khusus Indonesia. Besarnya peluang regional bergantung pada perkembangan industri di seluruh negara yang diteliti, sehingga tidak tepat mengalihkan nilai kontribusi ataupun jumlah pekerjaan tersebut langsung kepada Indonesia.

Bagi pembaca yang menilai peluang ekonomi nasional, temuan regional ini berfungsi sebagai latar pembanding, bukan pengganti proyeksi Indonesia. Perkiraan khusus Indonesia harus merujuk pada cakupan, metode, periode, dan asumsi tersendiri. Dengan pemisahan tersebut, kontribusi Indonesia sebesar 21 persen dapat dipahami sebagai pangsa dalam agregat lima negara, sedangkan angka 8,2 miliar dolar AS dan proyeksi 14,2 miliar dolar AS tetap menunjukkan skala ekonomi kawasan secara keseluruhan.

Penguatan studio lokal memerlukan akses pembiayaan yang sesuai dengan tahapan pengembangan gim, sebab kebutuhan membuat prototipe berbeda dari modal untuk produksi dan pemasaran. Laporan merekomendasikan perluasan dukungan melalui hibah prototipe, pendanaan pendamping, serta pinjaman berbunga ringan. Hibah dapat membantu tim menguji konsep dan membuat versi awal tanpa menanggung seluruh risiko biaya. Setelah potensi produk terlihat, pendanaan pendamping dapat menjaga kelanjutan produksi, sementara pinjaman dengan beban bunga lebih rendah dapat menopang kebutuhan komersialisasi. Rangkaian instrumen ini penting agar lebih banyak gim buatan Indonesia mencapai pasar dan studio tidak berhenti pada tahap purwarupa. Perancangan program perlu mempertimbangkan skala studio, transparansi seleksi, serta pendampingan yang relevan dengan kebutuhan usaha.

Arah berikutnya adalah menyederhanakan proses pendaftaran, penilaian, dan pembiayaan kekayaan intelektual lokal. Prosedur yang mudah dipahami dapat mengurangi hambatan administratif bagi studio, khususnya tim kecil yang memiliki sumber daya terbatas. Penilaian yang jelas juga membantu pengembang memahami nilai dan potensi komersial karya mereka. Dengan akses pembiayaan yang lebih baik, studio dapat mengembangkan gim berbasis kekayaan intelektual sendiri, sekaligus merencanakan pemasaran dan distribusi dalam jangka panjang. Tujuannya bukan hanya menghasilkan satu produk, melainkan membangun kemampuan penerbitan yang berkelanjutan. Bisnis penerbitan yang kuat memungkinkan studio mengelola lebih banyak judul, menjaga hubungan dengan pemain, serta memperoleh pendapatan yang dapat mendukung proyek berikutnya.

Baca juga: Reforma Agraria Di Indonesia: Langkah Untuk Kesejahteraan Masyarakat | Pentingnya Penguatan Manajemen Risiko Kredit di Bank-Bank Himbara | Tantangan Baru dalam Industri Nikel Indonesia