JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Polsek Bojonggede melakukan penyekatan di Stasiun KRL Bojonggede dan sejumlah ruas jalan utama pada Selasa, 29 September 2026. Langkah pengamanan tersebut dilakukan menjelang aksi demonstrasi puluhan ribu buruh yang dipusatkan di Jakarta. Petugas ditempatkan pada titik-titik yang dinilai penting untuk memantau arus pergerakan masyarakat serta menjaga situasi tetap aman dan tertib.
Penyekatan di area stasiun menjadi bagian dari antisipasi terhadap kemungkinan mobilisasi massa menggunakan transportasi umum. Stasiun KRL Bojonggede merupakan salah satu simpul perjalanan yang menghubungkan wilayah Kabupaten Bogor dengan Jakarta. Karena itu, pengawasan diperketat untuk mengantisipasi pergerakan massa menuju ibu kota menjelang pelaksanaan aksi buruh.
Selain kawasan stasiun, pengamanan juga dilakukan di sejumlah ruas jalan utama yang menghubungkan Bojonggede dengan wilayah sekitarnya. Penempatan personel pada jalur-jalur tersebut dimaksudkan untuk memantau situasi lalu lintas dan mencegah gangguan keamanan selama arus perjalanan berlangsung. Petugas juga menjalankan penyekatan secara terukur dengan memperhatikan kondisi di lapangan.
Posisi Bojonggede sebagai wilayah perbatasan kawasan Bogor dan jalur menuju Jakarta membuat daerah ini memiliki peran penting dalam pengamanan mobilisasi massa. Setiap pergerakan dari arah Bogor menuju ibu kota berpotensi melintasi kawasan tersebut, baik melalui jalur kereta maupun jalan raya. Oleh sebab itu, langkah Polsek Bojonggede diarahkan untuk memastikan aktivitas warga tetap berlangsung dengan tertib, sekaligus mengantisipasi dampak keamanan menjelang aksi buruh di Jakarta.
Kapolsek Bojonggede AKP Abdullah Syafiih menyampaikan bahwa fokus pengamanan menjelang aksi buruh di Jakarta diarahkan pada moda transportasi publik, terutama layanan kereta rel listrik (KRL). Pengamanan tersebut dilakukan untuk menjaga situasi di titik-titik yang menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat, termasuk Stasiun Bojonggede. Penempatan personel di lokasi itu menjadi salah satu langkah kepolisian dalam mengantisipasi dinamika pergerakan penumpang menjelang kegiatan aksi.
Di Stasiun Bojonggede, sebanyak tujuh personel ditempatkan untuk melaksanakan pengamanan. Penebalan personel mulai berlangsung pada pukul 07.00 WIB dan akan terus dilakukan hingga situasi dinyatakan kondusif. Keterangan tersebut menegaskan bahwa pengamanan disiapkan dengan memperhatikan waktu mobilitas masyarakat serta perkembangan kondisi di lapangan. Personel yang berada di stasiun menjalankan tugas pengamanan sesuai arahan kepolisian selama periode tersebut.
Pengamanan tidak hanya difokuskan pada area stasiun. Kepolisian juga menempatkan personel di jalur darat utama yang berpotensi menjadi lintasan masyarakat, termasuk kawasan Pos Bambu Kuning. Sebanyak 10 personel ditugaskan untuk menjaga pos tersebut sebagai bagian dari pengamanan jalur transportasi darat. Dengan demikian, penebalan personel mencakup dua unsur mobilitas, yakni akses transportasi publik melalui Stasiun Bojonggede dan jalur darat utama di wilayah sekitarnya.
Langkah pengamanan ini merupakan bagian dari kesiapsiagaan Polsek Bojonggede menjelang aksi buruh di Jakarta. Penempatan personel di stasiun dan pos jalur darat dilakukan untuk memantau situasi serta menjaga kondisi tetap aman selama kegiatan berlangsung. Durasi pengamanan di Stasiun Bojonggede disesuaikan dengan perkembangan keadaan, yakni sejak pukul 07.00 WIB sampai situasi dinyatakan kondusif. Adapun pengamanan di Pos Bambu Kuning melibatkan 10 personel sesuai penempatan yang telah disiapkan kepolisian.
Kepolisian turut memperhatikan kemungkinan keterlibatan pelajar sekolah menengah dalam aksi unjuk rasa yang berpotensi berlangsung menjelang kegiatan buruh di Jakarta. Pengawasan tersebut ditempatkan sebagai langkah antisipatif untuk mencegah pelajar terseret ke dalam situasi yang tidak berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Pemantauan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi wilayah serta komunikasi bersama pihak sekolah.
Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah skema preventive strike melalui program “bapak asuh”. Dalam skema ini, personel kepolisian membangun pendekatan langsung dengan mendatangi sekolah-sekolah yang berada di wilayah hukum Polsek Bojonggede. Kunjungan tersebut menjadi sarana untuk menyampaikan imbauan, memperkuat koordinasi, dan mengingatkan pihak sekolah mengenai pentingnya menjaga aktivitas pelajar tetap aman serta kondusif.
Program “bapak asuh” juga diarahkan untuk membuka komunikasi yang lebih dekat kepolisian, tenaga pendidik, dan lingkungan sekolah. Melalui hubungan tersebut, informasi mengenai potensi gangguan dapat dipantau secara lebih awal tanpa mengganggu proses belajar mengajar. Pihak sekolah diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada siswa agar tidak mudah terpengaruh ajakan yang berisiko menempatkan mereka dalam kerumunan aksi.
Berdasarkan pemetaan kepolisian, tidak terdapat sekolah yang termasuk dalam zona merah di wilayah hukum Polsek Bojonggede. Sebanyak 15 sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan, atau SMA dan SMK, seluruhnya dikategorikan sebagai zona hijau. Klasifikasi ini menunjukkan bahwa langkah pengawasan dilakukan sebagai upaya pencegahan dan penguatan kewaspadaan, bukan karena adanya keterangan bahwa pelajar telah terlibat dalam aksi. Koordinasi dengan sekolah tetap dijalankan untuk menjaga situasi tetap tertib.
Pelaksanaan pengamanan di Bojonggede juga dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan penyuluhan langsung ke sekolah-sekolah yang telah ditentukan. Program tersebut melibatkan tim yang diterjunkan ke lapangan untuk berinteraksi dengan para siswa. Setiap tim terdiri atas satu perwira dan tiga anggota. Dengan pembagian personel tersebut, kegiatan dapat dilaksanakan secara terarah sesuai dengan lokasi sekolah yang menjadi sasaran.
Tim mendatangi sekolah sesuai jadwal dan penentuan yang telah dilakukan. Di lokasi, personel memberikan sosialisasi serta penyuluhan secara langsung kepada siswa. Penyampaian tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian untuk membangun pemahaman di lingkungan sekolah, khususnya ketika terdapat berbagai informasi yang beredar melalui media sosial. Kegiatan tatap muka memungkinkan pesan disampaikan secara langsung kepada siswa di sekolah masing-masing.
Pelaksanaan program ini tidak hanya berfokus pada kehadiran personel, tetapi juga pada penyampaian edukasi kepada pelajar. Setiap anggota tim menjalankan tugas berdasarkan peran yang telah ditetapkan, dengan satu perwira memimpin tiga anggota dalam mendatangi sekolah-sekolah yang telah ditentukan. Pola tersebut diterapkan secara seragam dalam kegiatan sosialisasi dan penyuluhan di lapangan.
Syafiih menegaskan bahwa edukasi memiliki peran penting sebagai benteng untuk menangkal provokasi yang beredar di media sosial. Penegasan itu menjadi dasar pelaksanaan sosialisasi ke sekolah, sehingga siswa memperoleh penyuluhan secara langsung dari tim yang ditugaskan. Melalui kegiatan tersebut, edukasi ditempatkan sebagai bagian penting dalam menjaga pemahaman siswa terhadap informasi yang mereka temui di ruang media sosial.






