Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa jumlah pengguna transportasi publik di Jakarta mencapai 368,4 juta hingga September 2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 10,8 persen. Data yang dipaparkan mencakup penumpang tiga moda utama, yakni Transjakarta, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta.
Pramono menyampaikan informasi itu dalam konferensi pers mengenai realisasi APBD triwulan III 2026. Acara tersebut berlangsung di Balai Kota, Jakarta Pusat, pada Rabu, 21 Oktober. Dalam pemaparannya, ia menyebut total pengguna dari ketiga layanan sebagai gambaran jumlah penumpang angkutan umum yang tercatat hingga September.
Angka 368,4 juta merupakan jumlah gabungan, bukan angka untuk satu moda saja. Dengan demikian, data tersebut merangkum penggunaan Transjakarta, MRT, dan LRT dalam periode yang disebutkan. Kenaikan 10,8 persen juga merujuk pada total pengguna transportasi publik sebagaimana disampaikan dalam laporan itu. Periode pembanding untuk persentase kenaikan tidak disebutkan dalam informasi yang tersedia.
Penyebutan cakupan moda penting agar angka tersebut dibaca secara tepat. Setiap layanan memiliki pencatatan penumpang masing-masing, sedangkan angka yang diumumkan Gubernur merupakan akumulasi dari ketiganya. Karena itu, angka total tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan kontribusi atau tingkat pertumbuhan satu moda tertentu tanpa rincian tambahan.
Pengumuman ini menempatkan jumlah pengguna transportasi publik sebagai salah satu informasi dalam laporan realisasi APBD triwulan III. Namun, data yang disampaikan hanya memuat total penumpang hingga September dan persentase kenaikannya. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai jumlah pengguna per moda, sebaran perjalanan, maupun faktor yang mendorong perubahan tersebut. Informasi tambahan diperlukan untuk menilai perkembangan masing-masing layanan secara terpisah.
Dengan cakupan yang disebutkan secara jelas, laporan tersebut memberi gambaran agregat mengenai pemanfaatan tiga moda angkutan umum di Jakarta sampai September 2026. Pramono menyatakan totalnya mencapai 368,4 juta pengguna dengan kenaikan 10,8 persen. Angka itu menjadi pokok laporan mengenai pengguna transportasi publik yang disampaikan di Balai Kota pada 21 Oktober.
Pramono menilai peningkatan jumlah pengguna angkutan umum di Jakarta mencerminkan peralihan yang cukup signifikan dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Kenaikan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa semakin banyak warga memilih layanan bersama untuk mendukung perjalanan sehari-hari. Penilaian itu memberi konteks pada pertumbuhan pengguna hingga September 2026: angka tersebut tidak hanya dipandang sebagai perubahan jumlah penumpang, tetapi juga sebagai tanda pergeseran pilihan mobilitas masyarakat. Meski demikian, besarnya peralihan dan alasan setiap warga beralih tidak dijelaskan secara terperinci dalam keterangan tersebut.
Pramono menghubungkan perubahan pilihan perjalanan itu dengan konektivitas transportasi publik Jakarta yang ia sebut telah mencapai 93 persen. Angka konektivitas tersebut menjadi dasar penting dalam penilaiannya, karena jaringan yang terhubung dapat membantu warga menjangkau berbagai tujuan dengan layanan angkutan umum. Namun, keterangan yang tersedia tidak merinci cara pengukuran, cakupan wilayah, ataupun indikator yang digunakan untuk memperoleh persentase itu. Karena itu, angka 93 persen perlu dipahami sebagai klaim yang disampaikan Pramono, bukan sebagai hasil penghitungan yang diverifikasi secara terpisah dalam uraian ini.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono menyebut Jakarta berada di peringkat ke-15 dunia untuk konektivitas transportasi publik. Ia juga mengatakan bahwa Jakarta menempati posisi kedua di ASEAN setelah Singapura, serta berada di urutan ketujuh di Asia. Peringkat-peringkat tersebut disampaikan sebagai bagian dari gambaran mengenai posisi Jakarta dibandingkan kota lain dan capaian jaringan transportasinya. Akan tetapi, tidak terdapat keterangan tambahan mengenai lembaga pemeringkat, metodologi, periode penilaian, atau kelompok kota yang menjadi pembanding. Dengan demikian, posisi dunia, ASEAN, dan Asia itu harus diatribusikan kepada Pramono. Angka tersebut bukan hasil verifikasi tambahan di sini, sehingga sebaiknya tidak disajikan sebagai peringkat independen yang telah dikonfirmasi. Keterangan tersebut tetap menggambarkan cara pemerintah daerah menjelaskan kemajuan konektivitas dan perubahan penggunaan angkutan umum, sambil menyisakan kebutuhan akan informasi metodologis untuk menilai perbandingan secara lebih lengkap.Peresmian LRT Kelapa Gading–Manggarai pada Rabu, 16 September, menjadi salah satu perkembangan penting dalam upaya memperkuat konektivitas angkutan umum di Jakarta. Kehadiran jalur ini menambah pilihan perjalanan bagi warga dan menunjukkan perluasan jaringan transportasi berbasis rel di ibu kota. Namun, layanan pada koridor tersebut belum sepenuhnya didukung seluruh stasiun yang direncanakan. Pramono menyampaikan bahwa tiga stasiun masih belum beroperasi. Meski demikian, jumlah penumpang harian telah mencapai 11.361 orang. Angka itu memberi gambaran mengenai minat masyarakat terhadap layanan tersebut, bahkan ketika pembangunan dan kesiapan seluruh titik pemberhentian belum rampung.
Capaian harian tersebut jauh lebih tinggi daripada angka yang sebelumnya disampaikan Pramono, yakni maksimum 4.000 penumpang per hari. Perbandingan ini menunjukkan peningkatan yang cukup besar pada penggunaan LRT Kelapa Gading–Manggarai. Meski begitu, angka penumpang perlu dibaca sesuai konteks: tiga stasiun belum beroperasi, sementara jumlah pengguna dapat dipengaruhi oleh perubahan layanan, pola perjalanan, serta kemudahan akses menuju stasiun yang telah tersedia. Data 11.361 orang menjadi tolok ukur perkembangan terkini, bukan jaminan bahwa kenaikan dengan laju yang sama akan berlangsung terus-menerus. Pemantauan berkala diperlukan untuk memahami bagaimana permintaan berkembang setelah layanan berjalan lebih lengkap.
Pramono memperkirakan jumlah pengguna dapat bertambah lebih tinggi setelah seluruh stasiun selesai dibangun dan beroperasi. Perkiraan itu berkaitan dengan potensi bertambahnya titik akses dan pilihan perjalanan yang dapat dijangkau penumpang. Namun, pertumbuhan tersebut tetap merupakan kemungkinan, bukan kepastian. Realisasinya dapat bergantung pada kesiapan operasional, keterhubungan dengan moda lain, frekuensi layanan, serta kebutuhan perjalanan masyarakat. Karena itu, penyelesaian stasiun menjadi bagian penting dari peningkatan konektivitas, tetapi dampaknya perlu dinilai melalui data setelah seluruh fasilitas tersedia. Untuk saat ini, capaian harian 11.361 penumpang memperlihatkan bahwa jalur tersebut telah digunakan masyarakat, sementara perluasan manfaatnya masih menunggu rampungnya tiga stasiun yang belum beroperasi.
Kenaikan jumlah pengguna angkutan umum di Jakarta turut terlihat pada layanan Transjabodetabek, termasuk rute Bogor–Blok M. Layanan ini menghubungkan wilayah Bogor dengan salah satu kawasan aktivitas utama di Jakarta, sehingga dapat menjadi pilihan perjalanan bagi masyarakat yang bepergian lintas daerah. Perkembangan jumlah penumpang pada rute tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam upaya memperkuat konektivitas transportasi publik di kawasan Jabodetabek.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa rute Bogor–Blok M pada awalnya ditargetkan melayani sekitar 2.000 pengguna. Namun, jumlah penumpang rata-rata kini hampir mencapai 10.000 orang. Perbedaan target awal dan rata-rata saat ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap layanan tersebut. Angka itu juga menggambarkan potensi perjalanan antarkota yang dapat dilayani melalui jaringan angkutan umum.
Perubahan jumlah pengguna menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai kebutuhan layanan dan akses transportasi. Pada saat yang sama, kebijakan akses transportasi publik gratis mengalami perubahan melalui penambahan enam golongan penerima. Dua golongan yang disebut dalam kebijakan tersebut adalah pencari kerja dan pendamping penyandang disabilitas. Penambahan kelompok penerima ini memperluas pihak yang dapat memperoleh akses gratis, meskipun informasi mengenai empat golongan lainnya tidak dirinci di sini.
Peningkatan penumpang pada rute Bogor–Blok M dapat menjadi masukan bagi pemerintah ketika mengevaluasi jaringan yang sudah beroperasi dan kebutuhan perjalanan masyarakat. Perencanaan rute perlu mempertimbangkan koneksi antarkawasan serta kemudahan pengguna menjangkau layanan angkutan umum.
Baca juga: Variasi Harga Emas Perhiasan di Jakarta 14 September 2026 | Peluang Kerja di Job Fair Jakarta Pusat 2026 | Update Kebijakan Ganjil Genap di Puncak Bogor untuk 12-13 September 2026






