Jakarta | Alex Wang mengaku heran ketika Mark Zuckerberg membalas pertanyaannya melalui WhatsApp dengan pesan yang panjang dan terperinci. Wang, yang saat itu masih memimpin Scale AI sebagai CEO sekaligus salah satu pendirinya, tidak menyangka bahwa pertanyaan yang ia kirim akan mendapat tanggapan sedemikian lengkap. Bukan sekadar jawaban singkat atau arahan umum, balasan tersebut memuat pemikiran dan saran yang disampaikan secara mendetail.
Pengalaman itu terjadi sebelum Wang bergabung dengan Meta. Pada masa tersebut, ia masih menjalankan Scale AI dan sesekali menghubungi Zuckerberg untuk meminta nasihat terkait bisnis. Hubungan komunikasi itu, sebagaimana diceritakan Wang, berlangsung dalam konteks seorang pendiri perusahaan yang mencari perspektif dari pemimpin teknologi berpengalaman. Karena itu, kisah ini bukan mengenai percakapan yang terjadi setelah Wang masuk Meta, melainkan interaksi sebelumnya ketika ia masih memimpin perusahaan rintisannya sendiri.
Wang membagikan cerita tersebut dalam podcast Founders. Ia mengungkapkan rasa herannya terhadap perhatian dan waktu yang dicurahkan Zuckerberg untuk merespons pertanyaannya. Panjang pesan itu menjadi hal yang paling membekas: Zuckerberg tidak hanya membalas, tetapi juga memberikan jawaban yang cukup rinci untuk membantu Wang mempertimbangkan persoalan bisnis yang sedang dihadapinya. Cerita tersebut memberi gambaran tentang bagaimana komunikasi informal dapat menjadi sarana bertukar pandangan di kalangan pendiri dan pemimpin perusahaan teknologi.
Kutipan Wang dari percakapan podcast itu dimuat pada 21 Oktober 2026. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa pesan tersebut membuatnya penasaran sekaligus terkesan, terutama karena balasan datang melalui aplikasi yang biasa digunakan untuk komunikasi sehari-hari. WhatsApp menjadi medium untuk membahas pertanyaan bisnis yang lebih serius, sementara isi pesannya menunjukkan kesediaan Zuckerberg untuk memberikan nasihat dengan cermat.
Kisah ini juga menyoroti pentingnya mencari masukan ketika membangun perusahaan. Wang sesekali meminta saran, dan respons yang ia terima tampaknya cukup bermakna hingga ia mengingatnya serta membagikannya kepada pendengar. Namun, inti ceritanya tetap sederhana: sebelum bergabung dengan Meta, Wang bertanya kepada Zuckerberg sebagai CEO Scale AI, lalu terkejut menerima balasan WhatsApp yang panjang dan mendetail.
Setelah memperhatikan pesan panjang Mark Zuckerberg di WhatsApp, Alex Wang memahami bahwa kemampuan menulis itu bukan sekadar kebiasaan mengetik banyak kata. Zuckerberg tampak telah mengasah cara menyampaikan gagasan dengan cepat sekaligus tepat. Ia dapat merangkai tanggapan yang memuat banyak detail tanpa membuat isinya kehilangan arah atau ketelitian. Bagi Wang, hal tersebut menunjukkan keterampilan yang terbentuk melalui latihan: kecepatan tidak hadir dengan mengorbankan mutu. Pesan yang panjang tetap terasa terstruktur, relevan, dan mampu menjawab hal-hal yang dibahas. Pengamatan ini mengubah rasa penasaran Wang menjadi penghargaan terhadap kecakapan komunikasi yang lebih mendasar di balik pesan tersebut.
Wang menilai bahwa kemampuan itu membuat Zuckerberg menjadi komunikator yang efektif dan mengesankan. Keefektifan tersebut terlihat dari perpaduan keluasan jawaban dan ketepatan penyampaian. Alih-alih sekadar merespons dengan singkat, Zuckerberg mampu menguraikan pikirannya secara teliti, sehingga penerima memperoleh gambaran yang lebih lengkap. Pada saat yang sama, uraian itu dapat disusun dalam waktu singkat. Kombinasi ini penting karena komunikasi yang cepat sering kali berisiko menjadi terburu-buru atau kurang jelas. Dalam pengamatan Wang, Zuckerberg justru mampu menjaga mutu ketika menulis dengan cepat. Panjang pesan, dengan demikian, bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian; kualitas penjelasannya juga menjadi bagian penting.
Penilaian Wang menyoroti keterampilan yang kerap luput ketika orang hanya melihat hasil akhir berupa pesan panjang. Menulis dengan cepat dan akurat menuntut kemampuan memilih informasi, menyusun urutan gagasan, serta menyampaikan maksud tanpa mengaburkan pokok pembahasan. Zuckerberg dinilai mampu melakukan hal-hal tersebut dalam tanggapannya. Karena itu, pesan WhatsApp tersebut memberi Wang gambaran tentang cara Zuckerberg berkomunikasi: terperinci, tanggap, dan tetap terarah. Kesan yang muncul bukan semata-mata bahwa ia dapat menulis banyak, melainkan bahwa ia sanggup menghasilkan jawaban bermutu dengan segera. Bagi Wang, kecakapan seperti itu menjadikan Zuckerberg sosok yang mengesankan dalam komunikasi tertulis, terutama saat menghadapi percakapan yang membutuhkan penjelasan menyeluruh.
Dalam menilai pesan panjang Mark Zuckerberg di WhatsApp, Alex Wang tertarik bukan hanya pada isi komunikasi tersebut, tetapi juga pada cara Zuckerberg tampak membagi perhatian di tengah beragam tanggung jawab. Menurut Wang, menjalankan perusahaan besar menuntut banyak waktu dan fokus, sementara kehidupan pribadi tetap memerlukan kehadiran yang nyata. Ia melihat kemampuan menentukan prioritas secara tegas sebagai bagian penting dari cara Zuckerberg mengelola tuntutan-tuntutan itu. Penilaian ini menggambarkan pandangan Wang terhadap pilihan yang dibuat Zuckerberg, bukan ukuran pasti mengenai bagaimana keseimbangan kehidupan seseorang seharusnya dijalankan.
Wang menyoroti bahwa di balik jabatan dan urusan profesional, Zuckerberg juga memiliki peran sebagai ayah dan pasangan. Dari sudut pandang Wang, perhatian terhadap keluarga tidak harus berarti mengabaikan pekerjaan, sebagaimana kesibukan kerja tidak otomatis meniadakan ruang untuk kehidupan rumah tangga. Kuncinya, menurutnya, terletak pada keputusan yang jelas tentang hal apa yang perlu didahulukan pada waktu tertentu. Dengan memilih prioritas secara sadar, seseorang dapat mengalokasikan perhatian dan waktunya sesuai tanggung jawab yang sedang dihadapi. Wang menempatkan hal tersebut sebagai cara yang memungkinkan Zuckerberg menjalankan beberapa peran sekaligus, bukan sebagai bukti bahwa setiap tuntutan selalu dapat dipenuhi dengan mudah.
Pandangan Wang juga memberi konteks pada rasa penasarannya terhadap pesan WhatsApp tersebut. Ia ingin memahami bagaimana seseorang dengan tanggung jawab profesional yang besar tetap memberi tempat bagi keluarga dan hubungan personal. Dalam penilaiannya, ketegasan menentukan prioritas membantu Zuckerberg mengurus pekerjaan, menjadi ayah, serta hadir sebagai pasangan, di samping hal-hal lain yang membutuhkan perhatian. Penjelasan itu tetap merupakan interpretasi Wang atas cara Zuckerberg membagi fokus. Ia tidak menyatakan bahwa pembagian waktu tersebut berlangsung tanpa kompromi, atau bahwa pendekatan yang sama cocok bagi semua orang. Sebaliknya, pandangannya menekankan keputusan individual untuk mengenali tanggung jawab yang penting dan mengatur perhatian berdasarkan pilihan tersebut. Karena itu, pesan panjang itu memancing rasa ingin tahu Wang mengenai cara prioritas pribadi berperan dalam kehidupan seseorang yang menjalani banyak tanggung jawab.Hubungan profesional Mark Zuckerberg dan Alex Wang bermula sebelum keduanya bekerja bersama di Meta. Sekitar 2021–2022, Wang diperkenalkan kepada Zuckerberg melalui Alex Schultz, eksekutif Meta. Pada masa itu, minat Zuckerberg terhadap kecerdasan buatan mulai berkembang, sementara Wang telah membangun ScaleAI menjadi perusahaan penting dalam penyediaan data dan layanan untuk pengembangan AI. Perkenalan tersebut membuka jalur komunikasi keduanya, meski belum langsung berujung pada keputusan Wang untuk meninggalkan perusahaan yang ia dirikan.
Beberapa tahun kemudian, lanskap persaingan AI berubah cepat. Meta menghadapi tantangan untuk mengejar para pengembang lain yang telah bergerak lebih maju dalam membangun model dan teknologi AI. Dalam situasi itu, Zuckerberg ingin bekerja lebih dekat dengan Wang dan mengajaknya berperan dalam upaya Meta memperkuat kemampuan AI. Ajakan tersebut bukan sekadar tawaran pekerjaan biasa: Zuckerberg sedang mencari sosok yang dapat membantu perusahaan merancang langkah strategis dan mengembangkan ambisi jangka panjangnya di bidang kecerdasan buatan.
Namun, Wang tidak langsung menerima tawaran tersebut. Ia masih memimpin ScaleAI, perusahaan yang telah dibangunnya, sehingga keputusan untuk meninggalkan peran itu melibatkan pertimbangan besar. Wang dan Zuckerberg kemudian berdiskusi selama berminggu-minggu mengenai arah Meta, rencana pengembangan AI, serta posisi yang dapat diambil Wang di dalam perusahaan.
Baca juga: Krisis Air Bersih Akibat Kemarau Panjang di Depok | Peduli Kemarau Panjang, Kodim Bojonegoro Salurkan 130 Ribu Liter Air Bersih Setiap Hari | Hujan Pertama di Parung Panjang Setelah Musim Kemarau






