Budaya  

Prambanan Diarahkan Menjadi Ruang Budaya dan Wisata Religi yang Hidup

Prambanan Diarahkan Menjadi Ruang Budaya dan Wisata Religi yang Hidup

Kabupaten Sleman | Kementerian Pariwisata mendorong agar kompleks Candi Prambanan dipahami lebih luas daripada sekadar tujuan wisata. Kawasan bersejarah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang budaya dan wisata religi yang hidup, sekaligus tetap menjadi tempat yang menarik bagi pengunjung. Dengan demikian, pengalaman datang ke Prambanan tidak hanya berkaitan dengan melihat bangunan candi, tetapi juga dengan mengenali nilai sejarah, kebudayaan, dan keagamaan yang melekat pada kawasan tersebut.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa upaya menghidupkan fungsi tersebut perlu berjalan seiring dengan pengenalan dan pemahaman masyarakat terhadap Prambanan. Ketika masyarakat mengetahui makna serta nilai yang terkandung di dalamnya, kedekatan dengan kawasan diharapkan tumbuh secara alami. Pemahaman itu juga menjadi dasar untuk membangun rasa cinta dan kepedulian, sehingga masyarakat tidak memandang candi semata sebagai objek kunjungan, melainkan sebagai warisan yang perlu dihargai dan dijaga bersama.

Dalam pengembangan kawasan, kegiatan kebudayaan dan keagamaan dapat memberi ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi dengan nilai-nilai Prambanan secara lebih bermakna. Pendekatan ini menempatkan pelestarian sebagai bagian penting dari pengalaman wisata, bukan sebagai hal yang terpisah. Pengunjung dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik, sementara masyarakat memiliki kesempatan untuk terlibat dalam menjaga hubungan warisan sejarah dan kehidupan masa kini. Harapannya, aktivitas yang berlangsung tetap menghormati karakter kawasan serta mendukung kepedulian terhadap kelestariannya.

Keterangan tersebut disampaikan Ni Luh Puspa dalam konferensi pers di Jakarta pada Sabtu. Dorongan untuk menjadikan Prambanan sebagai ruang budaya dan wisata religi menunjukkan pentingnya keseimbangan pemanfaatan dan perawatan. Semakin kuat pemahaman publik terhadap nilai kawasan, semakin besar pula peluang tumbuhnya tanggung jawab bersama. Dengan keterlibatan masyarakat dan perhatian terhadap warisan yang ada, Prambanan dapat terus dikenal sebagai destinasi wisata sekaligus ruang yang memiliki arti budaya dan keagamaan bagi banyak orang.

Kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Letaknya yang berada di dua wilayah administratif menjadikan Prambanan sebagai situs yang berkaitan dengan kedua daerah tersebut. Bagi pengunjung, informasi mengenai lokasi ini membantu menempatkan kompleks candi dalam konteks geografis yang jelas, sekaligus memahami bahwa kawasan Prambanan tidak hanya berada di satu kabupaten atau satu provinsi. Penyebutan Sleman dan Klaten penting untuk mengenali cakupan lokasinya secara tepat. Prambanan juga tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1991, sebuah pengakuan yang menandai arti penting kompleks ini sebagai warisan yang diakui secara internasional.

Kompleks Prambanan dikenal sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Bangunan ini didirikan pada abad ke-9 Masehi, sehingga memiliki nilai sejarah yang berhubungan dengan masa pembangunannya. Keterangan mengenai ukuran dan periodenya memberi pengunjung landasan untuk memahami posisi Prambanan sebagai peninggalan penting, tanpa perlu memisahkan nilai sejarah dari pengalaman berkunjung pada masa kini. Pengakuan UNESCO pada 1991 turut memperkuat perhatian terhadap keberadaan situs ini sebagai warisan dunia. Dengan demikian, informasi dasar tentang lokasi, masa pembangunan, dan status pengakuan dapat menjadi pintu awal untuk mengenal Prambanan. Hal-hal tersebut juga memberi konteks bagi pembicaraan mengenai fungsi dan makna kompleks candi bagi masyarakat serta pengunjung.

Ni Luh memandang Prambanan sebagai ruang spiritual sekaligus ruang edukasi bagi pengunjung. Dalam pandangan ini, kompleks candi tidak hanya dikenali melalui nilai sejarahnya, tetapi juga dapat menjadi tempat bagi pengunjung untuk merasakan sisi spiritual dan memperoleh pengalaman belajar. Kedua peran tersebut hadir berdampingan: Prambanan memberi ruang bagi pengalaman spiritual, sekaligus membuka kesempatan untuk memahami warisan budaya yang ada di kawasan tersebut. Pandangan Ni Luh menempatkan pengunjung sebagai bagian dari pengalaman di Prambanan, baik mereka yang datang untuk tujuan spiritual maupun untuk belajar. Pemaknaan ini selaras dengan upaya melihat Prambanan sebagai ruang budaya dan wisata religi yang hidup, dengan tetap bertumpu pada informasi mengenai lokasi, usia, dan pengakuan situs tersebut.

Prambanan Shiva Festival direncanakan berlangsung pada 6 Januari hingga 7 Maret 2027 dengan tema “The Holy Month of Shiva for Spiritual, Peace and Harmony”. Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan Prambanan sebagai warisan budaya, bukan hanya sebagai bangunan bersejarah yang dikunjungi untuk melihat arsitektur dan reliefnya. Melalui festival, kawasan candi diharapkan dapat menghadirkan ruang bagi pengalaman budaya dan religi yang bermakna, sekaligus tetap menjaga nilai sejarah serta kesakralan situs. Tema festival menempatkan spiritualitas, kedamaian, dan harmoni sebagai pesan utama yang dapat dijumpai pengunjung sepanjang kegiatan berlangsung.

Penyelenggaraan festival juga diharapkan menarik lebih banyak wisatawan untuk mengenal Prambanan melalui kegiatan berbasis budaya. Pengalaman berkunjung yang terhubung dengan nilai dan kisah candi dapat memperkaya perjalanan wisata, sekaligus mendorong kepedulian terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya. Dengan pendekatan tersebut, Prambanan berpeluang semakin dikenal sebagai tujuan wisata religi unggulan di Yogyakarta. Promosi ini tidak hanya ditujukan untuk menambah kunjungan, tetapi juga mengajak masyarakat memahami bahwa keberlanjutan destinasi bergantung pada penghormatan terhadap situs dan keterlibatan bersama dalam merawatnya.

Ni Luh menekankan bahwa setiap kegiatan perlu menghormati dan melindungi kawasan candi. Pengelolaan festival harus mempertimbangkan kenyamanan umat yang beribadah maupun wisatawan yang datang berkunjung, sehingga aktivitas budaya tidak mengganggu fungsi dan suasana tempat suci. Perhatian terhadap tata tertib, kondisi kawasan, serta kebutuhan berbagai kelompok pengunjung menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan. Pada saat yang sama, festival diharapkan memberi pengalaman yang berkesan, bukan sekadar hiburan atau agenda kunjungan. Pengunjung dapat memperoleh pemahaman lebih dalam tentang makna Prambanan dan mengembangkan sikap hormat terhadap candi sebagai warisan budaya sekaligus ruang yang memiliki arti spiritual. Dengan keseimbangan kegiatan, pelestarian, dan penghormatan, festival dapat membantu menjadikan Prambanan warisan budaya yang hidup bagi masyarakat dan pengunjung.

Ni Luh menilai bahwa arah perjalanan wisata kini semakin menekankan pengalaman yang bermakna. Merujuk Global Wellness Economy Monitor 2025, wisatawan makin tertarik pada kegiatan yang membawa mereka lebih dekat dengan alam, budaya, dan masyarakat lokal. Perubahan minat ini membuka peluang bagi destinasi untuk menawarkan lebih dari sekadar kunjungan singkat atau melihat bangunan bersejarah. Pengalaman yang memberi ruang untuk memahami nilai, tradisi, dan kehidupan setempat dapat membuat perjalanan terasa lebih mendalam sekaligus berkesan.

Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan wisata religi yang terhubung dengan kekayaan budaya dan lingkungan. Situs keagamaan dan sejarah, termasuk Prambanan, dapat menjadi bagian dari pengalaman yang mengajak pengunjung mengenal warisan, praktik, serta kisah masyarakat di sekitarnya. Pengembangan tersebut perlu dilakukan dengan menghormati kesakralan tempat dan kebutuhan warga, sehingga kegiatan wisata tidak mengurangi nilai budaya maupun kenyamanan komunitas setempat. Dengan pendekatan yang peka, destinasi dapat tetap menjadi ruang budaya yang hidup, sekaligus menyambut pengunjung dari berbagai latar belakang.

Untuk mewujudkan potensi itu, diperlukan kolaborasi penyelenggara layanan, pengelola destinasi, pelaku industri, dan masyarakat setempat. Kerja sama dapat membantu merancang kegiatan yang relevan, menjaga kualitas layanan, serta memastikan manfaat ekonomi menjangkau warga. Masyarakat bukan hanya penerima dampak, tetapi juga pemilik pengetahuan dan tradisi yang menjadi bagian penting dari daya tarik suatu tempat. Keterlibatan mereka dalam perencanaan dan pelaksanaan akan mendukung pengalaman wisata yang lebih autentik dan bertanggung jawab.

Data pemerintah menunjukkan bahwa pada Januari Agustus 2026 perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842 15 juta naik 4 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun.

Baca juga: Percepatan Konektivitas di Papua Menjadi Fokus Utama | Inovasi Energi Hijau: Proyek PSEL Bogor Raya Yang Mengubah Sampah Menjadi Energi | Kontroversi Obrolan Grup Mahasiswa: Kasus Percobaan Bunuh Diri Menjadi Bahan Candaan