Tulungagung | Belum lama jarum jam melewati pukul satu siang ketika suasana di Mapolres Tulungagung mulai dipenuhi awak media. Di lorong depan ruang Unit Tipidter Satreskrim, beberapa wartawan tampak duduk sambil memegang kamera dan ponsel. Sebagian lainnya berdiri di dekat pintu pemeriksaan sambil sesekali melihat ke arah halaman parkir, 25/05/2026.
Perhatian mereka siang itu tertuju pada satu agenda: pemeriksaan lanjutan terkait dugaan tambang ilegal yang belakangan ramai dibicarakan masyarakat Tulungagung. Kasus tersebut perlahan berkembang menjadi isu besar setelah disebut menyeret nama sejumlah pihak yang dikenal di kalangan pengusaha lokal.
Sekitar pukul 13.30 WIB, sebuah kendaraan berwarna hitam memasuki area parkir Mapolres. Dari dalam mobil turun Wahyu Budi Setiawan, mantan manajer K-cunk Motor yang beberapa waktu terakhir namanya ikut dikaitkan dalam penyelidikan dugaan penambangan tanpa izin di wilayah Tulungagung bagian selatan.
Didampingi kuasa hukumnya, Helmi Rizal, Wahyu langsung berjalan menuju ruang pemeriksaan tanpa memberikan banyak komentar kepada wartawan yang telah menunggu sejak siang. Wajahnya terlihat serius sambil membawa map dokumen berwarna cokelat di tangan kiri.
Di sekitar ruang penyidik, suasana tampak lebih sibuk dibanding hari biasa. Beberapa anggota polisi keluar masuk ruangan sambil membawa berkas tambahan. Sesekali terdengar percakapan singkat antarpetugas di lorong depan Unit Tipidter.
Meski pemeriksaan dilakukan secara tertutup, situasi di sekitar Satreskrim menunjukkan bahwa penyelidikan perkara tersebut masih terus berkembang. Wartawan yang menunggu di lokasi terus mencoba menggali informasi terbaru dari sejumlah sumber internal.
Kasus dugaan tambang ilegal di Tulungagung memang mulai menjadi perhatian besar masyarakat dalam beberapa pekan terakhir. Selain karena aktivitas penambangan tanpa izin itu diduga berlangsung cukup lama, perkara tersebut juga disebut melibatkan sejumlah pihak yang memiliki pengaruh di daerah.
Di sejumlah kawasan selatan Tulungagung, aktivitas kendaraan pengangkut material tambang sebenarnya sudah lama menjadi perhatian warga. Truk-truk besar disebut hampir setiap malam melintas melewati jalan desa dan kawasan permukiman warga.
“Kalau malam suara kendaraan berat sering terdengar sampai larut,” ujar seorang warga yang tinggal di sekitar jalur angkutan tambang.
Menurut warga, aktivitas itu bukan hal baru. Namun sebagian masyarakat selama ini memilih diam karena merasa persoalan tambang terlalu sensitif untuk dibahas secara terbuka.
Karena itu, ketika aparat kepolisian mulai melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak, perhatian masyarakat langsung meningkat. Banyak warga kini menunggu sejauh mana aparat penegak hukum berani mengusut perkara tersebut.
Di dalam ruang penyidik, Wahyu menjalani klarifikasi selama hampir tiga jam. Selama proses berlangsung, beberapa petugas terlihat keluar masuk ruangan sambil membawa dokumen tambahan.
Hingga sore hari, belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian terkait materi pemeriksaan. Namun aktivitas aparat di sekitar ruang Unit Tipidter menunjukkan bahwa penyelidikan masih terus berjalan.
Sekitar pukul 16.00 WIB, pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka. Wahyu keluar bersama kuasa hukumnya dengan wajah serius. Para wartawan yang sejak siang menunggu langsung mengerubunginya untuk meminta keterangan.
Kepada awak media, Wahyu mengaku telah menyerahkan sejumlah dokumen tambahan dan rekaman video kepada penyidik Satreskrim Polres Tulungagung.
“Saya memenuhi undangan klarifikasi dan menyerahkan data yang saya miliki,” ujarnya singkat.
Ia tidak menjelaskan secara rinci isi dokumen tersebut. Namun menurutnya, data yang diberikan berkaitan dengan dugaan aktivitas pertambangan tanpa izin yang kini sedang diselidiki aparat kepolisian.
Nama Wahyu sendiri mulai ramai diperbincangkan setelah muncul dalam sejumlah informasi terkait perkara tambang ilegal di Tulungagung. Meski demikian, ia menegaskan bahwa posisinya saat ini masih sebagai pihak yang dimintai keterangan oleh penyidik.
Sementara itu, kuasa hukum Wahyu, Helmi Rizal, mengatakan proses pemeriksaan berlangsung cukup lancar. Ia menyebut pihaknya memang sengaja membawa tambahan alat bukti baru guna memperkuat data yang sebelumnya telah diberikan kepada penyidik.
Menurut Helmi, tambahan bukti tersebut berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki keterkaitan langsung dengan substansi perkara yang sedang ditangani polisi.
“Kami menyerahkan beberapa data tambahan yang relevan dengan perkara ini,” kata Helmi.
Tidak hanya itu, Helmi juga kembali meminta agar pihak-pihak yang disebut dalam laporan dipanggil langsung oleh penyidik untuk memberikan klarifikasi secara terbuka.
Salah satu nama yang kembali disebut ialah Suyono Hadi Pranoto. Menurut Helmi, pemeriksaan harus dilakukan langsung terhadap pihak yang berkaitan dengan perkara agar proses penyelidikan benar-benar terang.
“Kalau memang ingin semuanya jelas, pihak yang bersangkutan harus hadir sendiri memberikan keterangan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut kembali memunculkan dugaan bahwa penyelidikan kasus tambang ilegal di Tulungagung kemungkinan masih akan berkembang lebih luas. Sejumlah pihak menduga aparat kepolisian masih membuka peluang memeriksa tambahan saksi dalam waktu dekat.
Selain menjadi perhatian dari sisi hukum, dugaan aktivitas tambang ilegal juga mulai memunculkan kekhawatiran masyarakat terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan. Beberapa warga mengaku kondisi jalan desa mengalami kerusakan akibat sering dilalui kendaraan berat pengangkut material tambang.
Selain itu, debu dari aktivitas pengangkutan material juga mulai dikeluhkan warga yang tinggal di sekitar jalur kendaraan.
“Kalau musim kemarau debunya terasa sekali sampai masuk rumah,” ujar seorang warga lainnya.
Tidak sedikit warga yang mengaku khawatir terhadap potensi longsor dan kerusakan lahan apabila aktivitas pertambangan terus berlangsung tanpa pengawasan yang jelas. Beberapa kawasan bahkan disebut mengalami perubahan kondisi tanah dalam beberapa tahun terakhir.
Aktivis lingkungan di Tulungagung mulai ikut menyoroti perkembangan kasus tersebut. Mereka menilai dugaan tambang ilegal harus dijadikan momentum untuk memperbaiki sistem pengawasan pertambangan di daerah.
Menurut mereka, lemahnya pengawasan selama ini menjadi salah satu alasan praktik penambangan tanpa izin sulit dihentikan. Karena itu, mereka berharap aparat penegak hukum benar-benar serius mengusut perkara tersebut hingga tuntas.
“Kalau pengawasan berjalan baik, aktivitas ilegal seperti ini pasti lebih mudah dicegah,” ujar seorang aktivis lingkungan.
Selain persoalan lingkungan, masyarakat juga menilai aktivitas tambang ilegal berpotensi merugikan negara karena dilakukan tanpa izin resmi. Penambangan ilegal dianggap menghilangkan potensi pendapatan daerah yang seharusnya bisa diperoleh melalui jalur legal.
Karena itu, warga berharap proses hukum berjalan secara transparan dan tidak berhenti hanya pada pemeriksaan formalitas semata.
“Masyarakat sekarang ingin melihat apakah kasus ini benar-benar dibongkar sampai tuntas,” kata seorang warga yang ikut memantau perkembangan perkara.
Di sekitar Mapolres Tulungagung, pembicaraan mengenai dugaan mafia tambang ilegal memang terus berkembang. Beberapa warga mengaku baru berani berbicara setelah kasus tersebut mulai ramai diberitakan media.
“Selama ini sebenarnya banyak yang tahu aktivitas itu, cuma orang takut bicara,” ujar warga lainnya.
Pihak pelapor dalam perkara ini juga berharap penyidik menghadirkan lebih banyak saksi guna memperkuat alat bukti. Mereka menilai aktivitas pertambangan tanpa izin tidak mungkin berjalan tanpa adanya pihak lain yang mengetahui kegiatan tersebut.
Menurut Helmi, masyarakat kini sedang menunggu langkah konkret aparat kepolisian dalam menangani dugaan praktik tambang ilegal tersebut secara serius.
“Jangan sampai masyarakat menilai hukum hanya berlaku untuk orang kecil,” katanya.
Hingga sore hari, pihak Satreskrim Polres Tulungagung belum memberikan penjelasan resmi mengenai hasil pemeriksaan Wahyu Budi Setiawan. Penyidik disebut masih mendalami sejumlah dokumen dan data tambahan yang telah diterima selama proses klarifikasi berlangsung.
Meski demikian, informasi yang berkembang menyebut kemungkinan adanya pemeriksaan tambahan terhadap sejumlah pihak lain masih terbuka lebar. Polisi juga dikabarkan masih mengumpulkan berbagai dokumen pendukung guna memperkuat proses penyelidikan.
Kasus ini kini berkembang menjadi perhatian serius masyarakat Tulungagung. Banyak pihak berharap aparat penegak hukum benar-benar menunjukkan keberanian dalam mengusut dugaan praktik tambang ilegal tanpa membedakan status sosial pihak yang terlibat.
Bagi sebagian warga, perkara ini bukan sekadar kasus hukum biasa. Mereka melihat penanganan dugaan tambang ilegal sebagai ujian terhadap komitmen aparat dalam menindak praktik yang selama ini dianggap sulit disentuh hukum.
Apabila proses hukum berjalan terbuka dan tegas, masyarakat percaya kasus ini bisa menjadi awal pembenahan pengawasan aktivitas pertambangan di Tulungagung. Namun jika penanganannya berhenti di tengah jalan, kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum dikhawatirkan semakin menurun.
Menjelang malam, suasana di sekitar Satreskrim perlahan mulai kembali lengang. Wartawan yang sejak siang menunggu perkembangan pemeriksaan satu per satu meninggalkan lokasi. Meski begitu, pembicaraan mengenai dugaan tambang ilegal di Tulungagung tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat.
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dalam perkara ini. Mulai dari siapa saja pihak yang mengetahui aktivitas pertambangan tersebut, bagaimana praktik itu bisa berjalan cukup lama, hingga kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain di balik aktivitas tambang tanpa izin yang kini menjadi perhatian publik luas.
Kini perhatian masyarakat tertuju pada langkah berikutnya yang akan diambil penyidik Satreskrim Polres Tulungagung. Di tengah sorotan publik yang terus membesar, aparat dituntut membuktikan bahwa penanganan dugaan tambang ilegal benar-benar dilakukan secara serius dan tidak berhenti hanya pada tahap pemeriksaan awal semata.













