Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026 — Letjen TNI Iwan Setiawan dipromosikan menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Pergantian tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Maruli menyampaikan bahwa jabatan Pangkostrad telah mengalami pergantian. Ia menyebut posisi tersebut kini dipercayakan kepada Iwan Setiawan. “Posisi Pangkostrad sudah berganti, sekarang dijabat oleh Iwan,” kata Maruli saat memberikan konfirmasi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Pernyataan KSAD itu secara langsung menegaskan perubahan pejabat pada posisi Pangkostrad. Dengan demikian, Letjen TNI Iwan Setiawan menjadi sosok yang memimpin Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat setelah pergantian tersebut. Informasi mengenai perubahan jabatan itu disampaikan Maruli dalam kapasitasnya sebagai KSAD.
Konfirmasi dari Maruli juga memperjelas bahwa promosi Iwan Setiawan berkaitan dengan penempatan pada jabatan Pangkostrad. Penyebutan jabatan secara lengkap merujuk pada Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, salah satu posisi dalam struktur kepemimpinan TNI Angkatan Darat. Keterangan tersebut disampaikan di hadapan awak media setelah Maruli ditemui di lingkungan Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
Dalam keterangannya, Maruli tidak mengubah pokok informasi mengenai pergantian itu. Ia memastikan bahwa jabatan yang sebelumnya berada pada pejabat lain kini telah berganti dan diisi oleh Iwan Setiawan. Karena itu, penunjukan Letjen TNI Iwan Setiawan sebagai Pangkostrad menjadi inti dari konfirmasi yang disampaikan KSAD pada Rabu tersebut.
Penunjukan Letjen TNI Iwan Setiawan untuk memimpin Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) menempatkannya pada salah satu posisi strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat. Perpindahan tersebut menunjukkan adanya perubahan penugasan dari jabatan sebelumnya menuju tanggung jawab baru sebagai pimpinan Kostrad. Dalam konteks ini, jabatan Iwan perlu dipahami sebagai bagian dari susunan kepemimpinan dan penempatan perwira tinggi di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Sebelum dipercaya memimpin Kostrad, Letjen TNI Iwan Setiawan menjabat sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri TNI Angkatan Darat. Jabatan tersebut menjadi posisi terakhir yang diembannya sebelum penunjukan untuk memimpin Kostrad. Dengan demikian, perpindahan ini merupakan perubahan dari jabatan komandan pada satuan pusat kesenjataan menuju jabatan strategis dalam struktur TNI Angkatan Darat.
Penyebutan jabatan sebelumnya penting untuk memberikan gambaran mengenai konteks perpindahan tugas Iwan Setiawan. Ia tidak langsung disebut sebagai pemimpin Kostrad tanpa latar penugasan, melainkan berpindah dari kedudukan sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri TNI Angkatan Darat. Keterangan tersebut menjadi dasar untuk memahami urutan jabatan yang berkaitan dengan penunjukannya.
Dengan pangkat Letjen TNI, Iwan Setiawan kini dipercaya mengisi posisi kepemimpinan Kostrad. Penempatan itu menandai perubahan jabatan dalam lingkungan TNI Angkatan Darat, sementara jabatan sebelumnya tetap menjadi bagian penting dari konteks pengangkatannya. Uraian mengenai perpindahan ini berfokus pada posisi yang ditinggalkan dan posisi baru yang dipercayakan kepadanya, tanpa memperluas pembahasan pada program atau rekam jejak lain di luar informasi tersebut.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak membantah adanya kaitan rotasi jabatan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dan pergantian calon Panglima TNI. Pernyataan tersebut disampaikan untuk menegaskan bahwa perubahan posisi Iwan Setiawan sebagai Pangkostrad tidak berkaitan dengan proses penentuan atau pergantian calon pemimpin tertinggi TNI.
Menurut Maruli, perubahan jabatan itu merupakan bagian dari dinamika rutin dalam organisasi TNI. Rotasi tidak hanya berlangsung pada posisi Pangkostrad, tetapi juga bersamaan dengan penunjukan sejumlah Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) baru di beberapa wilayah. Kesamaan waktu dalam pengumuman tersebut, menurut penjelasan Maruli, tidak dapat langsung dipahami sebagai tanda adanya hubungan dengan pergantian calon Panglima TNI.
Maruli menyampaikan bahwa surat mengenai perubahan jabatan tersebut baru diterima oleh pihaknya. Ia menjelaskan, surat itu dibuat bersamaan dengan penetapan Pangdam baru di beberapa wilayah. Dengan demikian, perubahan di lingkungan TNI berlangsung dalam satu rangkaian penataan jabatan yang mencakup beberapa posisi strategis, termasuk Pangkostrad dan Pangdam.
Penjelasan tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa rotasi Pangkostrad dilakukan karena adanya perubahan calon Panglima TNI. Maruli meminta perubahan itu dipahami berdasarkan proses administrasi dan penataan organisasi yang berjalan pada waktu yang sama. Penunjukan Iwan Setiawan sebagai pemimpin Kostrad menjadi bagian dari keputusan tersebut, sementara penetapan Pangdam baru dilakukan dalam rangkaian yang sama.
Penjelasan mengenai pergantian posisi di lingkungan TNI disampaikan sebagai bagian dari mekanisme organisasi yang berjalan secara berkala. Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin? No, need Maruli. Panglima? Maruli. Let's avoid incorrect title. Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan bahwa perubahan jabatan tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa. Menurut dia, rotasi merupakan langkah yang lazim untuk menjaga dinamika, kesinambungan, dan kesiapan satuan dalam menjalankan tugas.
Letjen TNI Mohammad Fadjar sebelumnya telah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) selama sekitar dua tahun. Masa jabatan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dilakukannya penyegaran dalam struktur komando. Perubahan setelah periode tugas tertentu, menurut Maruli, merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya manusia yang telah diterapkan dalam organisasi militer.
Maruli menjelaskan bahwa setiap perwira memiliki kesempatan untuk mengemban tanggung jawab di posisi yang berbeda sesuai kebutuhan institusi. Karena itu, pergantian jabatan tidak otomatis menunjukkan adanya persoalan dalam pelaksanaan tugas pejabat sebelumnya. Rotasi lebih berkaitan dengan kebutuhan organisasi, pembinaan karier, serta upaya memastikan pengalaman dan kemampuan para perwira dapat dimanfaatkan di berbagai satuan.
Dengan demikian, pergantian di lingkungan Kostrad dipahami sebagai proses rutin, bukan peristiwa yang perlu dikaitkan dengan penilaian negatif terhadap pejabat sebelumnya. Penyegaran tersebut menjadi bagian dari siklus organisasi TNI untuk mempertahankan efektivitas komando, memperluas pengalaman para perwira, dan memastikan pelaksanaan tugas pertahanan tetap berjalan sesuai kebutuhan strategis.






