JAMBI, JAMBI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 1 Oktober 2026, Kabut asap menyelimuti wilayah Jambi dan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang di sekitar bandara menurun, sehingga kegiatan operasional penerbangan tidak dapat berlangsung seperti biasanya. Penurunan jarak pandang menjadi perhatian utama karena berhubungan langsung dengan aspek keselamatan dan kesiapan pesawat untuk melakukan pendaratan maupun lepas landas.
Gangguan itu berdampak pada penerbangan yang datang dan berangkat dari Bandara Sultan Thaha. Hingga pukul 11.00 WIB, tercatat enam penerbangan komersial mengalami keterlambatan. Penundaan tersebut menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya memengaruhi satu rangkaian perjalanan, tetapi juga berpotensi mengubah jadwal penerbangan berikutnya karena pesawat, awak, dan penumpang harus menunggu sampai kondisi memungkinkan.
Operasional bandara perlu menyesuaikan diri dengan keadaan jarak pandang yang terbatas. Setiap penerbangan kedatangan dan keberangkatan harus mempertimbangkan kondisi aktual sebelum dijalankan, sehingga jadwal dapat mengalami perubahan sesuai perkembangan situasi. Bagi penumpang, keterlambatan ini dapat memengaruhi rencana perjalanan, termasuk waktu keberangkatan, kedatangan, serta penerbangan lanjutan. Informasi mengenai perubahan jadwal menjadi penting agar pengguna jasa dapat memperoleh kepastian terbaru dari pihak maskapai atau pengelola bandara.
Peristiwa di Bandara Sultan Thaha tersebut memperlihatkan dampak langsung kabut asap terhadap konektivitas udara di Jambi. Selama jarak pandang masih terbatas, kelancaran penerbangan bergantung pada hasil pemantauan kondisi lapangan dan keputusan operasional yang mengutamakan keselamatan. Enam penerbangan komersial yang tertunda hingga pukul 11.00 WIB menjadi catatan awal gangguan penerbangan pada hari itu, sementara perkembangan jadwal selanjutnya tetap mengikuti perubahan kondisi kabut asap di sekitar bandara.
Executive General Manager Bandara Sultan Thaha, Ardon Marbun, menjelaskan bahwa perubahan jarak pandang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran penerbangan pada pagi hari. Kondisi kabut asap menyebabkan jarak pandang di kawasan bandara tidak berada pada tingkat yang tetap, sehingga maskapai dan pengelola bandara harus melakukan pemantauan secara berkala sebelum pesawat diizinkan menjalani tahapan keberangkatan.
Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang tercatat berada di kisaran 1.500 meter. Dalam kondisi tersebut, satu penerbangan keberangkatan, yakni Batik Air ID 6807 dengan tujuan Jakarta, berhasil mengudara. Pesawat itu merupakan pesawat remain over night (RON), yaitu armada yang sebelumnya bermalam di Bandara Sultan Thaha sehingga dapat langsung dipersiapkan untuk penerbangan pagi.
Namun, kondisi jarak pandang kemudian mengalami perubahan. Mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, jarak pandang berfluktuasi pada kisaran 1.200 sampai 1.500 meter. Pada waktu tertentu, angka tersebut bahkan sempat menurun hingga 1.000 meter. Perubahan yang terjadi dalam rentang waktu tersebut membuat proses persiapan penerbangan berikutnya tidak dapat berjalan sesuai jadwal awal.
Situasi itu turut menahan proses boarding pesawat ex-RON atau pesawat yang datang dari bandara lain dan dijadwalkan melanjutkan penerbangan dari Bandara Sultan Thaha. Salah satu penerbangan yang terdampak ialah Super Air Jet IU 874 dengan tujuan Batam. Penerbangan tersebut semula dijadwalkan berangkat pada pukul 10.28 WIB, tetapi proses boarding harus tertahan karena kondisi jarak pandang masih berfluktuasi.
Menurut keterangan pengelola bandara, keputusan terkait pergerakan pesawat tetap mempertimbangkan aspek keselamatan penerbangan. Pemantauan jarak pandang dilakukan secara berkelanjutan, sementara maskapai menyesuaikan tahapan pelayanan penumpang dengan perkembangan kondisi di lapangan. Dengan demikian, penundaan keberangkatan dilakukan sebagai langkah kehati-hatian sampai keadaan memungkinkan bagi penerbangan untuk dilanjutkan.
Di tengah keterbatasan jarak pandang akibat kabut asap, operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha tetap mencatat perkembangan. Pesawat Susi Air dengan nomor penerbangan SI 7219 yang datang dari Dabo Singkep, Kepulauan Riau, berhasil mendarat di bandara tersebut pada pukul 07.45 WIB. Pendaratan ini berlangsung ketika sejumlah penerbangan lain masih mengalami penundaan.
Setelah mendarat di Bandara Sultan Thaha, pesawat Susi Air itu melanjutkan penerbangan menuju Kerinci. Penerbangan lanjutan tersebut menggunakan nomor penerbangan SI 7223 dan dijadwalkan berangkat pada pukul 08.15 WIB. Rangkaian pergerakan pesawat itu menjadi bagian dari aktivitas operasional bandara di tengah kondisi jarak pandang yang terbatas.
Informasi mengenai kedatangan dari Dabo Singkep dan keberangkatan menuju Kerinci menunjukkan bahwa terdapat penerbangan yang tetap berjalan pada pagi hari tersebut. Pada saat yang sama, penundaan masih terjadi pada sejumlah penerbangan lainnya. Kondisi operasional itu berlangsung bersamaan dengan kabut asap yang membatasi jarak pandang di sekitar bandara, tanpa mengubah rincian jadwal penerbangan Susi Air SI 7219 dan SI 7223 yang telah tercatat.
Gangguan jarak pandang akibat kabut asap berdampak pada sejumlah penerbangan di Bandara Sultan Thaha, Jambi. Tiga penerbangan kedatangan mengalami penundaan. Penerbangan Batik Air dengan nomor ID 6804 dari Jakarta semula dijadwalkan tiba pada pukul 10.15 WIB. Selanjutnya, Citilink QG 960 dari Jakarta dijadwalkan tiba pukul 10.25 WIB, disusul Garuda Indonesia GA 126 dari Jakarta yang juga memiliki jadwal kedatangan pada pukul 10.25 WIB.
Penundaan juga terjadi pada tiga penerbangan keberangkatan menuju Jakarta. Penerbangan Citilink QG 961 yang dijadwalkan berangkat pada pukul 10.55 WIB terdampak kondisi tersebut. Berikutnya, Batik Air ID 6805 dengan jadwal keberangkatan pukul 11.00 WIB serta Garuda Indonesia GA 127 yang dijadwalkan berangkat pukul 11.10 WIB turut mengalami penundaan. Perubahan waktu penerbangan dapat disesuaikan kembali berdasarkan perkembangan jarak pandang dan pertimbangan keselamatan penerbangan.
Tim operasional Bandara Sultan Thaha terus berkoordinasi dengan pihak maskapai dan instansi terkait untuk menangani dampak kabut asap terhadap layanan penerbangan. Pembaruan jadwal akan disampaikan secara berkala sesuai informasi terbaru yang diterima. Penumpang diimbau memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai masing-masing sebelum menuju bandara, serta memperhatikan pemberitahuan yang disampaikan oleh petugas.
Masyarakat yang memerlukan informasi kebandarudaraan juga dapat menghubungi contact center InJourney Airports melalui nomor 172. Manajemen PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sultan Thaha menyatakan komitmennya untuk terus bersinergi dengan para pemangku kepentingan dalam menjaga keselamatan dan kelancaran operasional. Manajemen berharap penanganan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi segera teratasi sehingga kondisi udara membaik dan aktivitas penerbangan dapat kembali berlangsung normal.







