JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 akan datang lebih lambat dibandingkan pola umumnya. Selain mengalami kemunduran, musim hujan diprediksi berlangsung lebih singkat di sebagian besar wilayah Indonesia. Perubahan waktu dan durasi tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air, aktivitas masyarakat, serta kondisi kesehatan warga, terutama di daerah yang masih menghadapi dampak kekeringan.
Prediksi itu disampaikan BMKG dalam konferensi pers bertajuk “Prediksi Musim Hujan” yang digelar di Gedung Mhews BMKG, Jakarta, pada Selasa, 22 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penyampaian informasi dini mengenai perkembangan atmosfer dan laut yang dapat memengaruhi pola cuaca nasional dalam beberapa bulan mendatang. Masyarakat diminta mencermati pembaruan informasi resmi karena waktu awal hujan dapat berbeda antarwilayah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi fenomena El Niño yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berpeluang bergerak menuju fase positif di Samudra Hindia. El Niño kuat dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia, sedangkan IOD positif berpotensi memperkuat pengurangan pasokan uap air dari wilayah Samudra Hindia.
Kedua fenomena itu dinilai dapat memperparah sekaligus memperpanjang periode kekeringan serta memengaruhi intensitas curah hujan di banyak wilayah Indonesia. Akibatnya, ketika hujan akhirnya tiba, distribusinya belum tentu merata dan durasinya dapat lebih pendek. Situasi ini menuntut pemerintah daerah dan warga menyiapkan langkah antisipasi, mulai dari pengelolaan cadangan air hingga kewaspadaan terhadap penyakit yang lebih mudah berkembang selama peralihan dari musim kering menuju musim hujan.
Di tengah prediksi bahwa musim hujan 2026/2027 mengalami kemunduran secara nasional, Jakarta diperkirakan belum segera memasuki kondisi basah pada awal periode musim. Wilayah Ibu Kota diproyeksikan baru mulai mengalami periode basah pada November hingga Desember. Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola musim tidak hanya menjadi gambaran umum tingkat nasional, tetapi juga dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat Jakarta melalui berlangsungnya cuaca kering yang lebih panjang.
Periode dengan curah hujan yang lebih rendah berpotensi membuat udara kering dan polusi di Jakarta bertahan lebih lama. Kondisi ini menjadi perhatian karena penundaan datangnya hujan berarti proses alami yang biasanya membantu membersihkan udara dari sebagian partikulat juga belum berlangsung secara optimal. Dengan demikian, warga Ibu Kota dapat menghadapi durasi paparan terhadap udara kering dan polusi yang lebih panjang dibandingkan apabila musim hujan datang sesuai perkiraan waktu biasanya.
Setelah memasuki awal periode basah pada November-Desember, curah hujan di Jakarta diprediksi meningkat dan mencapai puncaknya pada awal tahun berikutnya. Perbedaan waktu awal musim basah dan puncak hujan tersebut menunjukkan bahwa hadirnya hujan pertama tidak serta-merta menandai berakhirnya seluruh dampak kemunduran musim. Perubahan ini perlu dipahami sebagai bagian dari rangkaian kondisi cuaca yang dapat memengaruhi kualitas lingkungan perkotaan.
Situasi tersebut menuntut kewaspadaan warga terhadap dampak lanjutan dari kemarau yang berlangsung lebih panjang. Udara kering dan polusi yang bertahan dalam periode lebih lama dapat menjadi konsekuensi penting dari mundurnya musim hujan di Jakarta. Karena itu, perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara selama masa peralihan menuju periode basah menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama hingga curah hujan meningkat dan mencapai puncaknya pada awal tahun berikutnya.
Kemarau panjang tidak hanya meningkatkan suhu, tetapi juga dapat memperburuk kualitas udara yang dihirup warga Jakarta. Dalam kondisi panas dan kering, pergerakan udara cenderung lebih lemah sehingga atmosfer menjadi stagnan. Akibatnya, polutan dari kendaraan bermotor, kegiatan industri, pembakaran, serta debu jalanan lebih mudah bertahan di dekat permukaan dan terakumulasi dalam waktu lebih lama. Paparan berulang terhadap udara semacam ini dapat mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang yang telah memiliki penyakit paru.
Cuaca panas juga berpotensi meningkatkan konsentrasi serbuk sari, debu, dan spora jamur di udara. Partikel-partikel tersebut dapat terperangkap ketika sirkulasi udara tidak cukup kuat untuk membawanya menjauh. Allergy and Asthma Network menjelaskan bahwa paparan alergen dan iritan lingkungan dapat memicu atau memperburuk gejala asma, seperti batuk, sesak napas, napas berbunyi, serta rasa tertekan di dada. Bagi penderita asma, periode kering yang berlangsung lama perlu dihadapi dengan kewaspadaan lebih tinggi, termasuk memperhatikan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika polusi meningkat.
Gangguan yang muncul tidak selalu berhenti pada gejala alergi atau kambuhnya asma. Iritasi dan peradangan yang terus-menerus dapat membuat saluran pernapasan lebih rentan terhadap infeksi. Warga dapat mengalami infeksi pernapasan akut dengan keluhan seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, atau kesulitan bernapas. Pada sebagian kasus, infeksi tersebut dapat berkembang menjadi bronkitis maupun pneumonia bakteri, khususnya pada kelompok rentan atau mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah.
Karena itu, gangguan pernapasan yang menetap selama musim kering sebaiknya tidak diabaikan. Penggunaan masker yang sesuai, menjaga kebersihan rumah dari debu, membatasi paparan asap, dan segera berkonsultasi apabila sesak atau demam memburuk dapat membantu mengurangi risiko. Perhatian lebih diperlukan ketika keluhan berlangsung berkepanjangan, berulang, atau disertai nyeri dada dan penurunan kesadaran.
Kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penyakit menular. Ketika persediaan air bersih menipis, masyarakat mungkin mengalami kesulitan untuk mencuci tangan, membersihkan peralatan makan, mengolah bahan pangan, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. Kondisi tersebut dapat memperbesar peluang penyebaran kuman, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan pasokan air dalam waktu lama.
Risiko diare menjadi salah satu perhatian utama karena penyakit ini dapat muncul ketika makanan, minuman, atau tangan terkontaminasi. Berdasarkan informasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bakteri Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella dapat mencemari makanan serta menyebabkan penyakit menular selama kekeringan. Pencemaran tersebut dapat terjadi ketika sumber air berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Dalam keadaan tertentu, air yang telah terkontaminasi kuman dari limbah dapat terpaksa digunakan atau bahkan dikonsumsi karena tidak tersedia pilihan lain.
Keterbatasan air bersih juga dapat menghambat kebiasaan hidup bersih dan sehat. Warga perlu berhati-hati dalam memilih sumber air, memastikan air untuk minum telah diolah dengan benar, serta menjaga makanan agar tidak terpapar air atau permukaan yang kotor. Apabila muncul gejala seperti diare berkepanjangan, muntah, demam, atau tanda dehidrasi, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan, khususnya pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
Selama musim kemarau, penerapan pola hidup bersih dan sehat perlu menjadi perhatian bersama. Masyarakat juga dapat mengikuti imbauan kesehatan dari pemerintah, termasuk protokol pencegahan polusi udara 6M dan 1S yang telah dirilis Kementerian Kesehatan. Kewaspadaan terhadap kualitas air, kebersihan pangan, dan kondisi lingkungan akan membantu mengurangi risiko penyakit ketika kekeringan berlangsung.






