KABUPATEN SERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 6 September 2026, Sebanyak 105 warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel dimakamkan secara massal di Kota Gaza pada Kamis, 1 Oktober 2026. Pemakaman tersebut dihadiri ratusan warga. Jenazah para korban dibungkus dengan bendera Palestina sebelum dibawa ke Pemakaman Martir di kawasan Sheikh Radwan, barat laut Kota Gaza.
Pemakaman massal itu digelar setelah jenazah 105 korban ditemukan hampir tiga tahun setelah serangan tersebut. Seluruh jenazah kemudian dibawa untuk dimakamkan di Pemakaman Martir, yang berada di kawasan Sheikh Radwan. Lokasi pemakaman terletak di bagian barat laut Kota Gaza.
Para korban dimakamkan dalam satu prosesi pemakaman massal. Sebelum prosesi berlangsung, jenazah dibungkus dengan bendera Palestina. Ratusan warga menghadiri pemakaman untuk menyaksikan proses pemakaman para korban yang tewas dalam serangan Israel. Pemakaman berlangsung pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Kota Gaza, setelah jenazah ditemukan hampir tiga tahun pascaserangan.
Sebelum proses pemakaman dimulai, keluarga korban melaksanakan salat jenazah sebagai bagian penting dari rangkaian penghormatan terakhir. Salat tersebut dilakukan setelah jenazah ditemukan, dikumpulkan, dan dipersiapkan untuk dimakamkan sesuai tata cara yang berlaku. Prosesi ini menjadi kesempatan bagi keluarga untuk menjalankan kewajiban keagamaan sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada anggota keluarga yang meninggal dalam serangkaian serangan udara.
Pelaksanaan salat jenazah berlangsung di hadapan warga yang datang untuk mengikuti proses pemakaman. Ratusan orang menghadiri kegiatan tersebut, memenuhi area sekitar lokasi dan menyaksikan tahapan sebelum jenazah dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Kehadiran masyarakat menunjukkan bahwa pemakaman itu tidak hanya melibatkan keluarga, tetapi juga menjadi kegiatan bersama untuk menghormati para korban.
Setelah salat selesai, jenazah dipindahkan secara tertib menuju lokasi pemakaman. Para pelayat mengikuti prosesi tersebut dengan menjaga keteraturan selama penguburan berlangsung. Setiap jenazah dimakamkan sebagai bagian dari upaya memberikan perlakuan yang layak setelah proses pencarian dan penemuan yang berlangsung dalam waktu panjang.
Pemakaman massal ini menjadi tahap akhir dari rangkaian penanganan jenazah yang ditemukan hampir tiga tahun setelah serangan terjadi. Selain menandai berakhirnya proses pemindahan dan pemakaman, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk penghormatan publik kepada warga yang kehilangan nyawa akibat serangan udara. Keluarga dan masyarakat berkumpul untuk memastikan para korban dimakamkan secara layak, sementara prosesi keagamaan memberikan struktur bagi penghormatan terakhir sebelum lokasi pemakaman ditutup.
Rangkaian kegiatan berlangsung dengan menempatkan salat jenazah dan penguburan sebagai inti prosesi. Dengan demikian, pemakaman tersebut bukan sekadar pemindahan jasad ke tempat peristirahatan terakhir, melainkan juga upaya bersama untuk menjaga martabat korban setelah mereka ditemukan dan diidentifikasi untuk dimakamkan.
Pada 25 Oktober 2023, serangkaian serangan udara Israel menghantam kawasan Yarmouk Square di Kota Gaza. Serangan tersebut menghancurkan Gedung Al Taj 3 dan sejumlah bangunan tempat tinggal di sekitarnya. Di warga yang berada di kawasan itu terdapat 105 warga Palestina yang kemudian dinyatakan menjadi korban serangan.
Kerusakan pada Gedung Al Taj 3 serta bangunan-bangunan lain membuat jenazah para korban tidak segera ditemukan. Selama hampir tiga tahun setelah serangan, jenazah 105 warga Palestina tersebut masih berada di bawah reruntuhan atau di lokasi yang belum dapat dijangkau. Dengan demikian, peristiwa kematian mereka berlangsung pada Oktober 2023, sedangkan proses penemuan jenazah terjadi jauh setelah serangan udara itu.
Hampir tiga tahun kemudian, jenazah para korban akhirnya ditemukan. Penemuan tersebut menjadi dasar penyelenggaraan pemakaman massal bagi 105 warga Palestina pada 2026. Waktu pemakaman ini berbeda jauh dari waktu serangan yang menewaskan mereka. Serangan berlangsung pada 25 Oktober 2023, sementara penghormatan terakhir baru digelar setelah jenazah ditemukan pada 2026.
Pemakaman massal itu mencakup seluruh 105 korban yang terkait dengan penghancuran Gedung Al Taj 3 dan bangunan tempat tinggal di kawasan Yarmouk Square. Rangkaian peristiwa tersebut berlangsung dalam urutan waktu yang jelas: serangan udara terjadi lebih dahulu pada 25 Oktober 2023, gedung dan sejumlah rumah hancur, jenazah kemudian ditemukan hampir tiga tahun berselang, lalu pemakaman dilaksanakan pada 2026.
Pencarian jenazah warga Palestina dilakukan melalui proses evakuasi yang melibatkan Pertahanan Sipil Gaza bersama sebuah komite dari Mesir. Kedua pihak bekerja untuk menemukan, mengangkat, dan mengidentifikasi jasad korban yang masih berada di lokasi terdampak serangan. Proses tersebut berlangsung dalam waktu panjang karena jenazah baru dapat ditemukan hampir tiga tahun setelah serangan terjadi.
Evakuasi dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi lokasi serta keberadaan jasad yang tertimbun. Pertahanan Sipil Gaza menjalankan tugas pencarian di lapangan, sementara komite dari Mesir turut terlibat dalam proses yang memungkinkan pengangkatan jenazah para korban. Setelah ditemukan, jasad-jasad tersebut disiapkan untuk dimakamkan secara bersama dalam satu pemakaman massal.
Penemuan itu mengungkap keberadaan 105 jenazah warga Palestina yang selama hampir tiga tahun belum dapat dipulangkan kepada keluarga masing-masing. Rentang waktu tersebut membuat proses pencarian dan evakuasi menjadi bagian penting sebelum pemakaman dapat dilaksanakan. Setiap jenazah yang berhasil ditemukan kemudian dibawa untuk mengikuti rangkaian pemakaman sesuai pelaksanaan yang telah ditetapkan.
Pemakaman massal 105 warga Palestina digelar setelah seluruh jenazah ditemukan melalui proses evakuasi tersebut. Pelaksanaan pemakaman menjadi penutup dari penantian keluarga yang selama hampir tiga tahun menunggu kabar dan kepulangan jenazah kerabat mereka. Dengan ditemukannya jasad para korban, keluarga akhirnya dapat mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir.







