Jejak Martha Tilaar: Dari Salon Menteng hingga Warisan Kosmetik Berbasis Budaya

Jejak Martha Tilaar: Dari Salon Menteng hingga Warisan Kosmetik Berbasis Budaya

Jakarta | Kabar duka datang dari keluarga besar Martha Tilaar Group. Martha Tilaar, pendiri produsen kosmetik Sariayu, meninggal dunia pada usia 89 tahun pada 14 Oktober 2026. Informasi tersebut diumumkan melalui akun Instagram resmi @sariayu_mt pada Kamis, 14 Oktober 2026. Pengumuman itu disertai foto Martha Tilaar serta pesan penghormatan dan belasungkawa dari keluarga besar Martha Tilaar Group.

Dalam unggahan tersebut, keluarga mengenang Martha Tilaar sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan dunia kecantikan Indonesia. Dedikasinya tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan usaha, tetapi juga melalui upaya memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi Nusantara dalam berbagai karya kecantikan. Gagasan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Sariayu, yang dikenal karena mengangkat bahan, inspirasi, serta nilai-nilai lokal sebagai unsur dalam produknya.

Penghormatan itu juga menyoroti semangat Martha Tilaar dalam memajukan kecantikan nasional. Ia dipandang telah meninggalkan karya yang melampaui pencapaian bisnis, yakni sebuah warisan yang mempertemukan inovasi, kearifan lokal, dan kebanggaan terhadap identitas Indonesia. Keteladanan tersebut menjadi inspirasi bagi banyak pihak, khususnya generasi yang ingin meneruskan pengembangan industri kecantikan dengan tetap menghargai akar budaya.

Jenazah Martha Tilaar disemayamkan di rumah keluarga di Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Tempat tersebut menjadi lokasi keluarga, kerabat, dan para sahabat memberikan penghormatan terakhir. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang pelopor, sekaligus mengingatkan kembali besarnya pengaruh yang telah diberikan Martha Tilaar terhadap industri kosmetik dan pemajuan warisan Nusantara. Dedikasi, karya, serta semangatnya akan terus dikenang sebagai bagian dari perjalanan kecantikan Indonesia.

Martha Tilaar merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan industri kecantikan Indonesia. Ia lahir di Kebumen pada 4 September 1937 dan meninggal pada 14 Oktober 2026. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang perempuan yang tidak hanya dikenal melalui kiprahnya di bidang kosmetik, tetapi juga melalui perhatian terhadap budaya, pendidikan, dan pengembangan potensi Indonesia. Martha Tilaar meninggalkan empat anak, yaitu Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engelien Tilaar, Wulan Maharani Tilaar, dan Kilala Ezra Tilaar.

Latar belakang pendidikan Martha Tilaar memperlihatkan fondasi intelektual yang luas. Ia menempuh ilmu sejarah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta. Pendidikan tersebut diselesaikannya pada 1963. Penguasaan ilmu sejarah memberikan pemahaman terhadap perjalanan masyarakat, nilai tradisi, serta kekayaan budaya yang kemudian menjadi bagian penting dalam cara pandangnya terhadap kecantikan Indonesia. Baginya, kecantikan tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan identitas, pengetahuan lokal, dan warisan budaya.

Untuk memperdalam keahliannya, Martha Tilaar melanjutkan pendidikan budaya kecantikan di Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, pada 1968. Pengalaman belajar di luar negeri mempertemukannya dengan wawasan mengenai perawatan kecantikan serta pengelolaan pengetahuan secara lebih sistematis. Bekal tersebut mendukung upayanya untuk mengembangkan pendekatan kecantikan yang tetap berakar pada bahan, praktik, dan nilai budaya Indonesia.

Dedikasi dan kontribusinya juga mendapat pengakuan akademik. Pada 1984, ia menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Tucson, Arizona, Amerika Serikat. Penghargaan itu menjadi bagian dari rekam jejak profesional yang mencerminkan pengaruhnya di luar kegiatan usaha. Dalam tanggung jawab korporasi, Martha Tilaar menjabat sebagai komisaris PT Martina Bertho Tbk (MBTO) sejak 2005. Posisi tersebut menunjukkan keterlibatannya dalam menjaga arah dan keberlanjutan perusahaan yang berkaitan erat dengan warisan bisnis kosmetik berbasis budaya. Dengan latar pendidikan, pengalaman internasional, dan peran profesional tersebut, identitas Martha Tilaar terbentuk sebagai pendidik, pengusaha, serta penjaga nilai budaya dalam industri kecantikan.

Perjalanan Martha Tilaar Group bermula pada 1970, ketika Martha Tilaar merintis usaha kecantikan dari rumah orang tuanya di Jalan Kusuma Atmaja Nomor 47, Menteng, Jakarta Pusat. Tempat tersebut menjadi lokasi berdirinya salon kecantikan Martha, sebuah langkah awal yang memperkenalkan pendekatan personal dalam pelayanan kecantikan. Dari ruang usaha yang sederhana itu, Martha membangun fondasi bisnis dengan memadukan keahlian perawatan, perhatian terhadap pelanggan, serta pemahaman mengenai kekayaan tradisi Nusantara.

Dua tahun kemudian, pada 1972, ia memperluas kegiatan usahanya dengan membuka Martha Griya Salon di kawasan Menteng. Salon ini tidak hanya menawarkan layanan kecantikan, tetapi juga mulai menerapkan perawatan tradisional yang memanfaatkan tanaman herbal. Penggunaan bahan-bahan alami tersebut mencerminkan upaya Martha untuk mengangkat pengetahuan perawatan warisan budaya ke dalam layanan yang lebih terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.

Langkah penting berikutnya terjadi pada 1977, ketika Martha Tilaar mendirikan PT Martina Berto bersama Bernard Pranata dan Theresia Harsini Setiady. Pada tahun yang sama, perusahaan tersebut bekerja sama dengan Theresia Harsini Setiady, pendiri Kalbe Group, untuk meluncurkan Sariayu. Merek ini dikembangkan sebagai produk kecantikan dan jamu modern, dengan menggabungkan inspirasi dari bahan alam Indonesia, tradisi perawatan lokal, serta bentuk produk yang lebih mudah diterima konsumen masa itu. Kehadiran Sariayu menandai pergeseran dari layanan salon menuju pengembangan produk kecantikan berskala lebih luas.

Pertumbuhan perusahaan kemudian diperkuat melalui pembangunan fasilitas produksi. Pada 1981, PT Martina Berto mendirikan pabrik pertamanya di kawasan industri Pulogadung, Jakarta. Dua tahun sesudahnya, pada 1983, perusahaan membangun pabrik kedua di kawasan industri yang sama. Penambahan fasilitas ini menunjukkan meningkatnya kapasitas usaha sekaligus mempersiapkan produksi yang lebih konsisten untuk memenuhi perkembangan pasar kecantikan nasional.

Di luar pengembangan bisnis kosmetik, Martha Tilaar menaruh perhatian besar pada pelestarian budaya Indonesia dan pengetahuan herbal yang diwariskan secara turun-temurun. Kepedulian tersebut tercermin dalam upayanya mengangkat kekayaan tanaman obat, tradisi perawatan tubuh, serta nilai-nilai lokal ke dalam berbagai kegiatan dan karya. Baginya, pengetahuan tentang kecantikan tidak terpisah dari identitas budaya, sehingga perlu dirawat, didokumentasikan, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Perhatiannya juga mencakup pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Martha Tilaar berupaya mewariskan pengetahuan melalui karya tulis dan berbagai kegiatan yang mendorong perempuan Indonesia untuk terus belajar, berkarya, serta berkontribusi bagi bangsa. Upaya tersebut menempatkan perempuan bukan hanya sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai pelaku yang dapat mengembangkan potensi diri, pengetahuan, dan lingkungan sosialnya.

Sejumlah penghargaan yang diterimanya mencatat kontribusi tersebut, yaitu Women Entrepreneur of the Year dari Asia Pacific Entrepreneurship Awards pada 2008; The Outstanding Contribution 2000–2010 dari United Nations Global Compact pada 2010; Perekayasa Utama Kehormatan dari BPPT pada 2012; Ganesa Widya Jasa Utama dari Institut Teknologi Bandung pada 2012; Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah Republik Indonesia pada 2016; serta SDG Pioneer 2018 dari United Nations Global Compact pada 2018.

Penghargaan SDG Pioneer 2018 mengakui kiprahnya dalam mendorong keberlanjutan melalui keterlibatan masyarakat. Pengakuan ini sekaligus menempatkannya sebagai salah satu tokoh Indonesia yang diakui dunia dalam isu keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Warisan Martha Tilaar tidak hanya hadir melalui perusahaan dan produk, tetapi juga melalui pengetahuan, kepedulian budaya, pendidikan, dan dorongan agar generasi penerus, terutama perempuan Indonesia, terus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa.

Baca juga: Program Edukasi Berbasis Kecerdasan Buatan di Makassar