PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Ardiansyah, 41 tahun, warga Jalan Mataram Ujung, Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas. Ia sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online, pekerjaan yang membuatnya banyak beraktivitas di luar rumah dan terpapar kondisi udara di berbagai wilayah kota.
Kabar meninggalnya Ardiansyah muncul ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Kondisi tersebut dilaporkan telah berlangsung selama hampir dua bulan. Asap yang terlihat di sejumlah kawasan menimbulkan kekhawatiran masyarakat, terutama bagi warga yang memiliki aktivitas harian di ruang terbuka.
Pihak keluarga menduga sesak napas yang dialami Ardiansyah berkaitan dengan paparan kabut asap selama menjalankan pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online. Menurut dugaan tersebut, intensitas aktivitas di luar ruangan membuat Ardiansyah berulang kali menghirup udara yang tercemar asap. Keluarga kemudian mengaitkan kondisi pernapasan yang dialaminya dengan situasi kualitas udara yang memburuk di wilayah tersebut.
Meski demikian, dugaan mengenai hubungan paparan asap dan meninggalnya Ardiansyah belum dapat disebut sebagai kesimpulan medis. Informasi yang tersedia menempatkan keterkaitan itu sebagai penilaian dari pihak keluarga, bukan hasil pemeriksaan atau keterangan medis yang memastikan penyebab kematian. Karena itu, penyebab meninggalnya Ardiansyah perlu dipahami secara hati-hati sembari menunggu penjelasan dari pihak berwenang atau tenaga kesehatan yang menangani kondisinya.
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko kesehatan yang dapat dihadapi masyarakat ketika kabut asap bertahan dalam waktu lama. Pengemudi ojek online dan pekerja lapangan lainnya termasuk kelompok yang berpotensi lebih sering terpapar udara luar. Namun, keterkaitan langsung paparan kabut asap dan kematian Ardiansyah tetap merupakan dugaan keluarga yang belum dinyatakan sebagai diagnosis medis.
Rita Yunita, istri Ardiansyah, mengatakan bahwa almarhum memiliki riwayat asma. Menurut keterangannya, gangguan pernapasan tersebut lebih sering muncul sejak kabut asap menyelimuti Palembang. Ardiansyah disebut mengalami batuk dan sesak, terutama setelah bekerja atau melakukan aktivitas di luar rumah. Keluhan itu menjadi perhatian karena sehari-hari ia berprofesi sebagai pengemudi ojek online yang banyak menghabiskan waktu di jalan.
Dalam rutinitasnya, Ardiansyah biasanya mulai bekerja sejak pagi, kemudian beristirahat pada siang hari sebelum kembali beraktivitas hingga sore menjelang malam. Dengan menggunakan sepeda motor, ia diperkirakan berada di luar rumah sekitar sembilan jam setiap hari. Paparan udara terbuka dalam durasi panjang membuat aktivitasnya berada di tengah kondisi kabut asap. Rita menuturkan bahwa Ardiansyah mulai mengurangi pekerjaannya ketika kabut asap semakin memburuk. Meski demikian, keluhan sesak masih kembali dirasakan, termasuk pada pagi hari sebelum ia meninggal.
Rita juga mengenang kondisi Ardiansyah setelah keluar dari kamar mandi pada pagi tersebut. Karena kamar mandi di rumah mereka tidak memiliki plafon, kabut asap disebut dapat masuk langsung ke ruangan. Tidak lama kemudian, Ardiansyah mengeluhkan kesulitan bernapas dan menyampaikan bahwa asap terlihat sangat pekat. “Ya Allah, kabut asap ini,” ujar Ardiansyah sebagaimana dikenang oleh Rita. Keterangan mengenai riwayat asma, intensitas pekerjaan di luar rumah, serta keluhan yang muncul berulang menjadi bagian dari informasi yang disampaikan keluarga. Namun, hubungan langsung paparan kabut asap dan meninggalnya Ardiansyah tetap memerlukan pemeriksaan serta penjelasan medis dari pihak berwenang.
Keluarga berupaya memberikan pertolongan kepada Ardiansyah setelah kondisinya memburuk. Mereka kemudian membawanya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Bari, Palembang, untuk memperoleh penanganan medis. Setibanya di rumah sakit, Ardiansyah menjalani pemeriksaan dan mendapat tindakan dari petugas kesehatan. Upaya pertolongan juga dilakukan melalui resusitasi. Namun, setelah rangkaian pemeriksaan dan penanganan tersebut, nyawanya tetap tidak tertolong.
Kepergian Ardiansyah meninggalkan istri dan anak-anak. Bagi keluarga, peristiwa itu tidak hanya menjadi kehilangan secara pribadi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi udara yang diduga berkaitan dengan kesehatannya. Rita menyampaikan bahwa dampak kabut asap tidak semata-mata berupa berkurangnya jarak pandang atau terganggunya aktivitas warga. Menurut dia, dampak tersebut turut dirasakan keluarganya melalui kehilangan Ardiansyah, yang diduga terdampak kondisi udara.
Setelah mengalami kehilangan tersebut, Rita meminta pemerintah bergerak ketika kondisi udara dinilai tidak aman. Ia berharap ada langkah yang dapat melindungi masyarakat dari risiko kesehatan akibat paparan kabut asap, terutama ketika kualitas udara memburuk. Permintaan itu disampaikan agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan korban lain. Rita juga menyoroti perlunya perhatian terhadap warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, termasuk para pengemudi ojek online. Harapan keluarga tersebut disampaikan secara proporsional, dengan menekankan kebutuhan akan tindakan pemerintah saat udara berada dalam kondisi yang berisiko bagi kesehatan masyarakat.
Kabut asap mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada Sabtu pagi. General Manager Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Ahmad Syaugi Sahab, menyatakan sedikitnya delapan penerbangan terdampak karena jarak pandang berada di bawah standar minimum penerbangan. Kondisi tersebut membuat sejumlah pesawat harus menunda pergerakan, sementara maskapai menyesuaikan jadwal sesuai perkembangan cuaca.
Empat penerbangan kedatangan tercatat mengalami gangguan. Penerbangan QG 980 melayani rute Jakarta-Palembang, IU 933 melayani rute Yogyakarta-Palembang, IU 924 melayani rute Jakarta-Palembang, dan GA 102 juga datang dari Jakarta menuju Palembang. Di penerbangan tersebut, QG 980 harus melakukan return to base, yakni kembali ke bandara asal, karena situasi belum memungkinkan untuk mendarat dengan aman di Palembang.
Gangguan juga terjadi pada empat penerbangan keberangkatan dengan rute Palembang-Jakarta. Penerbangan yang terdampak ialah QG 981, IU 964, IU 871, dan GA 107. Penyesuaian terhadap penerbangan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan, termasuk perubahan jarak pandang dan hasil pemantauan petugas terkait keselamatan penerbangan.
Ahmad menjelaskan, istilah visibility below minimum merujuk pada kondisi jarak pandang yang berada di bawah batas minimum operasional penerbangan. Dalam keadaan seperti ini, proses lepas landas maupun pendaratan tidak dapat dilakukan secara normal apabila persyaratan keselamatan belum terpenuhi. Pihak bandara dan maskapai terus berkoordinasi untuk memantau cuaca serta melakukan penyesuaian operasional dengan mengutamakan keselamatan penumpang dan awak pesawat. Penumpang juga diimbau memeriksa informasi terbaru mengenai jadwal dan status penerbangan melalui maskapai masing-masing sebelum menuju bandara.







