JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Studi Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan bahwa kualitas udara Jakarta berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Rata-rata konsentrasi tahunan PM2.5 di ibu kota tercatat mencapai 34 mikrogram per meter kubik. Angka ini sekitar 6,8 kali lebih tinggi dibandingkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menetapkan batas 5 mikrogram per meter kubik untuk konsentrasi tahunan PM2.5.
Temuan tersebut disampaikan Guru Besar ITB Puji Lestari dalam diskusi bertajuk “Clean Air for Greater Jakarta: From Evidence to Investment and Action”. Diskusi itu berlangsung dalam rangkaian Indonesia International Sustainability Forum 2026 di Jakarta. Informasi mengenai paparan tersebut dikutip pada 9 Oktober 2026, dengan perhatian utama pada perbandingan kondisi aktual di Jakarta dan pedoman kualitas udara yang ditetapkan WHO.
Menurut Puji Lestari, konsentrasi tahunan PM2.5 sebesar 34 mikrogram per meter kubik tidak hanya melampaui pedoman WHO, tetapi juga disebut melampaui seluruh regulasi yang ada. Pernyataan itu menggambarkan besarnya jarak tingkat paparan yang tercatat dalam studi ITB dan ambang batas yang berlaku. Dengan demikian, data tersebut menjadi temuan utama dalam pembahasan mengenai kualitas udara Jakarta pada forum tersebut, khususnya ketika kondisi kota dibandingkan dengan standar dan ketentuan pengendalian yang tersedia.
Temuan mengenai konsentrasi PM2.5 di Jakarta berasal dari dua kajian yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), yaitu “Source Apportionment PM2.5 di Jakarta” dan “Inventarisasi Emisi Wilayah Jabodetabek”. Kedua studi tersebut disusun berdasarkan pengamatan dan analisis tim peneliti dari Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB. Informasi ini menjadi dasar penting untuk memahami kondisi pencemaran udara, khususnya karena partikulat halus PM2.5 dapat berasal dari beragam aktivitas dan wilayah.
Studi “Source Apportionment PM2.5 di Jakarta” berfokus pada penelusuran alokasi sumber PM2.5 di wilayah Jakarta. Kajian ini membantu mengidentifikasi kontribusi berbagai sumber terhadap konsentrasi partikulat yang terukur, sehingga memberikan gambaran mengenai asal-usul polusi udara di kawasan perkotaan. Sementara itu, “Inventarisasi Emisi Wilayah Jabodetabek” menyusun data mengenai emisi yang dihasilkan oleh berbagai sumber di wilayah Jabodetabek. Sesuai istilah yang digunakan dalam sumber, inventarisasi tersebut memberikan kerangka penghitungan emisi secara lebih luas, mencakup kawasan metropolitan yang saling terhubung dengan Jakarta.
Kedua pendekatan itu berfungsi sebagai landasan penelitian yang saling melengkapi. Alokasi sumber menunjukkan hubungan konsentrasi PM2.5 dan sumber pencemar yang berkontribusi, sedangkan inventarisasi emisi menggambarkan besaran emisi berdasarkan wilayah serta sektor kegiatan. Perbandingan keduanya dapat digunakan untuk menilai konsistensi hasil analisis dan memperkuat pemahaman mengenai pola pencemaran udara.
Puji menyatakan bahwa hasil inventarisasi emisi dan alokasi sumber menunjukkan kecocokan yang baik untuk PM2.5 di Jakarta. Berdasarkan kajian tersebut, kontribusinya tercatat sekitar 60 persen dari inventarisasi emisi dan sekitar 59 persen dari alokasi sumber. Kesesuaian angka ini memperlihatkan bahwa kedua metode memberikan gambaran yang relatif sejalan mengenai sumber PM2.5 di Jakarta.
Temuan studi ITB menunjukkan bahwa tingginya paparan PM2.5 di Jakarta berkaitan dengan emisi dari berbagai aktivitas manusia. Berdasarkan hasil inventarisasi emisi dan alokasi sumber, sektor transportasi tercatat sebagai penyumbang polusi udara terbesar, dengan porsi sekitar 59 persen dari total kontribusi PM2.5. Angka tersebut menggambarkan besarnya peran aktivitas kendaraan terhadap konsentrasi partikel halus yang terukur di wilayah perkotaan.
Dalam alokasi sumber tersebut, kendaraan diesel menjadi kontributor utama dengan persentase 33,1 persen. Berikutnya, kendaraan berbahan bakar bensin menyumbang 26,2 persen. Kontributor terbesar ketiga adalah polutan secondary sulfate, dengan porsi sekitar 20,4 persen. Secondary sulfate merupakan partikel yang terbentuk melalui proses atmosfer dari senyawa prekursor, sehingga sumbernya tidak semata-mata terlihat sebagai emisi partikel langsung di lokasi pengukuran. Susunan ini menunjukkan bahwa hasil kajian mempertimbangkan berbagai sumber, baik emisi langsung maupun pembentukan polutan sekunder.
Selain sektor transportasi, studi tersebut mengidentifikasi kontribusi dari aktivitas pembakaran lainnya. Pembakaran batubara menyumbang sekitar 5,5 persen terhadap polusi PM2.5 di Jakarta. Sementara itu, pembakaran sampah memberikan kontribusi sekitar 5 persen. Kedua sumber ini berada di bawah kontribusi sektor transportasi, tetapi tetap tercatat dalam hasil inventarisasi dan alokasi sumber yang digunakan untuk menjelaskan asal paparan partikel halus di ibu kota. Dengan demikian, data penelitian memetakan kontribusi PM2.5 berdasarkan beragam aktivitas penghasil emisi, termasuk kendaraan diesel, kendaraan bensin, polutan secondary sulfate, pembakaran batubara, serta pembakaran sampah.
Studi ITB menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara di Jakarta tidak dapat dipahami hanya dengan melihat aktivitas yang berlangsung di dalam batas administratif ibu kota. Pengukuran konsentrasi PM2.5 yang mencapai 34 mikrogram per meter kubik juga perlu dibaca bersama pola pergerakan udara dan kegiatan perkotaan di wilayah sekitarnya. Polutan dapat berkaitan dengan aktivitas di kawasan yang saling terhubung, terutama karena Jakarta dan kota-kota di sekelilingnya membentuk satu kawasan metropolitan dengan mobilitas penduduk, transportasi, serta kegiatan ekonomi yang berlangsung setiap hari.
Dalam kajian tersebut, wilayah penyangga yang disebut meliputi Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Keempat kota atau wilayah ini tidak berdiri terpisah dari dinamika Jakarta. Arus kendaraan, aktivitas industri, pembangunan, serta kegiatan masyarakat di kawasan tersebut tercatat sebagai bagian dari konteks yang memengaruhi kondisi pencemaran udara di ibu kota. Artinya, sumber polusi yang terukur di Jakarta juga berkaitan dengan aktivitas dari kawasan di luar kota, bukan semata-mata berasal dari sumber emisi yang berada di dalam wilayah Jakarta.
Studi ITB mengidentifikasi adanya kontribusi yang cukup besar dari kota-kota penyangga terhadap polusi udara Jakarta. Temuan ini memperlihatkan bahwa hubungan pusat kota dan wilayah sekitarnya menjadi unsur penting dalam membaca sebaran PM2.5. Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi disebut memberikan kontribusi gabungan sebesar 38,51 persen terhadap polusi udara Jakarta.







