Asap Tebal Hambat Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla di Sumsel

Asap Tebal Hambat Operasi Lima Helikopter Pemadam Karhutla di Sumsel

Palembang | Lima helikopter water bombing yang tergabung dalam Satuan Tugas Udara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum dapat beroperasi membantu pemadaman di Sumatera Selatan. Armada bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut masih berada dalam kondisi siaga di Palembang. Penerbangan yang dijadwalkan pada Selasa, 13 Oktober, terpaksa dibatalkan setelah jarak pandang di wilayah terdampak kembali memburuk akibat kepungan asap.

Kelima helikopter itu sebenarnya telah disiapkan untuk menjalankan misi pemadaman di sejumlah titik karhutla di Sumsel. Dengan kemampuan membawa dan menjatuhkan air, armada tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan api, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Namun, kondisi atmosfer yang dipenuhi asap membuat penerbangan belum memungkinkan dilakukan secara aman.

Rendahnya jarak pandang menjadi pertimbangan utama sebelum helikopter dikerahkan. Selain berisiko menghambat navigasi, situasi tersebut dapat membahayakan keselamatan kru saat lepas landas, menuju lokasi kebakaran, maupun kembali ke pangkalan. Karena itu, seluruh armada tetap menunggu perkembangan kondisi udara dan arahan lebih lanjut dari pihak berwenang. Operasi water bombing akan dilanjutkan apabila jarak pandang telah memenuhi batas keselamatan penerbangan.

Penundaan ini membuat upaya pemadaman dari udara belum bisa memberikan dukungan langsung terhadap petugas di lapangan. Tim darat dan unsur terkait tetap melakukan pemantauan terhadap titik-titik api sambil menunggu kesempatan penerbangan dibuka kembali. BNPB bersama pemerintah daerah juga perlu memastikan koordinasi berlangsung cepat, sehingga kelima helikopter dapat segera diterbangkan ketika kondisi asap mulai menurun dan cuaca dinilai mendukung.

Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa lima helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan sempat berada dalam kondisi siap terbang pada pagi hari. Namun, perubahan cuaca menyebabkan jarak pandang atau visibility tiba-tiba menurun. Situasi tersebut membuat operasi penerbangan harus ditunda dan seluruh persiapan dilakukan kembali sambil menunggu perkembangan kondisi di lapangan.

Menurut Ferdian, jarak pandang yang sangat rendah menjadi risiko serius bagi keselamatan penerbangan. Asap tebal dapat menghalangi pandangan pilot terhadap permukaan tanah, titik api, maupun objek lain di sekitar jalur penerbangan. Kondisi ini juga menyulitkan helikopter ketika harus bermanuver, mengambil air, dan menjatuhkan muatan secara tepat. Karena itu, pengerahan armada udara tidak hanya ditentukan oleh kesiapan personel dan peralatan, tetapi juga oleh faktor cuaca serta tingkat keamanan penerbangan.

Ferdian menyatakan telah mengajukan permintaan pelaksanaan water bombing untuk membantu menangani kebakaran. Kendati demikian, pemadaman melalui udara tetap bergantung pada perbaikan jarak pandang. Permintaan tersebut belum dapat langsung dilaksanakan apabila asap masih terlalu pekat dan penerbangan dinilai membahayakan. Tim terkait terus memantau perubahan kondisi agar keputusan pengerahan helikopter dapat dilakukan secara tepat dan tidak menimbulkan risiko tambahan.

Pemadaman dari udara memiliki peran penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau tim darat. Helikopter dapat membawa air menuju lokasi terpencil, lahan bergambut, atau area yang terhalang vegetasi dan akses jalan terbatas. Dukungan ini memungkinkan upaya pembasahan dilakukan pada titik api yang sulit didekati secara langsung. Namun, manfaat tersebut harus tetap diimbangi dengan penerapan prosedur keselamatan, sehingga operasi hanya dijalankan ketika kondisi penerbangan benar-benar memungkinkan.

Rendahnya jarak pandang menjadi salah satu kendala utama dalam operasi lima helikopter pemadam kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Hambatan tersebut telah dirasakan sejak Kamis, 8 Oktober, ketika asap tebal menyelimuti sejumlah wilayah dan membuat kondisi udara berubah dengan cepat. Situasi ini tidak hanya memengaruhi aktivitas penerbangan, tetapi juga menentukan apakah helikopter dapat menjalankan misi pemadaman secara aman.

Menurut Ferdian, kondisi jarak pandang atau visibility bersifat dinamis. Dalam waktu tertentu, jarak pandang masih memungkinkan helikopter mengudara, tetapi beberapa saat kemudian dapat menurun hingga berada di bawah batas aman. Pada beberapa hari, helikopter bahkan sama sekali tidak dapat diterbangkan karena asap menghalangi pandangan pilot dan menyulitkan pemantauan terhadap area yang menjadi sasaran operasi.

Perubahan tersebut terjadi mengikuti pergerakan asap, arah angin, serta kondisi cuaca di sekitar lokasi kebakaran. Karena itu, keputusan penerbangan tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan jadwal operasi. Tim harus memantau kondisi terkini sebelum helikopter diberangkatkan, termasuk memastikan jalur menuju lokasi, area putar balik, dan titik pengambilan air tetap terlihat oleh awak pesawat.

Penerbangan untuk kegiatan water bombing sebelumnya pernah dilakukan dari Bangka Belitung. Namun, hasilnya belum optimal karena langit di atas titik karhutla tertutup asap tebal. Situasi tersebut menyulitkan awak helikopter untuk mengenali lokasi kebakaran secara tepat serta menilai posisi sasaran sebelum menjatuhkan air. Air yang dibawa pun berisiko tidak jatuh pada area yang paling membutuhkan pemadaman apabila titik api tidak dapat terlihat dengan jelas.

Perubahan jarak pandang dan situasi di tempat kejadian menjadi dasar utama dalam pertimbangan keamanan sebelum penerbangan dilaksanakan. Meskipun kebutuhan pemadaman tetap mendesak, keselamatan pilot, kru, dan pesawat harus diperhitungkan secara menyeluruh. Operasi hanya dapat dilanjutkan ketika kondisi dinilai cukup aman dan peluang penanganan titik karhutla masih efektif.

Meski operasi lima helikopter pemadam karhutla untuk sementara terhambat oleh asap tebal, penanganan kebakaran hutan dan lahan tetap dilanjutkan oleh satgas darat. Tim di lapangan terus menjalankan upaya penanganan titik api sesuai kondisi yang dihadapi, sehingga penghentian sementara kegiatan water bombing tidak berarti seluruh respons terhadap karhutla terhenti. Satgas darat menjadi unsur yang tetap bergerak untuk menangani lokasi yang membutuhkan penanganan langsung.

Fokus penanganan berada di empat wilayah, yaitu Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim. Keempat daerah tersebut menjadi perhatian dalam upaya pengendalian karhutla melalui kegiatan yang dilakukan dari darat. Penanganan disesuaikan dengan situasi di masing-masing wilayah, termasuk akses menuju lokasi serta kondisi lahan yang terbakar. Dengan demikian, koordinasi dan pekerjaan lapangan tetap berlangsung meskipun dukungan dari udara belum dapat beroperasi.

Dalam pelaksanaannya, satgas darat menghadapi kendala berupa medan yang berat. Kondisi tersebut dapat menyulitkan pergerakan tim menuju lokasi serta proses penanganan di area terdampak. Ketersediaan air juga semakin terbatas karena sejumlah sungai dan kanal mulai mengering. Situasi ini membuat sumber air untuk mendukung pemadaman menjadi lebih sulit diperoleh. Kendala medan dan berkurangnya pasokan air menjadi tantangan penting yang harus dihadapi dalam melanjutkan penanganan karhutla di Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat | Operasi Pencarian Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda