Jakarta | Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua dan keluarga agar tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Telur yang belum matang sepenuhnya berisiko mengandung bakteri Salmonella, yaitu mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna. Infeksi tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti mual, muntah, diare, nyeri perut, dan demam. Pada bayi, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih karena daya tahan tubuh mereka masih berkembang dan kehilangan cairan akibat diare atau muntah dapat berlangsung cepat.
Peringatan itu disampaikan Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Senin. Ia menekankan bahwa makanan yang diberikan kepada bayi harus diolah secara aman, termasuk memastikan telur matang dengan baik sebelum disajikan. Proses pemasakan yang memadai membantu mengurangi risiko paparan bakteri dan menjadi bagian penting dari penerapan keamanan makanan pendamping air susu ibu (MPASI).
Imbauan IDAI tersebut muncul ketika masyarakat tengah menaruh perhatian pada kabar mengenai seorang bayi di Surabaya, Jawa Timur, yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya. Informasi tersebut menjadi perbincangan di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Namun, kabar itu tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa telur mentah secara langsung menyebabkan kematian bayi tersebut. Penyebab pasti kejadian tetap memerlukan penjelasan dan pemeriksaan dari pihak berwenang serta tenaga kesehatan.
Meski demikian, perhatian publik terhadap peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bagi keluarga untuk lebih cermat dalam menyiapkan makanan bayi. Telur sebaiknya dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang, kemudian diberikan dalam tekstur yang sesuai dengan usia dan kemampuan makan anak. Orang tua juga perlu berkonsultasi dengan dokter apabila bayi mengalami muntah, diare, demam, lemas, atau tanda dehidrasi setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Infeksi Salmonella, yang dikenal sebagai salmonelosis, dapat terjadi ketika bayi atau anak mengonsumsi pangan yang terkontaminasi, termasuk telur mentah atau telur yang tidak dimasak hingga matang. Karena itu, keamanan pangan menjadi bagian penting dalam penyediaan makanan pendamping ASI (MPASI). Pangan untuk bayi perlu dipersiapkan dengan cara yang membantu mencegah masuknya bakteri penyebab infeksi.
Gejala salmonelosis dapat meliputi diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Keluhan tersebut dapat muncul secara bersamaan atau dengan tingkat yang berbeda pada setiap anak. Diare dan muntah perlu diperhatikan karena keduanya dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan. Demam dan nyeri perut juga menjadi tanda yang perlu diamati ketika anak mengalami gangguan setelah mengonsumsi makanan yang berisiko terkontaminasi.
Pada bayi dan anak kecil, infeksi Salmonella dapat berlangsung lebih berat dibandingkan pada anak yang lebih besar. Kondisi ini berkaitan dengan usia mereka yang masih rentan, sehingga salmonelosis berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Dampak tersebut menegaskan bahwa pencegahan melalui pengolahan makanan yang aman lebih penting daripada mengandalkan penanganan setelah infeksi terjadi.
Telur untuk MPASI sebaiknya tidak diberikan dalam keadaan mentah atau setengah matang. Proses pemasakan yang memadai merupakan langkah keamanan pangan untuk membantu mengurangi risiko paparan Salmonella. Selain itu, makanan bayi perlu disiapkan secara higienis dan diberikan dengan perhatian terhadap keamanan setiap bahan yang digunakan. Langkah sederhana ini penting karena bayi belum mampu menyampaikan keluhan secara jelas, sementara diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi dapat membuat infeksi berlangsung lebih berat pada usia yang masih kecil.
Pemberian makanan kepada bayi perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta aspek keamanan pangan. Setiap bayi berkembang dengan kecepatan yang berbeda, sehingga keputusan mengenai jenis, tekstur, jumlah, dan waktu pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) perlu dilakukan secara bertahap. Orang tua juga perlu memperhatikan kemampuan bayi untuk duduk dengan bantuan, mengendalikan kepala dan leher, membuka mulut ketika ditawari makanan, serta menelan makanan tanpa terus-menerus mendorongnya keluar dengan lidah.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi, terutama pada awal kehidupan. ASI mengandung zat gizi dan komponen perlindungan yang mendukung pertumbuhan serta perkembangan bayi. Pandangan tersebut sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Selama periode ini, bayi pada umumnya tidak memerlukan makanan atau minuman lain, kecuali atas pertimbangan medis dari tenaga kesehatan.
MPASI secara umum mulai diperkenalkan ketika bayi berusia enam bulan, saat kebutuhan energi dan zat gizinya mulai meningkat sehingga ASI saja tidak lagi mencukupi seluruh kebutuhannya. Setelah MPASI diberikan, ASI tetap dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih, sesuai keinginan ibu dan anak. Makanan pendamping sebaiknya diberikan secara beragam, bergizi seimbang, bertekstur sesuai kemampuan bayi, serta diolah dan disimpan dengan cara yang higienis.
Dalam kondisi tertentu, MPASI dapat dipertimbangkan sejak bayi berusia empat bulan. Namun, langkah ini harus berdasarkan penilaian dokter dan mempertimbangkan kesiapan perkembangan bayi, bukan semata-mata usia atau kekhawatiran orang tua. Sebaliknya, pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan karena sistem pencernaan dan kemampuan menelan bayi belum tentu siap. Konsultasi dengan dokter anak membantu memastikan waktu dan cara pemberian makanan yang paling aman bagi setiap bayi.
Telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi salah satu sumber protein berkualitas tinggi dalam makanan pendamping air susu ibu (MPASI). Selain protein, telur mengandung berbagai zat gizi penting, seperti lemak, vitamin, mineral, dan kolin, yang mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak. Telur dapat diperkenalkan sebagai bahan MPASI sesuai usia dan kesiapan makan bayi. Orang tua perlu memastikan bagian putih dan kuning telur benar-benar matang, tidak lagi cair, lembek, atau berwarna bening, karena telur setengah matang masih dapat membawa mikroorganisme penyebab penyakit.
Keamanan pengolahan perlu diperhatikan sejak bahan dipilih hingga makanan disajikan. Gunakan telur yang cangkangnya bersih, utuh, dan tidak retak atau rusak. Cuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan makanan, setelah memegang telur mentah, serta sebelum menyuapi bayi. Peralatan masak, talenan, wadah, dan sendok juga harus dicuci bersih. Pisahkan peralatan yang digunakan untuk telur mentah dari peralatan untuk makanan siap santap guna mencegah kontaminasi silang. Setelah matang, telur sebaiknya segera diberikan kepada bayi dalam tekstur yang sesuai dengan kemampuan makannya dan tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang.
Orang tua dapat mengolah telur dengan cara merebus, mengukus, atau memasaknya hingga seluruh bagian mengeras, lalu menyesuaikan teksturnya dengan tahap perkembangan bayi. Hindari menambahkan garam, gula, atau bumbu berlebihan, terutama pada awal pemberian MPASI. Jika bayi menunjukkan gejala setelah mengonsumsi telur, seperti ruam, muntah, diare, bengkak, atau kesulitan bernapas, hentikan pemberian dan segera cari pertolongan medis. Konsultasikan dengan dokter mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, tanda kesiapan makan, serta pilihan makanan yang aman dan sesuai kebutuhan bayi.
Baca juga: Pentingnya Program Tebus Ijazah bagi Pelajar di Bogor | Pentingnya Keterlibatan Pengadilan Internasional dalam Kasus Teror Air Keras | Pentingnya Pembenahan Sistem untuk Optimalisasi PAD di Purwakarta






