Surabaya | Kabar mengenai meninggalnya Alena, bayi berusia 28 hari di Surabaya, ramai dibicarakan di media sosial. Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik setelah keluarga menyampaikan kronologi mengenai kondisi bayi dan perawatan yang sempat dijalaninya di RSUD Dr. Soetomo. Informasi yang beredar juga memuat dugaan terkait pemberian telur mentah sebelum Alena mengalami kondisi kesehatan yang serius. Namun, dugaan tersebut tidak dapat langsung dipahami sebagai penyebab kematian karena masih memerlukan penjelasan dan pembuktian medis yang memadai.
Berdasarkan keterangan Kepala Bagian Umum RSUD Dr. Soetomo, Robeth Jabbar, Alena sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Tim medis telah memberikan penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien. Pernyataan itu disampaikan untuk menjelaskan bahwa selama berada di rumah sakit, pasien memperoleh perawatan berdasarkan kondisi klinis serta prosedur yang berlaku. Pihak rumah sakit tidak menyampaikan kesimpulan bahwa pemberian makanan tertentu menjadi penyebab meninggalnya bayi tersebut.
Alena dinyatakan meninggal dunia pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 07.10 WIB. Saat meninggal, usianya tercatat 28 hari. Kabar duka ini kemudian menyebar luas dan memunculkan beragam tanggapan, terutama terkait keamanan pemberian makanan kepada bayi yang masih sangat kecil. Meski demikian, kronologi dari keluarga dan keterangan rumah sakit perlu dibedakan dari kesimpulan medis. Hubungan dugaan pemberian telur mentah dan kondisi akhir Alena belum dapat dipastikan hanya berdasarkan informasi yang beredar. Penjelasan mengenai keamanan makanan bayi perlu merujuk pada rekomendasi tenaga kesehatan dan bukti medis, bukan semata-mata pada urutan kejadian yang disampaikan di media sosial.
Informasi mengenai kondisi Alena disampaikan melalui akun Threads @calisthaarisha yang mengaku sebagai tantenya. Dalam unggahan tersebut, akun itu menyebut Alena, seorang bayi yang saat itu belum genap berusia satu bulan, berada dalam kondisi kritis. Keterangan tersebut menjadi perhatian warganet karena berkaitan dengan dugaan pemberian telur mentah kepada bayi.
Menurut unggahan akun @calisthaarisha, telur mentah itu diduga diberikan oleh nenek Alena dengan tujuan menurunkan demam. Akun yang sama menekankan bahwa Alena masih berusia sangat muda dan belum genap satu bulan. Karena itu, pemberian telur mentah disebut sebagai asupan yang tidak semestinya bagi bayi seusianya. Informasi ini merupakan keterangan dari akun media sosial tersebut, sehingga tidak boleh dipahami sebagai penjelasan medis yang telah terverifikasi secara independen.
Unggahan itu tidak memuat rincian tambahan mengenai kondisi kesehatan Alena, penyebab demam, maupun proses pemberian telur. Oleh sebab itu, informasi mengenai perkara tersebut perlu disampaikan secara terbatas sesuai keterangan yang tersedia, tanpa menambahkan dugaan atau kesimpulan di luar isi unggahan keluarga. Pembaca juga perlu membedakan klaim yang dibagikan melalui media sosial dan keterangan resmi dari tenaga kesehatan atau pihak berwenang.
Dalam unggahan berikutnya, akun @calisthaarisha mengabarkan bahwa Alena telah meninggal dunia. Akun tersebut juga menyampaikan terima kasih kepada warganet atas doa yang telah diberikan untuk Alena. Kabar itu menjadi bagian terakhir dari rangkaian informasi yang disampaikan akun yang mengaku sebagai tante Alena. Hingga terdapat keterangan resmi lain, kronologi tersebut perlu dipahami sebagai informasi berdasarkan pernyataan keluarga di media sosial, bukan sebagai uraian lengkap mengenai kondisi medis maupun penyebab meninggalnya Alena.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus dilakukan dengan mempertimbangkan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan. Keputusan mengenai asupan bayi tidak seharusnya hanya didasarkan pada kebiasaan keluarga, informasi di media sosial, atau kemampuan bayi menerima makanan. Setiap tahapan perlu disesuaikan dengan kondisi individual agar kebutuhan nutrisi terpenuhi tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Selama enam bulan pertama kehidupan, air susu ibu (ASI) eksklusif perlu diutamakan apabila kondisi ibu dan bayi memungkinkan. ASI menyediakan zat gizi serta komponen pendukung daya tahan tubuh yang dibutuhkan bayi pada periode awal pertumbuhan. Apabila ASI tidak dapat diberikan, susu formula bayi dapat digunakan sesuai kebutuhan dan indikasi medis. Pemilihannya, cara penyiapan, serta jumlah pemberian perlu mengikuti petunjuk tenaga kesehatan dan standar keamanan agar tidak menimbulkan risiko bagi bayi.
Secara umum, makanan pendamping ASI (MPASI) direkomendasikan mulai usia enam bulan. Pada tahap tersebut, bayi biasanya mulai membutuhkan tambahan energi dan zat gizi yang tidak lagi sepenuhnya dapat dipenuhi oleh ASI. Namun, usia bukan satu-satunya pertimbangan. Bayi juga perlu menunjukkan kesiapan perkembangan, seperti mampu duduk dengan bantuan, memiliki kontrol kepala yang baik, serta menunjukkan ketertarikan terhadap makanan dan kemampuan menelan yang sesuai.
Menurut Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), MPASI dapat dipertimbangkan sejak usia empat bulan atau 17 minggu dalam kondisi tertentu. Keputusan ini harus didasarkan pada pertimbangan klinis, kesiapan perkembangan bayi, dan penilaian dokter, sehingga bukan merupakan anjuran rutin untuk semua bayi. Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan. Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak sebelum mengubah pola makan bayi, terutama apabila terdapat kondisi medis, masalah pertumbuhan, atau kekhawatiran terkait kecukupan nutrisi.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa telur mentah maupun setengah matang tidak sesuai untuk diberikan kepada bayi. Telur yang belum matang sempurna berpotensi mengandung bakteri Salmonella, yaitu mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis. Risiko ini perlu diperhatikan karena sistem kekebalan bayi masih berkembang, sehingga tubuhnya belum mampu menghadapi paparan kuman sebaik orang dewasa. Tidak ada keuntungan gizi khusus dari telur mentah atau setengah matang yang dapat membenarkan risiko tersebut.
Salmonelosis dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat serta berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama apabila kehilangan cairan terjadi dengan cepat atau pertolongan medis terlambat diberikan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memberikan telur dengan bagian putih atau kuning yang masih cair kepada bayi. Telur juga perlu ditangani secara higienis, termasuk dengan mencuci tangan, menggunakan peralatan bersih, dan menghindari kontaminasi silang bahan mentah dan makanan siap santap.
Berbeda dari telur mentah, telur yang dimasak hingga matang sempurna dapat menjadi sumber protein berkualitas tinggi serta menyediakan berbagai zat gizi penting bagi anak yang telah memasuki tahap makanan pendamping ASI (MPASI). Pemasakan yang tepat membantu menurunkan risiko bakteri sekaligus membuat protein lebih mudah dicerna. Telur dapat diperkenalkan ketika bayi sudah mencapai usia dan menunjukkan kesiapan untuk menerima MPASI, dengan tekstur, jumlah, dan cara penyajian yang disesuaikan dengan kemampuan makannya. Telur harus matang merata, diberikan dalam porsi kecil pada awal pengenalan, serta dipantau untuk melihat kemungkinan reaksi alergi atau gangguan pencernaan. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan bentuk dan porsi yang sesuai.
Baca juga: Kondisi Terkini Siswi Karo Pasca Keracunan Makanan | Mempersiapkan Laga Persija vs Persib: Jadwal, Tiket, dan Ketentuan Keamanan | Penjelasan Purbaya tentang Subsidi Energi







