Bisnis  

NextDev 12 Telkomsel Perkuat Fondasi Startup di Tengah Anjloknya Pendanaan

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Pendanaan perusahaan rintisan digital di Indonesia mengalami penurunan drastis dalam periode 2021 hingga 2025. Berdasarkan informasi yang tersedia, nilainya merosot hingga 94,8 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa akses startup terhadap pendanaan berada dalam tekanan yang sangat kuat, terutama pada saat industri teknologi menghadapi perubahan besar dalam iklim investasi.

Kondisi ini berlangsung di tengah gelombang tech winter, sebuah periode ketika pendanaan pada sektor teknologi mengalami penyusutan. Istilah tersebut menggambarkan suasana industri yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan modal kepada perusahaan rintisan digital. Startup tidak lagi berada dalam lingkungan pendanaan yang sama seperti sebelumnya, ketika penghimpunan modal menjadi bagian penting dari perkembangan banyak perusahaan teknologi.

Penurunan tersebut menjadi gambaran utama mengenai tantangan yang dihadapi ekosistem startup digital Indonesia sepanjang 2021 hingga 2025. Arus pendanaan yang merosot tajam mencerminkan perubahan kondisi dalam industri teknologi, sementara perusahaan perlu beroperasi dalam situasi yang lebih terbatas. Pada waktu yang sama, banyak perusahaan melakukan efisiensi sebagai bagian dari penyesuaian terhadap keadaan industri yang sedang berlangsung.

Efisiensi tersebut hadir bersamaan dengan melemahnya pendanaan, sehingga periode ini menandai fase yang berbeda bagi perusahaan rintisan digital. Perhatian industri tidak hanya tertuju pada pertumbuhan, tetapi juga pada kemampuan perusahaan untuk menata kembali operasionalnya di tengah kondisi yang lebih ketat. Dengan demikian, penurunan pendanaan sebesar 94,8 persen menjadi konteks penting untuk memahami situasi startup digital Indonesia dalam periode tersebut.

Gambaran ini menjadi landasan bagi pembahasan mengenai upaya memperkuat fondasi perusahaan rintisan. Ketika gelombang tech winter masih mewarnai industri teknologi dan efisiensi dilakukan oleh banyak perusahaan, penguatan dasar operasional startup menjadi isu yang semakin relevan untuk diperhatikan.

Telkomsel kembali menyelenggarakan program NextDev untuk ke-12 kalinya, meskipun kondisi pendanaan startup nasional dan global masih menghadapi tekanan. Keputusan ini menunjukkan bahwa pengembangan perusahaan rintisan tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan modal dalam jangka pendek. Ketika investor menjadi lebih selektif dan arus pendanaan mengalami penurunan, penguatan kapasitas, strategi, serta tata kelola justru menjadi kebutuhan yang semakin penting bagi para technopreneur lokal.

Memasuki tahun ke-12, NextDev diposisikan sebagai impact incubator yang memberikan pendampingan menyeluruh bagi startup berbasis teknologi. Program ini tidak hanya berorientasi pada penciptaan produk atau pencarian investasi, tetapi juga membantu peserta membangun fundamental bisnis yang sehat. Aspek tersebut mencakup validasi model bisnis, pemahaman terhadap kebutuhan pasar, pengelolaan keuangan, penguatan sumber daya manusia, serta kemampuan mengukur dampak usaha secara berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan membantu startup menjadi lebih tangguh dalam menghadapi perubahan ekonomi dan persaingan industri.

Konsistensi pelaksanaan NextDev juga mencerminkan komitmen Telkomsel terhadap keberlanjutan ekosistem digital nasional. Dengan terus membuka ruang bagi inovasi dan mempertemukan startup dengan mentor, mitra, maupun jaringan industri, Telkomsel berupaya memastikan pertumbuhan teknologi berlangsung secara inklusif dan memiliki manfaat yang lebih luas. Dalam situasi pendanaan yang lesu, keberadaan program seperti ini dapat menjadi fondasi nonfinansial yang penting, terutama bagi perusahaan rintisan yang sedang menyempurnakan arah bisnisnya. Dukungan berkelanjutan tersebut turut memperkuat hubungan pelaku teknologi, korporasi, pemerintah, dan komunitas, sehingga ekosistem lokal memiliki daya tahan lebih baik untuk berkembang dalam jangka panjang.

NextDev ke-12 menempatkan integrasi kapabilitas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu fokus utama pengembangan technopreneur lokal. Arah ini menunjukkan bahwa perkembangan startup tidak hanya berkaitan dengan penciptaan gagasan baru, tetapi juga dengan kemampuan mengadaptasikan kapabilitas yang relevan ke dalam proses dan model bisnis. Melalui pendekatan tersebut, para technopreneur didorong untuk melihat AI sebagai bagian dari penguatan fondasi usaha, bukan sekadar unsur tambahan yang mengikuti tren teknologi.

Pengembangan ini berlangsung di tengah kondisi pendanaan startup yang semakin menantang. Dalam situasi tersebut, ketahanan bisnis menjadi perhatian penting bagi perusahaan rintisan, termasuk dalam menentukan arah pertumbuhan dan menjaga kesinambungan operasional. Integrasi AI diarahkan untuk membantu startup membangun kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi perubahan. Fokusnya tidak berhenti pada penggunaan teknologi, melainkan pada bagaimana kapabilitas tersebut dapat diselaraskan dengan kebutuhan dan karakter bisnis masing-masing technopreneur.

Dengan demikian, NextDev ke-12 berupaya memperkuat dasar yang diperlukan agar startup mampu bertahan dan tetap relevan di tengah dinamika pasar. Relevansi tersebut memerlukan kemampuan untuk memahami perubahan, menyesuaikan pendekatan, serta mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Pendekatan terhadap AI yang diperkenalkan melalui program ini menjadi bagian dari upaya mendorong technopreneur lokal agar lebih siap menghadapi tuntutan bisnis yang terus bergerak. Penguatan fondasi tersebut diharapkan dapat mendukung startup dalam mempertahankan arah pengembangan, meningkatkan kesiapan menghadapi ketidakpastian, dan menjaga hubungan yang selaras dengan kebutuhan pasar.

Telkomsel menegaskan komitmennya untuk tetap menyelenggarakan NextDev sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem startup nasional. Penegasan tersebut disampaikan General Manager Corporate Social Responsibility (CSR) Telkomsel, Andry P Santoso, saat sesi interview dalam kick-off NextDev ke-12 di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.

Menurut Andry, keputusan mempertahankan program ini tidak terlepas dari kondisi industri teknologi yang sedang menghadapi tech winter. Situasi tersebut ditandai oleh penurunan pendanaan, kehati-hatian investor, serta efisiensi yang dilakukan oleh banyak perusahaan rintisan. Dalam kondisi yang penuh tekanan, startup tidak hanya membutuhkan akses modal, tetapi juga fondasi bisnis yang lebih kuat agar mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

Ia menyampaikan bahwa ketika industri teknologi menghadapi tech winter dan banyak perusahaan melakukan efisiensi, Telkomsel justru memilih untuk memperkuat fondasi para pendiri startup. Penguatan itu menjadi alasan penting bagi perusahaan untuk terus menghadirkan NextDev, bukan menghentikannya ketika dukungan terhadap startup sedang menghadapi tantangan.

Fokus pada fondasi pendiri menunjukkan bahwa pengembangan startup tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan cepat atau besarnya investasi yang berhasil dihimpun. Ketahanan model bisnis, kemampuan membaca kebutuhan pasar, kedisiplinan dalam mengelola sumber daya, serta kesiapan membangun solusi yang relevan menjadi aspek yang semakin penting dalam situasi saat ini. Melalui NextDev, Telkomsel mempertahankan ruang bagi para pendiri untuk memperkuat aspek-aspek tersebut.

Pernyataan Andry juga menempatkan NextDev sebagai upaya jangka panjang dalam membangun kualitas ekosistem, terutama ketika kondisi pendanaan belum kembali seperti sebelumnya. Dengan mempertahankan penyelenggaraan program, Telkomsel menunjukkan bahwa dukungan terhadap inovasi dan pengembangan startup tetap diperlukan, bahkan pada masa ketika industri sedang melakukan penyesuaian. Penjelasan tersebut menjadi konteks utama pelaksanaan NextDev ke-12, tanpa menambahkan pernyataan lain di luar informasi yang disampaikan dalam sesi interview tersebut.