BATAM, KEPULAUAN RIAU — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan dukungannya terhadap pemanfaatan teknologi seawater reverse osmosis (SWRO) untuk memenuhi kebutuhan air industri pusat data di Batam, Kepulauan Riau. Teknologi ini dinilai dapat menjadi salah satu pilihan penting di tengah meningkatnya kebutuhan air seiring dengan rencana dan perkembangan investasi pusat data di kawasan tersebut. Dengan mengolah air laut menjadi air yang dapat digunakan sesuai kebutuhan industri, SWRO berpotensi membantu menyediakan pasokan secara lebih terencana tanpa sepenuhnya bergantung pada sumber air tawar daratan.
Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan investasi, tetapi juga dengan upaya menjaga keseimbangan pertumbuhan industri dan pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Batam merupakan wilayah strategis dengan aktivitas ekonomi yang terus berkembang, sehingga pengelolaan sumber daya air perlu dilakukan secara hati-hati. Kehadiran pusat data dapat memberikan dampak ekonomi dan mendorong investasi baru, namun kebutuhan infrastrukturnya harus dipersiapkan sejak awal agar tidak menimbulkan tekanan terhadap layanan dasar yang digunakan warga.
Iftitah menegaskan bahwa kebutuhan air untuk pusat data harus dipersiapkan dengan baik, termasuk melalui penggunaan teknologi SWRO. Menurut dia, langkah tersebut diperlukan agar pembangunan dan investasi dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap masyarakat. “Kebutuhan air pusat data harus dipersiapkan secara baik, termasuk melalui teknologi SWRO,” ujar Iftitah. Pernyataan itu menunjukkan bahwa penyediaan air perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam perencanaan kawasan industri, bukan sekadar kebutuhan tambahan setelah pusat data beroperasi. Perencanaan terpadu diharapkan dapat memastikan ketersediaan air bagi kegiatan industri sekaligus mempertahankan akses masyarakat terhadap sumber daya tersebut.
Penggunaan teknologi seawater reverse osmosis (SWRO) dipandang sebagai salah satu solusi untuk menjawab kebutuhan air industri pusat data di Batam. Sistem ini mengolah air laut melalui proses penyaringan dan pemisahan garam, sehingga menghasilkan air tawar yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan operasional fasilitas digital. Pendekatan tersebut penting karena pusat data memerlukan pasokan air yang stabil, terutama untuk sistem pendinginan dan kegiatan penunjang lainnya.
Pemanfaatan air laut juga membantu mencegah bertambahnya tekanan terhadap sumber air baku yang selama ini memasok kebutuhan masyarakat. Pasokan air publik di Batam berasal dari waduk, sehingga pemisahan sumber air untuk industri dan kebutuhan rumah tangga menjadi pertimbangan strategis. Dengan membangun fasilitas SWRO, pelaku industri dapat memenuhi kebutuhan operasionalnya tanpa mengurangi ketersediaan air waduk bagi penduduk.
Atas dasar itu, Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong pelaku industri pusat data untuk membangun fasilitas SWRO secara mandiri. Rencana tersebut mencakup pengembangan fasilitas pengolahan air laut di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan kawasan industri Kabil. Penyediaan infrastruktur air secara langsung oleh pelaku usaha diharapkan membuat ekspansi pusat data berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Data BP Batam pada September 2026 mencatat terdapat 10 rencana pengembangan pusat data di Batam, dengan satu fasilitas telah beroperasi. Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, kapasitas produksi air tambahan pada tahap awal diproyeksikan mencapai sekitar 750 liter per detik dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Pada tahap berikutnya, kapasitas itu direncanakan meningkat menjadi sekitar 1.000 liter per detik.
Besaran kapasitas tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri pusat data yang terus berkembang, bukan untuk mengambil alih pasokan air masyarakat. Melalui pengembangan SWRO di lokasi industri, pertumbuhan ekonomi digital dapat didukung dengan sumber air alternatif, sementara air waduk tetap diprioritaskan bagi kebutuhan publik.
Kesiapan Batam untuk menopang pertumbuhan pusat data tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan air laut dan teknologi pengolahannya. Pasokan listrik yang stabil, kapasitas jaringan, serta infrastruktur penunjang juga menjadi faktor penting. Pusat data beroperasi sepanjang waktu dengan kebutuhan energi yang besar dan sensitif terhadap gangguan. Karena itu, peningkatan jumlah fasilitas harus diikuti perencanaan energi yang terukur, termasuk penyediaan pembangkit, jaringan transmisi, gardu, dan sistem cadangan.
Peran koordinasi menjadi semakin penting ketika kebutuhan industri berkembang secara bersamaan. Iftitah mendukung penguatan kerja sama pemerintah, BP Batam, penyedia energi, dan pelaku usaha untuk memastikan seluruh kebutuhan tersebut dapat dipetakan dan dipenuhi secara bertahap. Koordinasi itu mencakup penyelarasan rencana investasi, kepastian pasokan listrik, kesiapan lahan, perizinan, serta pembangunan jaringan yang mampu melayani kawasan pusat data. Dengan pendekatan terpadu, keputusan pengembangan dapat disusun berdasarkan kebutuhan aktual dan proyeksi pertumbuhan.
Pemetaan BP Batam pada September 2026 menunjukkan skala ekspansi yang perlu diperhitungkan sejak awal. Data tersebut mencatat kapasitas pusat data yang telah beroperasi, komitmen investasi yang telah disampaikan, serta rencana pengembangan secara keseluruhan yang mencapai 1,47 gigawatt kapasitas teknologi informasi. Angka ini menggambarkan potensi pertumbuhan yang besar sekaligus menegaskan bahwa kebutuhan energi tidak dapat dipandang sebagai isu tambahan setelah pembangunan fasilitas dimulai.
Setiap kenaikan kapasitas teknologi informasi akan meningkatkan tuntutan terhadap keandalan pasokan listrik dan efisiensi sistem pendukung. Infrastruktur energi harus mampu menyediakan daya yang konsisten, menangani beban puncak, serta memiliki mekanisme pemulihan ketika terjadi gangguan. Pada saat yang sama, pengembangan perlu memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan kesiapan utilitas lain, seperti konektivitas telekomunikasi serta sistem pendinginan. Penguatan koordinasi antarpihak menjadi dasar agar ekspansi pusat data di Batam berlangsung terencana, kompetitif, dan selaras dengan kemampuan infrastruktur wilayah.
Menurut Iftitah, posisi geografis Batam menjadi salah satu modal utama untuk mengembangkan kota ini sebagai pusat data berskala global. Kedekatannya dengan Singapura dan jalur perdagangan internasional, didukung ketersediaan kawasan industri serta konektivitas yang terus diperkuat, membuka peluang bagi masuknya investasi lanjutan di sektor ekonomi digital. Perkembangan kecerdasan buatan juga meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi berkapasitas besar, aman, dan efisien. Kondisi tersebut menempatkan Batam pada posisi strategis untuk menarik perusahaan teknologi, penyedia layanan komputasi awan, serta industri pendukung lainnya.
Peluang itu perlu diiringi ekosistem yang andal. Ketersediaan listrik, air, jaringan telekomunikasi, keamanan siber, dan layanan operasional harus dibangun secara terpadu agar kegiatan pusat data dapat berlangsung berkesinambungan. Kepastian layanan investasi juga penting, termasuk kejelasan perizinan, koordinasi antarlembaga, serta jaminan bahwa kebutuhan investor dapat ditangani secara cepat dan transparan. Tanpa kepastian tersebut, keunggulan geografis Batam belum tentu mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pada Mei 2026, investasi pusat data berbasis kecerdasan buatan di kawasan Nongsa disebut mencapai 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp88 triliun. Pengembangan yang mencakup area sekitar 30 hektare itu dikawal oleh BP Batam. Proyek tersebut mencerminkan besarnya kepercayaan terhadap potensi Batam sekaligus memperlihatkan skala kebutuhan infrastruktur digital yang akan terus meningkat. Namun, manfaat investasi tidak cukup diukur dari nilai modal yang masuk atau kapasitas fasilitas yang dibangun.
Kesiapan tenaga kerja harus menjadi bagian penting dari perencanaan. Masyarakat setempat, terutama generasi muda, memerlukan akses terhadap pelatihan teknologi informasi, pengelolaan fasilitas, keamanan digital, dan keterampilan teknis yang relevan. Kementerian Transmigrasi berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas masyarakat agar mereka mampu mengambil peran dalam rantai nilai industri tersebut. Pengembangan investasi di Batam pada akhirnya perlu menghasilkan lapangan kerja, meningkatkan keterampilan, dan mendorong pertumbuhan pendapatan masyarakat setempat, sehingga transformasi digital memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan.







